NKRIPOST

NKRIPOST – VOX POPULI PRO PATRIA

“Ketika Pengetahuan Tersimpan dalam Naskah”: Buku Baru Ajak Publik Membaca Kembali Manuskrip Nusantara

Listen to this article

Diterbitkan Rabu, 2 September, 2026 by NKRIPOST

Brigjen TNI (Purn.) MJP Hutagaol

NKRIPOST JAKARTA — Pengetahuan sebuah peradaban tidak selalu diwariskan melalui candi megah, prasasti batu, atau cerita lisan turun-temurun. Sebagian besar justru bertahan dalam bentuk sederhana: lembaran daun lontar, daun gebang, kulit kayu daluang, kertas, tinta, aksara, dan manuskrip yang melewati perjalanan panjang sejarah.

Hal itu diungkap dalam peluncuran buku “Pengetahuan Peradaban Nusantara Seri 3” berjudul “Ketika Pengetahuan Tersimpan dalam Naskah: Membaca Kembali Manuskrip Nusantara di Dalam dan di Luar Negeri” oleh Brigjen TNI (Purn.) MJP Hutagaol di Jakarta, Jumat (29/8/2026).

Buku ini ditulis Biyung AR, Bali, dan disunting Muhammad Fazar Sutiono. Tujuannya mengajak publik melihat manuskrip bukan sekadar benda tua, melainkan sebagai pintu untuk memahami cara berpikir, hidup, dan mewarisi pengetahuan masyarakat Nusantara.

Dalam sejarah panjang Nusantara, kerajaan bisa runtuh, pusat kekuasaan berpindah, bahasa dan aksara punah, guru kehilangan murid, dan tradisi berubah.

Akibatnya, generasi penerus bisa kehilangan kemampuan membaca warisan leluhurnya.

Namun sebagian jejak itu tetap bertahan di dalam naskah.

“Salah satu tempat penting penyimpanannya adalah naskah. Manuskrip Nusantara menyimpan beragam informasi, mulai dari sejarah, aturan dan hukum, pengobatan, kalender, sastra, agama dan spiritualitas, genealogis, perjalanan, pengetahuan alam, kehidupan sosial, ritual, hingga cara manusia memaknai kehidupan,” ungkap Brigjen (Purn.) MJP Hutagaol.

Karena itu, naskah tidak hanya bicara masa lalu. Ia adalah jembatan untuk memasuki dunia pengetahuan masyarakat yang melahirkannya.

Nusantara memiliki banyak tradisi tulis. Tidak pernah ada satu perpustakaan tunggal yang menyimpan seluruh ingatan bangsa ini. Pengetahuan ditulis dalam berbagai bahasa, aksara, bahan, dan zaman.

Ada prasasti batu dan logam, lontar dan gebang, daluang dan kertas, pustaha Batak dari kulit kayu. Ada manuskrip Melayu, Sunda Kuno, Jawa, Bali, Bugis-Makassar, Aceh, dan tradisi tulis lainnya.

“Karena itu, membaca manuskrip Nusantara membutuhkan kehati-hatian. Tidak seluruh naskah dapat dibaca menggunakan ukuran yang sama,” tegasnya.

4 Waktu yang Harus Dibedakan Saat Membaca Naskah
Buku ini mengingatkan satu kunci penting: membedakan 4 usia dalam manuskrip:
1. Usia Peristiwa: Kapan peristiwa yang diceritakan terjadi
2. Usia Komposisi-komposisi: Kapan teks mulai disusun
3. Usia Manuskrip: Kapan benda fisik/salinan dibuat
4. Usia Tafsir: Kapan penafsiran populer berkembang

“Sebuah tradisi bisa jauh lebih tua dari manuskripnya. Sebaliknya, manuskrip tua juga tidak otomatis membuktikan semua peristiwa di dalamnya benar terjadi,” jelas Hutagaol.

Contoh: La Galigo, Pustaha Batak, hingga Sanghyang Siksa
Buku ini mengupas beberapa contoh penting:

Salah satu himpunan penting adalah NBG-Boeg 188 di Leiden, hasil penyalinan abad ke-19 oleh Colliq Pujié dan B.F. Matthes. Lewat La Galigo kita bisa melacak genealogis, kosmologi, dan nilai sosial Bugis. Tapi usia tradisi ≠ usia manuskrip fisik.

Bukan satu buku seragam. Tiap naskah berisi poda: perhitungan waktu, pengobatan, ritual, divinasi. Pengetahuan botani di dalamnya bisa diuji lewat farmakologi, sementara ritual dikaji lewat antropologi.

Ditulis di daun gebang, bertanggal 1440 Saka / 1518 M, berisi 22 bagian tentang aturan sosial dan moral. Naskah ini kini di Perpustakaan Nasional RI, dulunya koleksi Raden Saleh yang diserahkan ke Bataviaasch Genootschap.

Naskah Sunda Kuno akhir abad 15 ini kini di Bodleian Library, Oxford, Inggris, kode MS Jav. B. 3 (R) sejak 1627. Isinya catatan perjalanan melintasi Jawa-Bali. Jadi sumber geografi, jaringan wilayah, dan cara pandang ruang.

Karya Mpu Prapanca, 1365. Sumber penting tentang Majapahit, tapi lahir dalam lingkungan kekuasaan. ” Sumber yang sangat penting belum tentu netral,” kata Hutagaol. Harus dibandingkan dengan prasasti dan arkeologi.

BACA JUGA:

Mengenal Suku Kemak Di Belu Nusa Tenggara Timur

Perjalanan sejarah membuat manuskrip Nusantara tersebar: di Indonesia, Belanda, Inggris. Leiden pusat koleksi Indonesia. Oxford simpan Bujangga Manik. Perpusnas simpan Siksa Kandang Karesian.

Namun kepindahannya beragam: ada yang diberi, dibeli, disalin, dibawa masa kolonial, hingga rampasan perang.

“Tidak tepat mengatakan semua punya sejarah perpindahan yang sama. Kuncinya adalah provenans: menelusuri riwayat kepemilikan dan perpindahan benda berdasarkan bukti,” ujarnya.

Buku ini juga menyentuh isu repatriasi. Tapi pertanyaannya lebih dalam:
Bagaimana jika naskahnya kembali, tapi masyarakat tidak lagi bisa membacanya?
Bagaimana jika sudah digital, tapi belum diteliti dan diajarkan?

“Memulangkan naskah adalah satu pekerjaan. Memulangkan pengetahuan ke dalam kesadaran masyarakat adalah pekerjaan yang jauh lebih besar,” tegasnya.

Tugas kita bukan memaksa naskah mengatakan apa yang kita mau. Tapi membaca, memeriksa konteks, memisahkan data dari tafsir, dan menemukan pengetahuan yang masih relevan hari ini.

Penulis menutup dengan pengingat: masih banyak pengetahuan yang hidup tanpa buku. Ada di tangan pembuat perahu, ingatan petani, cara membaca laut, mengelola hutan, dalam bahasa dan ritual.

Dari sinilah muncul jembatan ke seri selanjutnya:
“Pengetahuan Peradaban Nusantara Seri 4: Ketika Pengetahuan Hidup Tanpa Buku”- mengupas pengetahuan dari tutur, keterampilan, alam, hingga laku kehidupan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

REDAKSI: JL. KH. MAS MANSYUR NO. 122 B, KEL. KARET TENGSIN, KEC. TANAH ABANG KOTA JAKARTA PUSAT - WA: 0856 9118 1460  
EMAIL: [email protected]
NKRIPOSTCO ©Copyright 2026 | All Right Reserved