NKRIPOST

NKRIPOST – VOX POPULI PRO PATRIA

Lamda, Dwi Tunggal Lam Alif, Oleh Tim Strategi Pemenangan Ferizal Ridwan for BA 1 C 2024

Listen to this article

Diterbitkan Senin, 13 Mei, 2024 by NKRIPOST

Ferizal Ridwan

“Kenapa harus Lamda ?”
Setidaknya pertanyaan itu akan muncul dalam berbagai kalangan masyarakat. Walau lambang Lamda jika diputar ke kiri akan berbentuk huruf Lam Alif atau lam jalalah.
Patut kita buka kembali lembaran pelajaran ilmu fisika tentang teori gelombang panjang yang kemudian dikenal dengan sebutan Lamda. Yakni gelombang yang bergerak dinamis pada ukuran suara.

Bagaimana kaitannya dengan pasangan Ferizal Ridwan dan Dedi Henidal yang akan maju dalam Pemilu Kepala Daerah Kabupaten Lima Puluh Kota tahun 2024, dari jalur perorangan atau independen ?

Baiknya memang perlu penjelasan yang mudah dimengerti oleh semua kalangan. Agar bisa difahami dengan maksud dan tujuan dari penggunaan lambang dan teori Lamda.
Gelombang adalah sesuatu yang bergerak dinamis dalam ukuran fisika terhadap suara, bisa juga cahaya. Seperti halnya pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati Lima Puluh Kota, H. Ferizal Ridwan S.Sos dengan Let.Kol (Purn) Drs. H. Dedi Henidal, MM.

Barangkali sedikit sekali masyarakat Kab. Lima Puluh yang tidak mengenal dengan sosok H. Ferizal Ridwan, S.Sos, tokoh politik dan aktifis Sosial Kemasyarakatan, politisi, yang berpengalaman di organisasi partai Politik dan pernah sebagai Anggota DPRD 2004 2009, sekaligus tokoh pemuda yang dekat dengan dunia Olah Raga, terutama Sepak Bola dan Bola Volly.

Buya, sapaan akrab Ferizal Ridwan yang semasa kecilnya aktif sebagai Mubaligh Cilik, juga penerima penghargaan Karang Taruna Teladan tingkat Nasional ketika masa remajanya, adalah pekerja sosial kemasyarakatan yang memiliki intensitas yang konsisten.

Sejak remaja, buya tidak berhenti dalam melakukan aksi sosial di tengah masyarakat Kab. Lima Puluh Kota. Sejak tamat SMA N 1 Luak, dalam menolong masyarakat kecil tidak pernah bisa dihentikannya.

Tanggung jawab moral yang tumbuh dari keluhuran jiwa, akan nasib dan kesusahan masyarakat bawah dalam upaya tidak hanya mengentaskan kemiskinan, namun juga menyelamatkan generasi muda untuk dapat melanjutkan pendidikan mereka hingga ke jenjang yang lebih tinggi.

Berbagai bentuk organisasi sosial telah di dirakan Buya untuk bisa leluasa dalam upaya membantu meringankan beban masyarakat. Mulai dari pendirian Tudung Saji Group, Yayasan Pedati Mas hingga kepada Yayasan PDRI Yakni upaya mengangkat PDRI 1948 menjadi salah satu penyelamat Republik Indonesia yang bermuara pada ditetapkannya Hari Bela Negara, sebagai terima kasih Pemerintah Pusat atas jasa PDRI 1948. Juga telah berdirinya sebuah Monumen Nasional di Koto Tinggi, Nagari tempat di mana disuarakannya tentang keberadaan Indonesia ke dunia internasional. 2021 Mendirikan dan memimpinYayasan Ibrahim Tan Malaka, yang tengah mengurus pendirian Universitas Islam Tan Malaka.

Sebagai orang yang peduli terhadap jasa pahlawan nasional, sewaktu menjabat sebagai Wakil Bupati Lima Puluh Kota, Feri Buya berjasa besar terhadap pengembalian Marwah Pahlawan Nasional Ibrahim Dt. Tan Malaka, dalam sebuah prosesi Adat dan Syarak, yakni memindah gelar adat dan Malewakan/menobatkan di tanah tasirah atau di kuburan gelar Dt. Tan Malaka dari Ibrahim (alm) kepada Hengky Novaron A Dt. Tan Malaka.

