Jangan Asal Pakai AI! Dr. Iswadi Ungkap Cara Bijak Memanfaatkannya di Era Digital
Diterbitkan Minggu, 26 Juli, 2026 by NKRIPOST

NKRIPOST JAKARTA – Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) telah membawa perubahan besar dalam berbagai aspek kehidupan. Mulai dari dunia pendidikan, bisnis, pemerintahan, kesehatan, hingga industri kreatif, AI kini menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari aktivitas masyarakat. Namun, di balik berbagai kemudahan yang ditawarkan, penggunaan AI juga menuntut kebijaksanaan, etika, serta kemampuan berpikir kritis agar teknologi tersebut benar-benar memberikan manfaat.
Pakar pendidikan dan pengamat sosial, Dr. Iswadi, menegaskan bahwa masyarakat tidak boleh sekadar mengikuti tren penggunaan AI tanpa memahami fungsi, manfaat, maupun risiko yang menyertainya. Menurutnya, AI merupakan alat bantu yang sangat bermanfaat apabila digunakan secara tepat, tetapi dapat menimbulkan persoalan apabila dimanfaatkan tanpa tanggung jawab.
“AI adalah teknologi yang luar biasa. Namun, jangan sampai kita menjadi pengguna yang pasif dan menerima semua informasi yang dihasilkan AI begitu saja. Manusia tetap harus menjadi pengendali utama dalam setiap pengambilan keputusan, ujar Dr. Iswadi melalui keterangan tertulisnya yang diterima media ini, Minggu (26/7/2026).
Ia menjelaskan bahwa AI mampu membantu meningkatkan produktivitas, mempercepat proses analisis data, menyusun dokumen, menerjemahkan bahasa, menghasilkan ide kreatif, hingga mendukung proses pembelajaran. Berbagai profesi kini mulai memanfaatkan AI sebagai mitra kerja untuk menyelesaikan pekerjaan secara lebih efisien.
Meski demikian, Dr. Iswadi mengingatkan bahwa AI bukanlah sumber kebenaran mutlak. Sistem AI bekerja berdasarkan data dan pola yang dipelajarinya sehingga tetap memiliki keterbatasan. Karena itu, setiap informasi yang dihasilkan perlu diverifikasi kembali menggunakan sumber yang kredibel.
“Jangan langsung percaya terhadap setiap jawaban AI. Biasakan melakukan pengecekan ulang, terutama untuk informasi yang berkaitan dengan pendidikan, kesehatan, hukum, maupun kebijakan publik. Literasi digital menjadi kemampuan yang sangat penting di era sekarang,” katanya.
BACA JUGA:
Dr. Iswadi Prediksi Prabowo Akan Reshuffle Kabinet Merah Putih dalam Waktu Dekat, Ini Alasannya!
Menurut Dr. Iswadi, salah satu tantangan terbesar dalam perkembangan AI adalah meningkatnya risiko penyebaran informasi yang tidak akurat, manipulasi konten digital, hingga penyalahgunaan teknologi untuk kepentingan tertentu. Oleh sebab itu, masyarakat harus mampu membedakan antara informasi yang telah diverifikasi dan informasi yang hanya dihasilkan secara otomatis oleh mesin.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga keamanan data pribadi ketika menggunakan berbagai layanan berbasis AI. Pengguna sebaiknya tidak sembarangan memasukkan data yang bersifat rahasia, seperti identitas pribadi, informasi keuangan, dokumen penting, maupun data perusahaan ke dalam aplikasi AI tanpa memahami kebijakan perlindungan data yang berlaku.
“Kesadaran terhadap keamanan data harus menjadi budaya baru masyarakat digital. Kemudahan teknologi jangan sampai membuat kita lengah dalam melindungi informasi pribadi,”jelasnya.
