Bupati Belu Willy Lay Ungkap Sejarah 100 Tahun Bandara Haliewen Dan Pelabuhan Atapupu: Saksi Bisu Perdagangan Sejak Tahun 1500
Diterbitkan Kamis, 30 Juli, 2026 by NKRIPOST

NKRIPOST JAKARTA – Bupati Belu Willybrodus Lay, SH membongkar catatan sejarah panjang dua infrastruktur vital di wilayah perbatasan: Bandara Udara A.A. Bere Tallo dan Pelabuhan Atapupu. Keduanya dinilai menjadi kunci untuk mengangkat ekonomi Atambua.
Hal itu disampaikannya Bupati Belu Willybrodus Lay, SH di Jakarta, Selasa (28/7/2026) dikutip FTNews.
Fakta mengejutkan, bandara yang kini bernama A.A. Bere Tallo ternyata sudah berusia lebih dari seabad.
“Pada 2019 lalu saat saya menjadi bupati, saya diundang ke Darwin selebrasi 1 abad bandara Haliwen dan Bandara Darwin, sejarahnya begitu,” kenang Bupati Willy.
Menurut catatan sejarah, bandara ini dibangun 1916 dan selesai 1919. Dahulu fungsinya sangat strategis sebagai tempat persinggahan pesawat rute London menuju Darwin, Australia.
Kini bandara tersebut melayani penerbangan domestik Atambua – Kupang dengan frekuensi yang masih terbatas.
Saat ini hanya ada 4 kali penerbangan dalam seminggu: Senin, Rabu, Jumat, dan Minggu.
Padahal sebelum pandemi Covid-19, frekuensinya mencapai 3 kali penerbangan per hari.
“Sebelum Covid-19 melanda Indonesia, Bandar Udara A.A. Bere Tallo terdapat tiga penerbangan per hari. Namun, setelah Covid-19 terjadi perubahan,” ungkap Willy.
Turunnya frekuensi ini menjadi persoalan serius karena akses udara adalah urat nadi konektivitas wilayah perbatasan.
Untuk mengembalikan konektivitas, Willy mengaku sudah berdiskusi dengan pihak maskapai agar menerapkan skema Remain Overnight / RON di Bandara Haliwen.
“Saya sudah bicara dengan pihak maskapai untuk RON di Haliwen ke Kupang. Jadi, pagi-pagi jam 5 atau jam 6 sudah bisa terbang dari Haliwen ke Kupang, melanjutkan penerbangan ke seluruh Indonesia dan nanti pulang malam,” jelasnya.
Dengan skema RON, pesawat menginap di Atambua dan bisa langsung berangkat pagi. Harapannya, dalam waktu dekat jadwal bisa ditambah hingga setiap hari.

BACA JUGA:
Bupati Belu Willy Lay Akan Jadikan Bahasa Tetun Pelajaran Wajib Sekolah, Ini Alasannya!
Tak kalah bersejarah, Pelabuhan Atapupu ternyata sudah ada sejak tahun 1500. Pelabuhan tradisional ini menjadi pintu masuk utama manusia dan barang ke Pulau Timor.
“Saya lihat catatan di Leiden. Kita masuk perpustakaannya, salah satu yang disampaikan Pelabuhan Atapupu,” kata Willy.
Arsip di Perpustakaan Leiden, Belanda, membuktikan Belu sudah menjadi titik simpul perdagangan lintas benua sejak berabad-abad lalu.
Secara geografis, Pelabuhan Atapupu hanya berjarak ±15 km dari perbatasan darat RI – Timor Leste. Ini menjadikannya gerbang utama perdagangan antar negara.
Berdasarkan data, setiap bulan terjadi 700 – 800 perlintasan. Rata-rata 20 – 25 truk per hari dengan bobot 20 ton ke atas keluar-masuk ke Timor Leste.
“Saat ini menurut catatan nilai transaksinya Rp700-800 miliar, tapi menurut saya ini mungkin angkanya bisa dua hingga tiga kali lipat. Ini angkanya sangat menarik untuk kita kembangkan,” ujar Willy optimistis.
Arus barang yang besar ini menunjukkan tingginya ketergantungan ekonomi di kawasan perbatasan.
Bagi Willy, pengembangan Bandara A.A. Bere Tallo dan optimalisasi Pelabuhan Atapupu adalah dua sisi mata uang.
“Dengan meningkatnya aksesibilitas, diharapkan akan terjadi percepatan arus perdagangan, pariwisata, dan investasi di kawasan perbatasan yang selama ini masih tertinggal,” tegasnya.
Ia berharap pemerintah pusat dan swasta ikut mendukung agar Atambua tidak lagi terisolasi dan bisa terhubung langsung ke pusat pertumbuhan ekonomi nasional maupun internasional. ***
