NKRIPOST

NKRIPOST – VOX POPULI PRO PATRIA

Dari Laweueng Menembus Dunia Akademik, Dr. Iswadi Memilih Menjadi Dosen dan Mengabdi Lewat Ilmu

Listen to this article

Diterbitkan Minggu, 30 Agustus, 2026 by NKRIPOST

Dr. Iswadi, S. Pd., M.Pd. (Dok. Pribadi)

NKRIPOST JAKARTA — Bukan dari kota besar. Bukan pula dari keluarga berada. Dari sebuah kampung di pesisir Pidie, Aceh, seorang anak daerah menapaki jalan panjang hingga berdiri di panggung akademik ibu kota. Ia adalah Dr. Iswadi, M.Pd., putra Desa Mesjid Laweueng, Kecamatan Muara Tiga, Kabupaten Pidie, yang memilih ilmu sebagai jalan hidup dan pendidikan sebagai bentuk pengabdian.

Bagi sebagian orang, sukses diukur dari harta, jabatan, atau sorotan publik. Tapi bagi Iswadi, sukses adalah ketika ilmunya bisa dipakai untuk membangun manusia lain.

“Saya percaya, keberhasilan sejati itu bukan apa yang kita kumpulkan untuk diri sendiri. Tapi berapa banyak manusia yang bisa tumbuh karena ilmu yang kita bagikan,” ujarnya.

Iswadi lahir di Laweueng pada 1 November 1979. Ia anak kelima dari sembilan bersaudara, putra dari Ibu Hamidah.

Laweueng adalah sekolah pertama baginya. Di kampung itulah ia belajar arti kerja keras, gotong royong, dan pentingnya pendidikan meski dengan segala keterbatasan.

Pendidikan dasar hingga SMA ia tempuh di tanah kelahirannya: SDN Muara Tiga, SMPN 1 Muara Tiga, dan SMAN Muara Tiga.

Bagi Iswadi, Laweueng bukan sekadar tempat lahir. Ia adalah kompas moral.
“Laweueng mengajari saya bahwa keterbatasan bukan penghalang. Ia justru bahan bakar untuk terus belajar,” katanya.

BACA JUGA:

Di Tengah Maraknya Kriminalisasi Guru, Dr. Iswadi Desak Presiden Terbitkan Keppres Hak Imunitas dan Standarisasi Gaji

Merantau Demi Ilmu: Dari Serambi Mekkah ke Jakarta
Selepas SMA, Iswadi merantau ke Banda Aceh. Ia mengambil S1 Pendidikan Biologi di Universitas Serambi Mekkah.

Gelar sarjana belum memuaskannya. Setahun kemudian ia mengikuti Kursus Perguruan Lepas Ijazah (KPLI) di Institut Perguruan Darul Aman, Malaysia. Pengalaman di negeri jiran itu membuka wawasannya tentang sistem pendidikan.

Kepulangan ke Aceh membawanya ke S2 Magister Administrasi Pendidikan Universitas Syiah Kuala. Ia lulus pada 2009.

Rasa haus ilmu belum padam. Tahun 2017, ia kembali merantau, kali ini ke Jakarta untuk menempuh S3 Program Studi Manajemen Pendidikan di Universitas Negeri Jakarta.

Pada 2020, setelah 3 tahun berjuang, ia resmi menyandang gelar Doktor. Dari Laweueng ke Jakarta, dari SD desa ke kampus negeri, perjalanan 21 tahun itu akhirnya tuntas.

BACA JUGA:

Suara Dr. Iswadi: Ketika Guru Sibuk Administrasi, Masa Depan Indonesia Emas Tergerus

Dari Ruang Kelas SMA ke Ruang Kuliah Magister
Sebelum menjadi dosen, Iswadi lebih dulu menjadi guru. 2004–2008, ia mengajar di 6 lembaga: Pesantren Oemar Dian Indrapuri, SMAN 5 Banda Aceh, SMAN 4 Banda Aceh, SMAN 10 Fajar Harapan, MAS Ruhul Islam Anak Bangsa, dan SMA Lab School Unsyiah.

“Menjadi guru mengajarkan saya satu hal: pendidikan itu tentang manusia, bukan hanya materi,” kenangnya.

Pengalaman itulah yang ia bawa ketika kini mengabdi sebagai Dosen Program Magister Pendidikan Dasar Universitas Esa Unggul Jakarta.

Di kampus, ia tidak hanya mengajar. Ia juga meneliti dan menulis. Bidang yang ia tekuni meliputi administrasi pendidikan, manajemen pendidikan, metodologi penelitian, hingga komunikasi digital.

BACA JUGA:

Dr. Iswadi: Guru Harus Jadi Inspirator, Bukan Sekadar Pengejar Target Ujian

Menulis Buku: “Gagasan Pendidikan: Membangun Peradaban Berintegritas
Selain mengajar, Iswadi aktif menulis. Salah satu karyanya yang paling menonjol adalah buku “Gagasan Pendidikan: Membangun Peradaban Berintegritas”.

Buku itu bukan hanya bicara kurikulum dan nilai. Isinya adalah refleksi tentang manusia.

“Pendidikan bukan hanya soal ijazah atau angka. Pendidikan adalah tentang bagaimana kita memanusiakan manusia. Tentang karakter, integritas, dan tanggung jawab,” tulisnya dalam buku tersebut.

Ia menegaskan, pendidikan adalah tanggung jawab bersama: keluarga menanamkan nilai, sekolah mengembangkan ilmu, masyarakat menguji di lapangan, dan negara menjamin keadilan akses.

“Ilmu tanpa integritas bisa kehilangan arah. Kecerdasan tanpa tanggung jawab bisa kehilangan makna,” tegasnya.

Iswadi menolak kampus jadi “menara gading”. Pada 2023, ia menjadi pembicara di International Lecture ASEAN Lecturer Community membahas tren politik dan pemilu 2024.

Baginya, seorang akademisi harus ikut membaca persoalan bangsa.
“Kampus harus hadir di tengah masyarakat. Ilmu harus bisa menjelaskan realitas dan memberi solusi,” ujarnya.

BACA JUGA:

Saatnya Memberi Ruang bagi Akademisi dalam Kabinet: Mengapa Dr. Iswadi Layak Dipertimbangkan?

Pesan untuk Anak Daerah: Laweueng Bukan Batas
Kisah Iswadi menjadi bukti bahwa tempat lahir bukan penentu masa depan.

“Laweueng adalah titik awal saya, bukan batas saya. Anak-anak daerah, jangan takut bermimpi besar. Sekolah, kuliah, dan kembalilah membangun,” pesannya.

Kini di usia 46 tahun, hari-hari Iswadi diisi membaca, mengajar mahasiswa S2, menulis, dan berdiskusi. Pekerjaan yang sunyi, tapi dampaknya panjang.

“Mungkin 10 tahun dari sekarang, ada mahasiswa saya yang jadi kepala sekolah, dosen, atau pemimpin. Di situlah saya merasa warisan saya hidup,” ucapnya.

Bagi Dr. Iswadi, warisan terbaik bukan rumah atau harta.
“Warisan terbaik adalah manusia-manusia baik yang lahir karena pendidikan yang kita perjuangkan,” tutupnya.**

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

REDAKSI: JL. KH. MAS MANSYUR NO. 122 B, KEL. KARET TENGSIN, KEC. TANAH ABANG KOTA JAKARTA PUSAT - WA: 0856 9118 1460  
EMAIL: [email protected]
NKRIPOSTCO ©Copyright 2026 | All Right Reserved