NKRIPOST

NKRIPOST – VOX POPULI PRO PATRIA

Keluarga Gustaf Nabuasa Desak Polres TTS Usut Dugaan Pembunuhan Berencana Sebut ‘Joker Merah’, Minta Pihak CV Diperiksa

Listen to this article

Diterbitkan Senin, 3 Agustus, 2026 by NKRIPOST

Polres Timor Tengah Selatan (TTS)

NKRIPOST SOE – Keluarga almarhum Gustaf Nabuasa, mantan anggota DPRD Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), mendesak Polres TTS mengusut kematian korban sebagai dugaan pembunuhan berencana. Desakan itu menguat setelah muncul sejumlah kejanggalan, termasuk dugaan ancaman sebelumnya dan keterlibatan pihak perusahaan tempat kejadian.

Permintaan ini disampaikan keluarga dalam berbagai kesempatan: saat pemeriksaan, rekonstruksi, hingga audiensi dengan jajaran Polres TTS.

1. Dugaan Ancaman “Joker Merah” dan Pertemuan Sebelum Kejadian
Menurut keluarga, ada beberapa peristiwa sebelum kematian Gustaf yang perlu didalami penyidik.

Hal utama adalah dugaan ancaman. Keluarga mengaku pernah mendengar ucapan, “kita harus kasih mati joker merah.” Istilah “joker merah” disebut merujuk kepada Gustaf Nabuasa dan Carles Nabuasa.

Atas informasi itu, Gustaf dan Carles sempat melaporkannya ke Polsek Amanuban Selatan. Namun keluarga menilai laporan tersebut saat itu hanya dianggap laporan biasa dan belum dianggap ancaman serius.

Selain itu, keluarga mendapat informasi dari saksi mengenai adanya pertemuan selama beberapa hari sebelum peristiwa. Saksi mengaku melihat sejumlah orang hadir, namun isi pembahasannya tidak diketahui. Bagi keluarga, ini petunjuk penting yang wajib didalami.

“Rangkaian peristiwa tersebut memperkuat keyakinan kami bahwa kematian Gustaf bukan sekadar akibat penganiayaan, melainkan diduga telah direncanakan,” ujar perwakilan keluarga.

BACA JUGA:

Misteri Kematian Gustaf Nabuasa Warga Desa Bena TTS, Diduga Pembunuhan Berencana 

2. Keluarga Minta Pihak CV Turut Diperiksa
Dalam konfrontasi di Polres TTS, Selasa (21/7/2026), keluarga melalui juru bicara Jublina Widiyanti Kase, SH, meminta penyidik menghadirkan pihak CV pelaksana proyek di Base Camp CSR, Desa Bena.

“Kami merasa pihak CV juga turut bertanggung jawab, harus diperiksa. Karena TKP itu merupakan wilayah di mana CV tersebut sedang mengerjakan proyek. Masih berada di dalam lingkungan proyek,” ujar Yanti Kase.

Ia menyebut Gustaf datang ke lokasi bukan hanya untuk menurunkan material. “Kakak ipar saya datang karena mendapat informasi langsung dari pihak CV, sehingga hadir saat itu,” katanya.

Keluarga meminta orang-orang dari CV yang berada di lokasi saat kejadian untuk diperiksa. “Orang yang mendengar dan melihat langsung peristiwa itu termasuk pihak CV,” tegasnya.

Keluarga berharap penyidikan dilakukan profesional dan transparan agar semua pihak yang terlibat dimintai pertanggungjawaban.

BACA JUGA:

Sehari Resmi Berkantor, Kapolres TTS Langsung Turun ke TKP Pembunuhan Gustaf Nabuasa dan Kerusuhan di Amanuban Selatan

3. Kapolres Baru Langsung Tinjau TKP, Sehari Usai Dilantik
Respons cepat datang dari pimpinan baru Polres TTS. Sehari usai dilantik, Kapolres TTS AKBP Kristiyan Beorbel Martino, S.H., S.I.K., M.M., CLEM langsung turun ke lapangan, Jumat (31/7/2026).