Dalam dunia pendidikan, Dr. Iswadi melihat AI memiliki potensi besar untuk meningkatkan kualitas pembelajaran apabila dimanfaatkan secara benar. Guru dapat menggunakan AI sebagai media pendukung dalam menyusun materi ajar, membuat evaluasi pembelajaran, maupun mencari referensi tambahan. Sementara itu, mahasiswa dan pelajar dapat memanfaatkannya untuk memahami konsep-konsep yang sulit, mencari inspirasi penulisan, serta memperluas wawasan.
Namun, ia menegaskan bahwa AI tidak boleh dijadikan jalan pintas untuk mengerjakan tugas tanpa memahami materi. Proses belajar tetap harus mengedepankan kemampuan berpikir, menganalisis, berdiskusi, dan menyusun gagasan secara mandiri.
“AI seharusnya menjadi asisten belajar, bukan pengganti proses berpikir. Pendidikan bertujuan membentuk karakter, kreativitas, dan kemampuan memecahkan masalah, sesuatu yang tetap membutuhkan peran manusia,” tegasnya.
Di sektor dunia kerja, Dr. Iswadi menilai AI akan terus mengubah cara bekerja di berbagai bidang. Banyak pekerjaan yang sebelumnya dilakukan secara manual kini dapat diselesaikan lebih cepat dengan bantuan teknologi. Namun, kondisi tersebut bukan berarti AI akan sepenuhnya menggantikan manusia.
Menurutnya, justru kemampuan yang bersifat khas manusia, seperti kepemimpinan, komunikasi, empati, kreativitas, kolaborasi, serta pengambilan keputusan yang mempertimbangkan nilai-nilai etika, akan semakin dibutuhkan di masa depan.
“Persaingan bukan lagi antara manusia dan AI, melainkan antara mereka yang mampu memanfaatkan AI secara efektif dengan mereka yang tidak mau beradaptasi. Karena itu, peningkatan kompetensi digital harus menjadi prioritas,” ujarnya.
Dr. Iswadi juga mengajak pemerintah, institusi pendidikan, dunia usaha, dan masyarakat untuk bersama-sama membangun budaya penggunaan AI yang bertanggung jawab. Menurutnya, kolaborasi seluruh pemangku kepentingan sangat diperlukan agar perkembangan teknologi mampu memberikan dampak positif bagi pembangunan nasional.
Ia menilai penguatan literasi digital harus dilakukan secara berkelanjutan melalui pelatihan, seminar, workshop, maupun program edukasi yang menjangkau seluruh lapisan masyarakat. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu memahami prinsip kerja, etika, serta konsekuensi dari penggunaan AI.
Selain itu, Dr. Iswadi mendorong lahirnya regulasi yang adaptif terhadap perkembangan teknologi agar inovasi tetap dapat berkembang tanpa mengabaikan aspek perlindungan masyarakat. Regulasi tersebut diharapkan mampu menciptakan keseimbangan antara pemanfaatan AI untuk kemajuan ekonomi dan perlindungan terhadap hak hak pengguna.
“Teknologi akan terus berkembang, tetapi nilai nilai kemanusiaan tidak boleh ditinggalkan. AI harus menjadi alat yang membantu meningkatkan kualitas hidup, memperluas akses terhadap pengetahuan, dan mempercepat inovasi, bukan justru menimbulkan ketergantungan atau mengurangi kemampuan berpikir manusia,” ungkapnya.
Menutup pernyataannya, Dr. Iswadi mengajak seluruh masyarakat untuk memandang AI sebagai mitra dalam berkarya dan berinovasi, bukan sebagai pengganti kemampuan manusia. Dengan memanfaatkan AI secara bijak, kritis, bertanggung jawab, dan beretika, masyarakat dapat memperoleh manfaat maksimal dari kemajuan teknologi sekaligus meminimalkan berbagai risiko yang mungkin muncul.
“Gunakan AI untuk belajar lebih banyak, bekerja lebih cerdas, dan berinovasi lebih luas. Namun, tetap utamakan akal sehat, integritas, dan nilai nilai kemanusiaan dalam setiap pemanfaatannya. Masa depan digital akan menjadi lebih baik apabila manusia tetap memegang kendali atas teknologi yang diciptakannya,” pungkas Dr. Iswadi.***
