Prabowo Prabowo di Depan Kiai NU: Indonesia Akan Bangkit, Tak Ada yang Bisa Membendung
Diterbitkan Jumat, 28 Agustus, 2026 by NKRIPOST

NKRIPOST JOMBANG — Presiden Prabowo Subianto menghadiri sekaligus meresmikan pembukaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Lapangan Untung Surapati, Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, pada Kamis, 27 Agustus 2026.
Dalam forum ulama terbesar itu, Presiden memperkenalkan istilah baru “Jas Hijau” sebagai pengingat untuk bangsa agar tidak melupakan jasa para ulama dalam sejarah kemerdekaan.
Dalam sambutannya di hadapan ribuan kiai, nyai, dan santri, Presiden menyampaikan penghormatan mendalam kepada para ulama.
“Saya ingin menyampaikan penghormatan saya kepada para Kiai dan Ulama. Karena kemerdekaan bangsa Indonesia memang diproklamasikan di Jakarta. Tapi kemerdekaan bangsa Indonesia diuji di Surabaya. Dan dalam pertempuran Surabaya, Oktober, November 1945, peran dari Ulama, peran dari Kiai-Kiai, peran daripada pesantren sangat besar,” ujar Presiden.
Dari sejarah itu, Presiden mengadaptasi pesan Bung Karno.
“Kalau tidak salah Bung Karno mengatakan ‘Jas Merah’. Jangan sekali-kali melupakan sejarah. Saya ingin menyampaikan ‘Jas Hijau’. Jangan sekali-kali melupakan jasa ulama,” tegasnya.
Penghormatan itu, kata Presiden, tidak hanya untuk ulama besar yang namanya dikenal.
“Terima kasih kepada semua ulama. Yang terkenal maupun Kiai-Kiai kampung, yang mungkin namanya tidak pernah masuk televisi. Tapi setiap hari menjaga akhlak anak-anak kita, menjaga kerukunan umat, menjaga kedamaian di desa. Dan mendoakan bangsa tanpa meminta apapun kepada negara,” ucapnya.
Presiden Prabowo menegaskan NU adalah pilar penting dalam menjaga stabilitas dan masa depan bangsa.
“Nahdlatul Ulama hadir selalu dalam kejadian-kejadian bangsa ini. Dalam krisis-krisis bangsa ini Nahdlatul Ulama selalu hadir dan Nahdlatul Ulama yang menentukan stabilitas, keamanan, perdamaian, dan masa depan bangsa Indonesia,” ucapnya.
Ia juga menekankan pentingnya sinergi pemerintah dengan ormas Islam besar.
“Saya tidak ragu-ragu. Saya berpikir terus bagaimana saya membesarkan, memperkuat, memberdayakan Nahdlatul Ulama, pesantren-pesantren Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah,” tuturnya.
Di bidang pendidikan, Presiden mengumumkan komitmen pemerataan digital. “Tahun yang lalu semua sekolah negeri terima satu layar, satu ruang kelas. Tahun ini sekolah-sekolah negeri semuanya akan menerima tambahan tiga, tapi NU segera akan menerima langsung empat,” kata Presiden.
“Terima kasih Nahdlatul Ulama, terima kasih para kiai, terima kasih para ibu-ibu nyai, terima kasih para santri-santriwati. NU kuat artinya Indonesia kuat. Kalau NU rukun, Indonesia rukun. NU berhikmat, Indonesia bermartabat,” lanjut Kepala Negara.
BACA JUGA:
Percayalah Pemerintah Tidak Akan Membiarkan Saudara Sendiri: Pesan Prabowo di Tengah Pengungsi Nagekeo
Selain soal keulamaan, Presiden juga menyampaikan optimisme terhadap kebangkitan Indonesia.
“Kita sudah swasembada pangan, dan sebentar lagi kita akan swasembada energi. Insyaallah dalam waktu yang tidak lama, kita tidak perlu impor terlalu banyak BBM dari manapun,” katanya.
Presiden menyebut program strategis pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis* yang kini dinikmati lebih dari 62 juta penerima manfaat, dan pengoperasian puluhan ribu Koperasi Desa Merah Putih.
Ia juga menegaskan komitmen memberantas korupsi. “Dari penghematan-penghematan kita, sudah ratusan triliun yang bisa kita hemat, uang itulah yang kita gunakan untuk sebesar-besarnya membantu rakyat yang paling miskin, yang paling tidak berdaya,” tandasnya.
Menutup sambutan, Presiden menyampaikan keyakinannya.
“Percaya sama saya, beberapa tahun lagi Indonesia akan bangkit dengan luar biasa, dan tidak akan ada yang bisa bendung kita,” ujarnya.**