Pukul 16.02 WITA, Kapolres meninjau TKP penganiayaan di mess pekerja konstruksi cetak sawah, Base Camp CSR, Desa Bena. Ia memastikan proses penyelidikan, olah TKP, dan pengumpulan barang bukti berjalan sesuai prosedur.

Sebelumnya pukul 15.40 WITA, Kapolres juga mengecek kesiapan personel BKO di Gereja GMIT Son Tetus, dan pukul 17.03 WITA bertemu tokoh agama di Kantor Klasis Amanuban Selatan untuk menenangkan warga.

4. Buntut Kasus: Kerusuhan, 32 Rumah Rusak
Kematian Gustaf Nabuasa diduga menjadi pemicu aksi pengerusakan massal 4 hari kemudian.

Pada Minggu, 26/7/2026 sekitar pukul 16.00 WITA, sekelompok massa menggunakan motor, pick-up, dan dump truck menyerang permukiman di Desa Bena dan Desa Oebelo. Aparat menduga ini aksi balas dendam karena ketidakpuasan atas penanganan kasus.

Data kerusakan:
1. 32 unit rumah warga rusak – pintu, kaca, dinding, perabot
2. 1 tandon air 5.000 liter rusak
3. 6 kendaraan roda 4 rusak – pick-up, mobil pribadi, dump truck
4. 1 warga luka – Horiana Asbanu pingsan, dirawat di RS Pratama Kualin

Polres TTS mengerahkan tim gabungan: Intelkam, Identifikasi Satreskrim, Unit Buser, Satbinmas, Sat Samapta, Polsek Batu Putih & Kualin. Langkah: olah TKP, pengamanan, pendekatan humanis, dan patroli siber cegah hoaks. Hingga Senin (27/7/2026) puluhan personel masih disiagakan.

BACA JUGA:

Buntut Kematian Mantan Anggota DPRD TTS Gustaf Nabuasa: Massa Rusak Puluhan Rumah Warga, Ini Pesan Tegas Kapolres

5. Penyidik Masih Dalami Keterangan Saksi
Saat dikonfirmasi, Kasat Reskrim Polres TTS AKP I Wayan Pasek Sujana, S.H., M.H. mengatakan penyidik masih terus mengembangkan perkara dengan LP: LP/B/20/VI/2026/SPKT/Polsek Amanuban Selatan/Polres TTS/Polda NTT.

“Kami masih memperdalam keterangan para saksi, om,” tulisnya via WhatsApp, Kamis (30/7/2026).
“Kami terus melakukan/mengembangkan perkara ini,” tambahnya, Selasa (21/7/2026).

6. Harapan Keluarga
“Kami masih percaya kepada aparat penegak hukum dan berharap semua pihak yang terlibat dalam peristiwa meninggalnya almarhum Gustaf Nabuasa dimintai pertanggungjawaban sesuai aturan hukum yang berlaku di Indonesia,” tutup Yanti Kase.**

BACA JUGA:

Diduga Dipukul Pacar Pakai Kunci Roda, Perempuan Di TTS Lapor Ke Polisi: Beta Su Sonde Rasa Aman

Guru Honorer Di TTS Babak Belur Dianiaya Aparat Desa: Saya Dibanting ke Tanah, Dipukul, Diinjak, Dahi dan Kepala Dihantam Pakai Batu

Puluhan Rumah di Desa Bena Dan Oebelo TTS Dirusak Massa, Diduga Balas Dendam Kasus Kematian Gustaf Nabuasa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

REDAKSI: JL. KH. MAS MANSYUR NO. 122 B, KEL. KARET TENGSIN, KEC. TANAH ABANG KOTA JAKARTA PUSAT - WA: 0856 9118 1460  
EMAIL: [email protected]
NKRIPOSTCO ©Copyright 2026 | All Right Reserved