Seniman Gelar Aksi di Balai Kota Dan DPRD DKI Jakarta, Tolak Komersialisasi TIM oleh Jakpro dan Serukan TRITURA
Diterbitkan Rabu, 12 Agustus, 2026 by NKRIPOST

NKRIPOST JAKARTA — Puluhan seniman, penggiat seni, mahasiswa, dan aktivis kebudayaan yang tergabung dalam Front Penggerak Seni Taman Ismail Marzuki (FPS-TIM) menggelar aksi damai serentak di depan Balai Kota DKI Jakarta dan Gedung DPRD DKI Jakarta, Selasa (12/8/2026).
Aksi ini merupakan bentuk protes terhadap praktik komersialisasi kawasan Taman Ismail Marzuki (TIM) yang dinilai telah mengikis nilai historis, edukatif, serta fungsi TIM sebagai ruang hidup kebudayaan di Ibu Kota.
Massa menyuarakan keprihatinan atas pengalihan fungsi dan tata kelola TIM kepada BUMD PT Jakarta Propertindo (Jakpro).
Penunjukan lembaga berorientasi profit untuk mengelola pusat kesenian dianggap mengancam keberlangsungan ekosistem seni independen. Sejumlah komunitas mengaku terbebani oleh skema tarif sewa ruang yang naik signifikan dan tidak berpihak pada pelaku seni.
“TIM didirikan oleh Ali Sadikin dan para maestro seni bukan sebagai komoditas bisnis, melainkan sebagai kawah candradimuka kebudayaan nasional. Menyerahkan pengelolaannya kepada BUMD berorientasi profit adalah bentuk pengkerdilan terhadap nilai kebudayaan itu sendiri,” tegas Mila Nabilah, Koordinator Aksi FPS-TIM di depan Balai Kota.

BACA JUGA:
TIM Telah Mati Seniman Segel Hotel Artotel di Taman Ismail Marzuki, Desak Audit Jakpro hingga Megawati Turun Tangan
Dalam aksi tersebut, FPS-TIM secara resmi menyampaikan Tiga Tuntutan Rakyat Seni (TRITURA FPS-TIM) kepada Penjabat Gubernur DKI Jakarta dan Pimpinan DPRD DKI Jakarta:
- TOLAK JAKPRO KELOLA & KOMERSIALISASI TIM
Menghentikan seluruh keterlibatan PT Jakarta Propertindo dalam tata kelola dan pengelolaan finansial kawasan TIM yang berorientasi pada profit semata. - KEMBALIKAN TATA KELOLA TIM KE TANGAN PUBLIK
Mengembalikan pengelolaan TIM kepada Dinas Kebudayaan DKI, UP PKJ-TIM, Dewan Kesenian Jakarta, bersama komunitas-komunitas seni secara demokratis, transparan, dan partisipatif. - KEMBALIKAN MARWAH TIM SEBAGAI PUSAT & LABORATORIUM SENI
Menjamin TIM kembali menjadi ruang terbuka, terjangkau, dan inklusif bagi proses kreatif, riset, penciptaan, serta inkubasi karya seni tanpa dibebani sewa komersial yang menjerat.
FPS-TIM mendesak DPRD DKI Jakarta segera menggunakan fungsi pengawasan dan penganggaran untuk mengevaluasi Pergub dan regulasi yang menjadi dasar penunjukan Jakpro.
Selain itu, seniman meminta Pemprov DKI Jakarta mengembalikan anggaran pengelolaan TIM ke APBD Pemprov DKI melalui Dinas Kebudayaan, agar TIM dapat kembali diakses oleh seluruh lapisan masyarakat secara adil dan tidak diskriminatif.
Aksi berlangsung tertib dan diisi dengan orasi budaya, pembacaan puisi, pertunjukan teatrikal, serta nyanyian protes.
Massa kemudian menutup aksi dengan penyerahan berkas TRITURA FPS-TIM kepada perwakilan Pemprov DKI dan DPRD DKI Jakarta.
FPS-TIM menegaskan akan terus mengawal isu ini dan tidak menutup kemungkinan menggelar aksi lanjutan jika tuntutan tidak direspons.
“Taman Ismail Marzuki harus kembali menjadi rumah bagi semua seniman, bukan menjadi pusat perbelanjaan seni,” tutup Mila.
—
TENTANG FRONT PENGGERAK SENI TAMAN ISMAIL MARZUKI (FPS-TIM)
Front Penggerak Seni Taman Ismail Marzuki adalah simpul koalisi independen yang terdiri dari seniman, budayawan, sanggar seni, mahasiswa, serta komunitas masyarakat sipil yang peduli terhadap kelestarian ruang publik, ekosistem seni, dan kebudayaan di Taman Ismail Marzuki, Jakarta.***
