Polisi Bongkar Makam Siswi SD di Padang, Selidiki Dugaan Meninggal karena Perundungan
Diterbitkan Selasa, 4 Agustus, 2026 by NKRIPOST

NKRIPOST PADANG — Kisah pilu menyelimuti keluarga NA (10), siswi kelas 3 SDN 33 Rawang, Kota Padang. Di hari ulang tahunnya yang ke-10, Kamis (23/7/2026), NA menghembuskan napas terakhir di RS BMC Padang. Sebelumnya ia hanya punya satu permintaan: kue bolu cokelat.
“Saya bilang ke dia, cepat sembuh ya Nak. Besok ayah belikan,” kata ayah korban, Wahid Al Amin (41), Senin (27/7/2026). Janji itu tak pernah kesampaian.
Ekshumasi untuk Cari Kebenaran
Dugaan perundungan yang dilontarkan keluarga membuat polisi turun tangan. Senin (3/8/2026) sekitar pukul 09.24 WIB, Polresta Padang melakukan ekshumasi atau pembongkaran makam NA di TPU Tunggul Hitam.
Seluruh area makam disterilkan dan ditutup terpal hitam. Tim Dokter Kepolisian (Dokpol) dan ahli forensik melakukan autopsi ulang untuk memastikan penyebab kematian korban secara medis.
Keluarga korban hadir mengawal proses tersebut. Ekshumasi dilakukan menyusul perbedaan keterangan antara keluarga dan pihak sekolah.
Wahid menceritakan, Senin (20/7/2026) sekitar pukul 12.00 WIB ia menjemput NA dari sekolah. Sepulang sekolah, NA terlihat murung, meringkuk di kasur, dan seperti ketakutan. Saat ditanya, NA hanya menjawab “ngantuk”.
Malamnya, NA mengeluh sakit pinggang. Kondisi memburuk pada Rabu (22/7/2026). NA sudah tidak bisa berdiri, duduk, bahkan tidurnya susah karena demam tinggi.
Kamis (23/7/2026) sore, NA dibawa ke RS BMC Padang namun meninggal sebelum masuk IGD.
Sebelum meninggal, NA sempat bercerita kepada bibi-nya. “Dia jawab, didorong sama teman,” kata Wahid. NA juga sempat menyebut nama 2 orang yang diduga terlibat.
Wahid menduga ini bukan kali pertama. Ia menyebut sejak kelas 2 SD, NA pernah dimandikan pakai air galon di toilet dan ditendang.
“Saya cuma minta pertanggungjawaban dari pihak sekolah dan guru-guru. Kalau saya punya bukti, pasti saya akan tuntut dengan hukum,” ujar Wahid dengan mata berkaca.
BACA JUGA:
Pria di Padang Sumbar Tega Aniaya Anak Kandungnya, Begini Nasibnya!
Kepala SDN 33 Rawang, *Siptah Hayadi*, membantah keras tuduhan tersebut. Setelah mengumpulkan keterangan siswa sekelas dan wali kelas, pihak sekolah tidak menemukan bukti perundungan.
“Kami sudah telusuri ternyata tidak seperti yang disampaikan keluarga,” kata Siptah. Ia beralasan toilet siswa dekat ruang kelas dan dipisah antara laki-laki dan perempuan. Sekolah juga punya 6 titik CCTV, meski tidak mengarah ke toilet.
Siptah bahkan menyebut wali kelas NA sempat trauma dan sakit setelah membaca komentar ancaman di media sosial.
Senada, Dinas Pendidikan Kota Padang juga menyatakan belum menemukan indikasi bullying setelah klarifikasi ke guru.
“Kalau memang orang tua kurang puas, silakan lakukan laporan atau divisum anaknya, biar nanti kita tidak saling tuduh,” kata Kepala Disdik Padang.
Kini bola panas ada di tangan polisi. Hasil autopsi ulang dari tim forensik akan menjadi penentu apakah kematian NA terkait kekerasan fisik atau murni sakit.
Kasus ini memicu keprihatinan publik. Netizen ramai menyorot tagar #KeadilanUntukNA. Lembaga perlindungan anak Sumbar juga menyatakan siap mendampingi keluarga.
NA dimakamkan di TPU Tunggul Hitam pada Jumat (24/7/2026). Ia adalah anak ketiga dari 4 bersaudara. Sehari-hari NA dikenal ceria, suka joget dan main TikTok.***
