Bocah SD di NTT Tewas Gantung Diri Di Pohon Cengkih, Dr. Iswadi: Akses Pendidikan Kita Masih Menyedihkan
Diterbitkan Senin, 2 Februari, 2026 by NKRIPOST

NKRIPOST JAKARTA – Tragedi memilukan kembali mengguncang nurani publik. Seorang bocah sekolah dasar (SD) di Nusa Tenggara Timur (NTT) ditemukan meninggal dunia akibat bunuh diri. Kepergiannya bukan hanya meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, tetapi juga sepucuk surat sederhana yang ditujukan kepada sang ibu sebuah pesan terakhir yang mengguncang siapa pun yang membacanya.
Peristiwa ini menyentak perhatian masyarakat luas karena melibatkan seorang anak yang seharusnya masih berada dalam fase bermain, belajar, dan bermimpi. Di usia yang begitu belia, ia justru menghadapi beban hidup yang tak semestinya ditanggung seorang anak. Surat yang ditinggalkannya menggambarkan kegelisahan, kelelahan batin, serta rasa putus asa yang diam-diam dipendam, diduga berkaitan dengan kesulitan bersekolah dan keterbatasan akses pendidikan.
Keluarga korban tak mampu menyembunyikan kesedihan. Sang ibu, yang menjadi tujuan surat terakhir anaknya, terpukul oleh kepergian tersebut. Bagi keluarga sederhana itu, pendidikan selama ini dipandang sebagai jalan keluar dari kemiskinan struktural yang mereka hadapi. Namun realitas di lapangan berkata lain. Jarak sekolah yang jauh, keterbatasan sarana transportasi, kondisi ekonomi keluarga, serta minimnya fasilitas pendidikan menjadi tantangan harian yang tak mudah diatasi.
Kasus ini memantik reaksi dari berbagai kalangan, termasuk akademisi dan pemerhati pendidikan. Dr. Iswadi, salah satu tokoh yang vokal menyoroti isu pendidikan, menyampaikan keprihatinan mendalam atas peristiwa tersebut. Menurutnya, tragedi ini bukan sekadar persoalan individu atau keluarga, melainkan cermin kegagalan sistemik dalam menjamin hak dasar anak untuk memperoleh pendidikan yang layak.
Ini sangat menyedihkan. Di tengah berbagai klaim kemajuan, masih ada anak anak di negeri ini yang merasa pendidikan adalah beban yang mustahil dijangkau. Akses pendidikan kita, terutama di daerah tertinggal, masih sangat memprihatinkan, ujar Dr. Iswadi.
Ia menekankan bahwa pendidikan bukan hanya soal ketersediaan sekolah, tetapi juga tentang akses nyata: jarak tempuh yang manusiawi, biaya yang terjangkau, dukungan psikososial, serta lingkungan belajar yang aman dan inklusif. Ketika faktor-faktor tersebut absen, anak anak terutama yang berasal dari keluarga miskin menjadi kelompok paling rentan.
NTT sendiri selama ini dikenal sebagai salah satu provinsi dengan tantangan pendidikan yang kompleks. Kondisi geografis yang sulit, infrastruktur terbatas, kekurangan tenaga pendidik, serta kesenjangan ekonomi memperparah keadaan. Dalam situasi seperti ini, anak-anak kerap dipaksa beradaptasi dengan realitas keras yang melampaui kapasitas emosional mereka.
Dr. Iswadi juga mengingatkan bahwa anak anak sering kali tidak memiliki ruang aman untuk menyuarakan tekanan yang mereka alami. Ketika kegelisahan dipendam tanpa pendampingan yang memadai baik dari keluarga, sekolah, maupun negara risikonya bisa berujung fatal. Anak anak membutuhkan lebih dari sekadar kurikulum. Mereka butuh didengar, dipahami, dan dilindungi, tegasnya.
Tragedi ini seharusnya menjadi alarm keras bagi semua pihak. Pemerintah pusat dan daerah didesak untuk tidak sekadar mengejar angka partisipasi sekolah, tetapi memastikan kualitas dan keterjangkauan pendidikan benar benar dirasakan hingga ke pelosok. Program bantuan pendidikan, transportasi sekolah, penguatan peran guru, serta layanan konseling di sekolah dasar menjadi kebutuhan mendesak, bukan pilihan.
Lebih dari itu, masyarakat juga diajak untuk membangun kepekaan kolektif. Anak anak di sekitar kita mungkin menyimpan beban yang tak terlihat. Kepedulian sederhana bertanya, mendengar, dan menemani bisa menjadi penopang penting bagi kesehatan mental mereka.
Kepergian bocah SD di NTT ini meninggalkan luka yang dalam sekaligus pesan yang tak boleh diabaikan. Sepucuk surat untuk sang ibu kini menjelma menjadi surat terbuka bagi bangsa ini: bahwa masih ada pekerjaan rumah besar dalam memastikan setiap anak Indonesia dapat mengenyam pendidikan dengan layak, aman, dan bermartabat. Tanpa itu, mimpi tentang masa depan cerah akan terus tergerus oleh tragedi yang seharusnya bisa dicegah.
BACA JUGA:

Diberitakan sebelumnya, Seorang bocah laki-laki di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), ditemukan tewas gantung diri. Bocah yang masih duduk di bangku kelas 4 SD tersebut mengakhiri hidupnya pada Kamis (29/1/2026) di pohon cengkih di kebun milik neneknya.
Dilansir detikBali, pohon itu hanya berjarak sekitar tiga meter dari pondok.
“Pohon cengkih tinggi sekitar 15 meter. Ikat tali sekitar lima meter,” kata Camat Jerebuu, Bernardus H. Tage, Jumat (31/1/2026).
Dia menjelaskan YS sehari-hari tinggal bersama neneknya di pondok tersebut. Orang tuanya berada di desa tetangga. Malam sebelum kejadian, YS nginap di rumah orang tuanya. Paginya dia kembali ke pondok. Dia tidak pergi sekolah tapi malah gantung diri.
Bernardus menjelaskan saat kejadian nenek korban tidak ada di pondok tersebut. Nenek YS berada di rumah tetangga sejak malam untuk bantu memecahkan kemiri. Neneknya mengetahui YS gantung diri setelah diberitahu oleh warga setempat.
“Omanya bantu pecah kemiri di rumah tetangga. Nginap di rumah tetangga. Korban ini malamnya tidur di rumah orang tuanya,” jelas Bernardus.
BACA JUGA:
Warga Desa Toianas TTS Tewas Dibacok, Istri Korban Minta Polisi Bekerja Jujur dan Terbuka
YS ditemukan gantung diri oleh warga yang pergi mengikat ternaknya di kebun nenek YS. Seusai mengikat ternaknya, warga tersebut ke pondok hendak memberi tahu nenek YS untuk memerhatikan ternaknya. Saat itulah warga tersebut menemukan YS gantung diri di pohon cengkih.
“Polisi datang evakuasi, kondisinya sudah tidak ada napas,” tandas Bernardus.***
