FPS TIM Gelar Malam Solidaritas untuk Flores: “Seni Hadir Saat Kemanusiaan Terluka”
Diterbitkan Jumat, 28 Agustus, 2026 by NKRIPOST

NKRIPOST, Jakarta – Front Penggerak Seni Taman Ismail Marzuki (FPS TIM) menggelar Malam Solidaritas untuk Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) di halaman depan Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta Pusat, Jumat (28/8/2026) malam.
Aksi yang diikuti komunitas seni dari Jakarta, Bekasi, Tangerang dan sekitarnya ini menjadi dua pesan sekaligus: empati untuk korban bencana Flores, dan desakan agar TIM dikembalikan ke fungsi awalnya sebagai pusat kebudayaan.
Acara diisi orasi budaya, pembacaan puisi, pertunjukan musik, hingga penggalangan dana bagi masyarakat terdampak bencana di Flores.
“Seni Harus Hadir Saat Ada Persoalan Kemanusiaan”
Sekretaris Jenderal Masyarakat Penggiat Seni Indonesia (MPSI), David Karo Karo, mengatakan aksi ini lahir secara spontan setelah banyaknya kabar duka dari Flores.
“Kami terpanggil sebagai seniman. Ini bukan sekadar pentas. Ini bentuk empati kepada saudara kita di Flores. Seni harus hadir ketika ada persoalan kemanusiaan,” ujar David di lokasi.
Menurutnya, FPS TIM adalah wadah lintas komunitas di Jabodetabek yang peduli terhadap isu kebudayaan dan sosial.
TIM Kehilangan Ruhnya
Di tengah solidaritas untuk Flores, David juga menyuarakan keprihatinan terhadap kondisi TIM saat ini.
Ia menilai TIM semakin menjauh dari ruh awalnya sebagai rumah berkarya. Ruang latihan hilang, biaya sewa gedung pertunjukan mencekik, dan seniman makin tidak punya tempat berpijak.
“Tuntutan kami sederhana. Tatanan rumah kesenian rusak, tempat latihan hilang, gedung jadi mahal. Akhirnya seniman tidak punya rumah untuk berkarya,” tegasnya.
David mendesak Pemprov DKI Jakarta segera mengembalikan TIM sebagai ruang aktivitas, ruang pengkaryaan, dan laboratorium lahirnya seniman baru Indonesia.
“Kami kecewa janji menghidupkan kejayaan TIM belum terealisasi. Kami minta Gubernur dan Wagub lebih peka. TIM harus jadi rumah seniman, bukan ruang yang berjarak dengan pelaku budaya,” katanya.
Desak Regulasi Baru yang Berpihak
David juga menyoroti masih digunakannya regulasi lama dalam pengelolaan TIM. Ia menilai Pemprov perlu segera menghadirkan kebijakan baru yang berpihak pada kesejahteraan seniman dan keberlangsungan ekosistem budaya.
“Yang kami perjuangkan adalah legasi kebudayaan. TIM harus jadi etalase kesenian Jakarta. Tempat lahirnya karya dan pendidikan budaya,” tuturnya.
Ia menegaskan kesenian bukan hanya soal ekonomi. Ada nilai kemanusiaan, etika, peradaban, dan identitas bangsa yang harus dijaga.
Menutup dengan Doa dan Penggalangan Dana
Malam Solidaritas ditutup dengan doa bersama dan penggalangan dukungan untuk Flores.
“Mari merajut kepedulian agar keluarga kita di Flores tidak merasa sendiri. Inilah cara seniman menjaga persatuan dan kemanusiaan,” pungkas David. (iwak)
