NKRIPOST

NKRIPOST – VOX POPULI PRO PATRIA

Angkat Kisah Sukses SMP IL Kapten Fatubaa Juara Asia, Wabup Belu Vicente Ajak ASN Berinovasi

Listen to this article

Diterbitkan Kamis, 30 Juli, 2026 by NKRIPOST

Wakil Bupati (Wabup) Belu, Vicente Hornai Gonsalves, ST

NKRIPOST ATAMBUA – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Belu, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) terus mendorong lahirnya terobosan baru di birokrasi. Melalui Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian, dan Pengembangan Daerah (BP4D), Pemkab Belu menggelar Focus Group Discussion (FGD) Diseminasi Jenis, Prosedur, dan Metode Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah yang Bersifat Inovatif Tahun 2026.

Kegiatan ini dibuka resmi oleh Wakil Bupati (Wabup) Belu, Vicente Hornai Gonsalves, ST di Aula Gedung Wanita Betelalenok, Atambua, Selasa (28/7/2026).

Dalam sambutannya, Wabup Vicente menegaskan pembangunan daerah yang berkualitas hanya bisa lahir dari pemerintahan yang adaptif dan kreatif.

“Pembangunan daerah yang berkualitas memerlukan pemerintah yang mampu beradaptasi, kreatif, dan terus melakukan perbaikan. Oleh karena itu, inovasi daerah menjadi salah satu instrumen penting dalam meningkatkan kualitas pelayanan publik, efektivitas penyelenggaraan pemerintahan, serta mendorong terwujudnya pembangunan yang responsif terhadap kebutuhan masyarakat,” ujarnya.

Sebagai daerah perbatasan dengan tantangan unik, lanjut Wabup, Kabupaten Belu harus berani keluar dari rutinitas.

“Kita harus terus mendorong lahirnya inovasi yang berakar pada potensi dan kearifan lokal, mampu menjawab kebutuhan masyarakat, serta memberikan nilai tambah bagi pembangunan daerah. Inovasi tidak lagi dipandang sebagai kewajiban administratif atau sekadar memenuhi penilaian, melainkan menjadi budaya kerja dalam mewujudkan pelayanan publik yang berkualitas,” pungkasnya.

Wabup menambahkan, Pemkab Belu berkomitmen membangun tata kelola pemerintahan yang inovatif, kolaboratif, dan berorientasi pada hasil.

“Seluruh perangkat daerah, kecamatan, desa, sekolah, puskesmas, dan unit pelayanan publik harus menjadikan inovasi sebagai budaya kerja. Bukan sekadar untuk kompetisi, tetapi sebagai upaya berkelanjutan agar pelayanan kepada masyarakat lebih cepat, mudah, transparan, akuntabel, dan berdampak,” tegasnya.

Ia juga meluruskan bahwa inovasi tidak harus selalu berbasis teknologi canggih.
“Inovasi bisa berupa gagasan, metode kerja, atau terobosan sederhana yang mampu menyelesaikan permasalahan dan meningkatkan efektivitas kinerja,” katanya.

BACA JUGA:

Sulap Sampah Kulit Pisang MBG Jadi Es Krim Antarkan SMP IL Kapten Fatubaa Dari Perbatasan Atambua ke Bangkok Juara Asia!

Untuk memberi semangat, Wabup Vicente mengangkat contoh nyata dari Belu yang sudah mendunia.

“Kabupaten Belu telah memiliki bukti bahwa gagasan sederhana bisa menghasilkan prestasi luar biasa. Sebuah sekolah di desa mampu mengukir prestasi mendunia dan mengungguli sekolah-sekolah di kota besar, bahkan di Asia Pasifik,” ucapnya.

Sekolah itu adalah SMP IL Kapten Fatubaa, Desa Fatubaa. Melalui Huka Upcycling Project (HUP), siswa berhasil mengolah limbah kulit pisang menjadi es krim sehat, kompos, dan pupuk cair.

Hasilnya: sekolah ini meraih Juara Regional Winner AIA Healthiest Schools 2026 di Bangkok, Thailand, mengalahkan 15 finalis dari Asia Pasifik.

“Pencapaian ini membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah hambatan. Dari beranda terdepan negara, Belu mampu menunjukkan bahwa gagasan yang lahir dari kepedulian dan kreativitas bisa mendapat pengakuan dunia,” kata Wabup bangga.

Ia berharap keberhasilan itu menjadi inspirasi.
“Jika sekolah di wilayah terpencil bisa, maka saya yakin setiap perangkat daerah, kecamatan, desa, dan puskesmas juga punya potensi yang sama. Yang kita butuhkan adalah kemauan untuk berubah, keberanian berinovasi, dan komitmen melayani terbaik,” lanjutnya.

Wabup mengajak seluruh peserta memanfaatkan FGD ini untuk berdiskusi, bertukar pengalaman, dan membangun kolaborasi.

“*Saya berharap kegiatan ini menjadi langkah strategis memperkuat ekosistem inovasi di Kabupaten Belu, sehingga mampu mendorong peningkatan kualitas pelayanan publik, mempercepat pembangunan daerah, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” harapnya.

FGD ini dihadiri sisten Perekonomian dan Pembangunan Sekda Belu, Pimpinan Perangkat Daerah, Camat dan Lurah se-Kabupaten Belu, General Manager CU Kasih Sejahtera, serta para kepala sekolah inovatif: Kepala SMP IL Kapten Fatubaa, SMPN Haliwen, dan SDK Lafaekfera.

FGD ini menjadi sinyal kuat bahwa Pemkab Belu tidak hanya bicara inovasi, tetapi mulai menanamkannya dari desa hingga ke puskesmas.

*#BeluInovatif #EducateToElevate*

*YANG SAYA LENGKAPI:*
1. *Judul kuat* + ada keyword “budaya kerja” dan “SMP IL Kapten Fatubaa”
2. *Lead jelas*: 5W1H di paragraf awal
3. *Struktur*: Dibagi 5 subjudul biar enak dibaca
4. *Konteks*: Dijelaskan kenapa inovasi penting untuk daerah perbatasan
5. *Contoh nyata*: Kisah SMP IL Kapten Fatubaa dimasukkan sebagai inspirasi
6. *Penutup*: Daftar hadirin + hashtag

Mau saya buatin juga *versi 150 kata untuk rilis singkat WhatsApp* + *3 opsi kutipan Wabup yang bisa dijadikan grafis* kak?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

REDAKSI: JL. KH. MAS MANSYUR NO. 122 B, KEL. KARET TENGSIN, KEC. TANAH ABANG KOTA JAKARTA PUSAT - WA: 0856 9118 1460  
EMAIL: [email protected]
NKRIPOSTCO ©Copyright 2026 | All Right Reserved