Setelah Dana PIP Dipersoalkan, Siswa SDN Bihati TTS Diduga Diusir dari Sekolah karena Ancaman Pembunuhan
Diterbitkan Rabu, 11 Maret, 2026 by NKRIPOST

NKRI POST TTS – Polemik dugaan pemotongan dana Program Indonesia Pintar (PIP) di SD Negeri Bihati, Desa Manufui, Kecamatan Santian, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), berbuntut serius. Seorang siswa yang disebut sebagai korban pemotongan dana tersebut diduga diminta tidak lagi masuk sekolah setelah muncul kabar adanya ancaman pembunuhan terhadap dirinya.
Hal itu diungkapkan ibu kandung siswa tersebut, Etayana Mone, saat ditemui tim media di kediamannya, Rabu (11/3/2026).
Ia mengatakan anaknya, Anderias Afi, sudah dua hari tidak berani masuk sekolah setelah diminta pulang oleh guru dan mendengar kabar adanya ancaman terhadap dirinya.
“Tiat an eut kau pah nak lho haim poim hai emen, mas tuaf an eut kau nak tuaf la na in tam nain o’of, lho mas ha na pau nis na ande (Pulang sekolah dia bilang kepada saya bahwa mereka sudah keluar sekolah. Tetapi ada orang yang mengatakan ada seseorang yang ingin membunuh dia, dan orang itu katanya memang pernah masuk penjara),” ungkap Etayana.
Menurut Etayana, anaknya juga diminta pulang oleh seorang guru yang disebutnya sebagai Pak Ato dan diminta tidak lagi masuk sekolah karena dianggap sudah terlibat dalam persoalan yang sedang terjadi di sekolah tersebut.
“Pak Ato nak hom fai nai, ho mu skol su nai, hom tam masalah maut fe ha na non nan la uab la ia na mu skol. Neu lo le nu an poi on la nak noka in kan sibuk ha na skol (Pak Ato menyuruh dia pulang dan mengatakan tidak perlu masuk sekolah lagi karena dianggap sudah masuk dalam masalah. Akibatnya sudah dua hari Anderias tidak lagi pergi ke sekolah),” bebernya.
Ia menuturkan, sejak mendengar kabar ancaman tersebut, anaknya mengalami ketakutan dan lebih memilih berada di dalam rumah, terutama pada malam hari.
“Ha nao nho skol am sat nam tau yen, ma on la fai-fai in tamen neu ume msat in kan poi kunuf (Sekarang dia sudah takut pergi ke sekolah, bahkan kalau malam hari dia langsung masuk rumah dan tidak berani keluar lagi),” ujarnya.
BACA JUGA:
Sebelumnya, Kepala SD Negeri Bihati, Petronela Satbanu, mengakui adanya pemotongan dana PIP, namun ia menegaskan bahwa pemotongan tersebut dilakukan untuk dibagikan kepada siswa lain yang tidak terdaftar sebagai penerima.
“Saya memang ambil Rp300 ribu dari siswa yang terima Rp600 ribu. Itu untuk dibagi kepada siswa lain yang tidak dapat PIP. Ada sekitar 64 siswa yang tidak terima, jadi kami bagi supaya mereka juga dapat,” jelasnya.
Ia mengatakan kebijakan tersebut diambil karena pihak sekolah mendapat informasi bahwa dana PIP harus segera dicairkan. Jika tidak, dana tersebut disebut berpotensi dikembalikan ke kas negara.
Petronela juga mengaku telah dipanggil oleh Dinas Pendidikan dan memberikan klarifikasi terkait persoalan tersebut. Ia menegaskan langkah itu merupakan kebijakan sekolah setelah melakukan rapat dengan sebagian orang tua siswa.
Namun demikian, sejumlah orang tua mengaku tidak pernah dilibatkan dalam rapat ataupun kesepakatan terkait pemotongan dana bantuan tersebut.***
