Guntur Bisowarno: Di Balik Kisah Drupadi Tersimpan Pesan tentang Martabat Perempuan dan Kebangkitan dari Luka
Diterbitkan Senin, 10 Agustus, 2026 by NKRIPOST

NKRIPOST, JAWA TIMUR – Di tengah riuh budaya pop, budayawan dan pemerhati budaya Nusantara Guntur Bisowarno mengajak kita kembali menengok sosok Drupadi dalam Mahabharata dan tradisi pewayangan. Baginya, Drupadi bukan sekadar putri cantik dalam lakon. Ia adalah cermin perjalanan manusia: dari penderitaan menuju kesadaran.Pasuruan, Senin (10/08/2026).
Menurut Guntur, keistimewaan Drupadi tidak terletak pada paras atau statusnya sebagai putri Kerajaan Panchala.
“Keistimewaan Drupadi justru muncul setelah ia menikah. Di sanalah rangkaian ujian, simbol, dan pergulatan batin dimulai,” kata Guntur.
Kisah bermula dari sayembara memanah ikan. Drupadi “dimenangkan” Arjuna, namun akhirnya menjadi istri dari kelima Pandawa. Bagi Guntur, pernikahan itu bukan akhir bahagia. Justru itu pintu masuk menuju perjalanan hidup yang paling berat.
Dalam banyak lakon, Drupadi memiliki hubungan batin yang kuat dengan Kresna.
Guntur memaknai Kresna bukan hanya sebagai titisan Wisnu, tapi sebagai simbol guru kehidupan.
“Hubungan Drupadi dan Kresna mengajarkan kita pentingnya kehadiran sahabat dan pembimbing. Ketika manusia diuji, ia butuh suara yang mengingatkan pada nilai: kehormatan, keberanian, dan kesetiaan,” jelasnya.
Dari Kresna, Drupadi belajar bahwa martabat tidak boleh digadaikan.
Titik balik Drupadi ada pada peristiwa *permainan dadu di Hastinapura*. Kerajaan, harta, bahkan para Pandawa dipertaruhkan. Puncaknya, Drupadi sendiri yang “ditaruhkan”.
Di sinilah Drupadi melontarkan pertanyaan yang menurut Guntur paling menggugah hingga hari ini:
“Apakah aku sudah kalah sebelum dipertaruhkan?”
“Jika seseorang sudah kehilangan dirinya sendiri, apakah ia masih punya hak mempertaruhkan orang lain? Siapa yang berhak mempertaruhkan kehormatan manusia lain?” ujar Guntur mengutip kegelisahan Drupadi.
BACA JUGA:
Gelar Wayang Kulit, Kapolri: Perkuat Sinergitas TNI-Polri dan Semakin Dekat Dengan Masyarakat
Bagi Guntur, pertanyaan itu menampar. Ia menegaskan: Perempuan bukan benda. Perempuan bukan barang taruhan. Peristiwa itu adalah simbol kegagalan sebuah sistem ketika kekuasaan, nafsu, dan gengsi mengalahkan keadilan.
Guntur melihat peristiwa di Sabha bukan hanya melukai Drupadi sebagai perempuan. Itu adalah “luka kemanusiaan”.
“Luka itu harus diterima, bukan untuk dirayakan, tetapi untuk dipahami. Dari pemahaman terhadap luka, manusia dapat menemukan kesadaran baru,” tegas Guntur.
Dalam tradisi Ringgit Purwo, wayang bukan sekadar tontonan. Ia ruang perenungan. Drupadi yang dilucuti, yang berteriak minta keadilan, adalah simbol orang yang berani mempertanyakan sistem yang salah meski semua orang diam.
“Keberanian Drupadi bukan hanya melawan satu orang. Ia berani melawan budaya, melawan pembenaran atas ketidakadilan,” kata Guntur.
Bagi Guntur, kisah 5.000 tahun lalu ini masih relevan.
Persoalan martabat, pelecehan, kekuasaan, dan keberanian bersuara masih kita hadapi hari ini.
“Perempuan tidak boleh diposisikan sebagai objek kekuasaan atau alat kepentingan. Di sisi lain, laki-laki dan masyarakat juga diingatkan tentang tanggung jawab moral. Kekuasaan tanpa kesadaran akan melahirkan penindasan,” ujarnya.
Ia menekankan: menerima luka bukan berarti membenarkan pelaku. Menerima luka artinya mengolahnya agar kita tidak diperbudak oleh penderitaan. Dari situlah lahir empati, kekuatan baru, dan perubahan.
Pada akhirnya, Guntur melihat perjalanan Drupadi sebagai perjalanan dari penderitaan menuju kesadaran, dan dari kesadaran menuju kebangkitan.
“Wayang harus kita hidupkan kembali bukan sebagai nostalgia. Wayang adalah alat untuk membangkitkan kesadaran manusia terhadap kehidupan, terhadap sesama, dan terhadap dirinya sendiri,” pungkasnya.
Bagi Guntur, Drupadi adalah bukti: dari titik paling rendah, manusia masih bisa berdiri dan bertanya. Dan pertanyaan itulah yang menyelamatkan martabat.
Penulis: M. Fazar Sutiono
