Razia Buntu, Informasi Bocor: Prostitusi Terselubung di Belu Sulit Diberantas
Diterbitkan Jumat, 31 Juli, 2026 by NKRIPOST

NKRIPOST ATAMBUA – Kabupaten Belu, wilayah perbatasan RI – Timor Leste, terindikasi menjadi daerah transit praktik prostitusi terselubung. Transaksi seksual antara pria dengan Pekerja Seks Komersial / PSK diduga berlangsung di sejumlah hotel, homestay, rumah kos, hingga rumah penduduk di Kota Atambua.
Pengungkapan ini disampaikan *Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS / KPA Kabupaten Belu, Yoseph Siri dikutip RRI Atambua, Kamis 30 Juli 2026.
Menurut Yoseph, praktik ini tidak dilakukan secara terang-terangan. Pelanggan dan PSK biasanya saling menghubungi terlebih dahulu, lalu menentukan titik pertemuan di penginapan.
“Kita tidak bisa menutupi indikasi prostitusi terselubung. Biasanya saling kontak, kemudian menentukan lokasi di penginapan,” kata Yoseph.
Ia menyebut ada perantara atau mucikari yang berperan mengatur semuanya. Mulai dari menyediakan perempuan, mengatur jadwal, hingga menentukan lokasi. Perantara ini disebut mendapat bayaran tertentu dari hasil transaksi.
“Kadang-kadang ada perantara yang mengatur semuanya. Mereka memperoleh bayaran tertentu karena menyediakan wanita penghibur untuk dikencani,” ujarnya.
PELAKU DIDUGA DARI LUAR DAERAH
Yang memprihatinkan, Yoseph menyebut perempuan yang terlibat tidak hanya berasal dari Belu.
“Perempuan itu tidak hanya dari Belu. Ada juga yang diduga datang dari Kota Kupang maupun beberapa daerah di Pulau Jawa,” jelasnya.
Kondisi ini diperparah dengan posisi Belu sebagai pintu masuk perbatasan. Banyak orang dari Timor Leste dan dari dalam negeri bertemu di Atambua.
“Kita ini daerah transit orang dan barang. Orang dari Timor Leste biasanya saling kontak dengan orang di Kupang, lalu bertemu di Atambua. Apakah yang datang dari Kupang bersih atau dari Timor Leste, kita belum tahu. Ini yang harus dicegah,” tegasnya.
KPA Belu menyoroti dampak kesehatan dari praktik ini. Tanpa pengawasan, prostitusi terselubung berpotensi meningkatkan penularan Infeksi Menular Seksual / IMS dan HIV/AIDS.
Yoseph menyebut persoalan ini sudah beberapa kali dibahas dalam forum koordinasi lintas instansi. Namun upaya pencegahan masih terkendala.
BACA JUGA:
Lima Pelaku Prostitusi Online di Atambua Ditangkap Polres Belu, Tarifnya PSK Ini Mencengangkan
Pemerintah Kabupaten Belu melalui Dinas Pariwisata, Satpol PP, dan Kepolisian disebut telah beberapa kali melakukan razia di penginapan yang dicurigai.
Namun hasilnya nihil.
“Razia sering tidak menemukan apa-apa karena informasi operasi diduga lebih dulu bocor ke pihak terkait. Jadi saat diperiksa, tidak ada aktivitas asusila,” ungkap Yoseph.
KPA Belu mendorong Pemda memperkuat 3 hal:
- Koordinasi lintas sektor yang lebih ketat antara Satpol PP, Polisi, Dinas Pariwisata, dan pengelola penginapan.
- Pengawasan rutin dan mendadak agar operasi tidak bocor.Edukasi dan sosialisasi ke masyarakat, pemilik kos, dan hotel tentang bahaya prostitusi serta pencegahan HIV/AIDS.
“Ini bukan hanya soal moral, tapi juga soal kesehatan masyarakat. Kalau dibiarkan, kita yang rugi. Apalagi Belu daerah perbatasan, mobilitasnya tinggi,” tutup Yoseph.***
