Dikritik Pengamat: Kabinet Bayangan Tak Akan Bergerak Tanpa Cahaya, Ganti Saja Jadi Kabinet Tandingan
Diterbitkan Jumat, 31 Juli, 2026 by NKRIPOST

NKRIPOST JAKARTA – Pengamat politik Hendri Satrio / Hensa melontarkan kritik terhadap pembentukan Kabinet Bayangan yang digagas sejumlah akademisi dan aktivis masyarakat sipil.
Menurutnya, penggunaan istilah “bayangan” justru melemahkan posisi kelompok itu sebagai penyeimbang pemerintah karena secara konsep bayangan tidak bisa bergerak tanpa objek dan sumber cahaya.
Kritik itu disampaikan Hensa melalui akun X pribadinya, Kamis 30 Juli 2026.
“Kabinet Bayangan? Bayangan butuh cahaya, kalau enggak ada cahaya, enggak ada bayangan. Dan kalau tuannya enggak bergerak, mana bisa bayangan bergerak. Masukan nih, boleh kan? #Hensa,” tulis Founder Lembaga Survei KedaiKOPI itu.
Hensa menjelaskan, dalam sistem demokrasi konsep _shadow cabinet_ memang lazim diterapkan partai oposisi sebagai mekanisme pengawasan terhadap pemerintah.
Namun ia menilai penggunaan istilah tersebut oleh kelompok masyarakat sipil di Indonesia justru berpotensi menjadi kelemahan secara simbolik.
“Pada prinsipnya, saya melihat Kabinet Bayangan ini justru secara tidak langsung mengakui bahwa mereka tidak punya agenda sendiri. Mereka seolah memposisikan diri hanya untuk bereaksi terhadap kebijakan penguasa,” katanya.
Ia melanjutkan, apabila pemerintah tidak mengeluarkan kebijakan baru, maka kelompok tersebut juga akan kehilangan ruang gerak.
“Kalau pemerintah diam, ya bayangannya ikut diam. Ini kan repot kalau niatnya mau menjadi kelompok penekan atau alternatif kebijakan bagi masyarakat.”
Karena itu, Hensa menyarankan agar kelompok tersebut menggunakan nama yang lebih mencerminkan keberanian menawarkan solusi.
“Mestinya jika ingin membentuk kabinet tandingan, namanya Kabinet Tandingan saja. Kata ‘tandingan’ itu punya daya dobrak. Ada gagasan yang diadu, ada keberanian untuk berdiri sejajar menawarkan solusi.”
Menurutnya, istilah Kabinet Tandingan lebih menunjukkan posisi independen dibanding sekadar menjadi “bayangan” pemerintah.
“Ini kalau Kabinet Bayangan, jelas banget ada tuannya. Dari mana sebuah bayangan bisa berinisiatif bergerak kalau tidak ada cahayanya?” kritiknya.
BACA JUGA:
Muncul Kabinet Bayangan, Ini Kata Wapres Gibran
JADILAH SUMBER CAHAYA
Lebih jauh, Hensa mengingatkan kelompok masyarakat sipil akan lebih dipercaya publik apabila konsisten menawarkan gagasan baru, bukan hanya merespons kebijakan pemerintah.
“Bayangan itu enggak abadi. Begitu cahayanya pindah atau meredup, bayangannya hilang. Makanya kalau mau punya nama besar dan dipercaya publik, jangan cuma jadi bayangan, jadilah sumber cahaya itu sendiri,” pungkas Hensa.
Pembentukan Kabinet Bayangan belakangan menjadi perhatian publik setelah sejumlah akademisi, aktivis, dan tokoh masyarakat sipil memperkenalkan forum yang bertujuan mengawal jalannya pemerintahan melalui kritik, evaluasi, serta penyampaian alternatif kebijakan di berbagai sektor.***Fajar