2017 Ferizal Ridwan sempat viral, akibat kebijakannya mengembalikan Sekda ke Yendri Tomas yang sebelumnya dinonjob kan Irfendi Arbi, kebijakan yang berani dan sangat menguji tata naskah dinas lingkup Pemda waktu itu, dimana Feri Buya selaku PLH BUPATI semasa Irfendi Arbi, Cuti Keluar Negeri untuk Menunaikan Haji, Bupati 42 Hari beliau jalankan dengan 27 kebijakan luar biasa berani, walau yang jadi persoalan yakni mengembalikan sekda tersebut, dan 26 kebijakan lain yang diambil sangat menguntungkan daerah namun tak dianggap dan jadi viral, sebutlah itu, membuka blokade dan sangsi BNPB dari 2010 Pemkab Liko tak selesai laporan pertanggungjawaban dana Bencana Galodo Gunung Sago, 15,6 M , ditangan Ferizal di selesaikan dan 3 bupati sebelumnya tak mau ambil tanggung jawab, maka 7 tahun terkatung katung, sebutlah kebijakan penyelesaian Tanah Kapeh Panji yang senjak 1943 di beli keluarga kapeh panji Agam , tak dikuasai dan dimanfaatkan, dan tahun 1982 pun Bupati waktu itu Mengeluarkan SIM penggarapan tanah tersebut, di tahun 2017 penyelesaian dan mediasi tanah tersebut bisa selesai dan para pihak mendapatkan haknya, feri Buya dalam waktu singkat itu juga mengusulkan dan mengurus mangkraknya Monas PDRI yang mangkrak semenjak 2013, sehingga 2018 bisa dilanjutkan, tak tanggung tanggung Tanah hibah sejak 2002 tanah hibah ke polres 50 kota turut dapat diselesaikan sehingga polres bisa memiliki aset dengan HAK MILIK, termasuk usulan program redis untuk tanah eks Sosro Bahu Halaban , yang semenjak 1895 dikuasai Eropa dan Belanda untuk berkebun teh, dan semasa orde baru di manfaatkan KUD Sosro Bahu, yang habis HGU 2006, Feri Buya mengusulkan. Redis untuk diberikan ke rakyat, bukan dijual ke pihak lain, disamping banyak proposal usulan, pernyataan tanggung jawab mutlak dari pokir DPR RI, DPRD Propinsi Ferizal berprinsip siap menandatangani itu semua sepanjang pemasukan dan keuntungan bagi rakyat dan daerah, Buya feri juga berani membuat perbup penyerahan komplek Rumah dan Musium serta Makam Tan Malaka sebagai cagar budaya dibawa BCB Tanah datar, proposal proposal yang ia tandatangani berdampak banyak realisasi 2 atau 3 tahun sesudahnya,
Setelah turun dari jabatan Wakil Bupati, Ferizal Ridwan juga masih tidak bisa menghentikan kegiatan sosialnya. Bahkan kegiatan yang dipandang aneh dan dianggap mencari sensasi juga dilakoni, selain masih tetap membina pesepak bola dan pemain bola volly, dan otomotif,membina ratusan kadernya, disamping aktif di aksi aksi sosial, dan perjuangan pelurusan sejarah PDRI, Menyuarakan pemikiran Tan Malaka, dan konsen selaku ketua Pembangunan Masjid Mohammad Hatta dia malah melakukan aksi nekat dengan membawa Prang Dalam Gangguan Jiwa (ODGJ) untuk di bawa berobat ke Propinsi Lampung, atas aksi nyata komunitas yang ia dirikan dan komandoi yakni Pak’Sa disamping mengentaskan persolan sosial masyarakat lainnya.

Hal tersebut dilakukan dengan ikhlas dan berkat ikatan kekerabatan buya dengan Kesultanan Lampung. Bahkan buya juga dianugerahkan gelar Sultan Purnama Agung. Maka dengan gelar yang disandangnya tersebut, Ferizal Ridwan sebagai Sultan Purnama Agung, juga duduk dalam majelis Raja dan Sultan Nusantara.

Baiklah, selanjutnya kita juga akan mengupas siapa pasangan calon Wakil Bupati yang berpasangan dengan Ferizal Ridwan.
Let. Kol (purn) Drs. H. Dedi Henidal, MM, yakni seorang purnawirawan yang memulai karir TNI AD melalui Program perekrutan Wamil bagi para Sarjana Strata 1 setamat dari UNP (IKIP Padang) pada tahun 1985 dan lulus tahun 1987 mendapat SK Presiden RI dengan pangkat Letnan Satu.

Setelah mendapat kenaikan sebagai Perwira Menengah berpangkat Letnan Kolonel, Dedi Henidal, juga kerap mengikuti program pelatihan TNI AD dalam penanganan bencana alam, hingga pada tingkat manajemen penanganan dan penuntasan masalah bencana alam di New Zeland, putra asli kelahiran Nagari Sei Balantiak, Kec. Akabiluru tersebut pada tahun 2006 diusulkan untuk pindah status dari TNI AD ke Pegawai Negeri Sipil, untuk bertugas di Pemko Padang.

Sesuai dengan pangkat dan golongan perpindahan dari jabatan Militer ke jabatan Sipil, Dedi ditempatkan pertama kali untuk menjadi Komandan Satuan Polisi Pamong Praja.
Memulai karir sebagai penegak Peraturan Daerah, bagi putra Sei Balantiak ini, tidak begitu sulit untuk beradaptasi. Karena dunia Militer yang digeluti adalah kehidupan penuh dengan kedisiplinan. Sebab, antara menegakkan disiplin dan menegakkan aturan adalah sesuatu hal yang menyatu.

Setidaknya delapan kali menjabat sebagai kepala dinas maupun kepala satuan di jajaran Pemko Padang, alhirnya pada tahun 2022, sesuai dengan batasan usia Pegawai Negeri Sipil, Drs. H. Dedi Henidal, MM pensiun.
Malang melintang di dua dunia yang berbeda, membuat Dedi semakin banyak mengetahui baik persoalan disiplin Militer maupun Sipil, termasuk persoalan manajemen di dua institusi yang berbeda.

Tentulah H. Dedi sangat memahami dua persoalan tersebut. Maka tak mengherankan jika dimasa purna tugasnya, dia dipercaya masyarakat Sei Balantiak untuk menduduki posisi Wali Nagari, agar Dedi bisa mengayomi, membimbing masyarakat serta membangun kampungnya, dan saat ini pengabdiannya sebagai ketua Forum Wali Nagari Lima puluh kota, Forwaliko

Ferizal Ridwan

LAMDA
Pasangan dinamis yang intensitasnya terjaga dalam hubungan sosial kemasyarakatan, menjadi alasan memakai nama Lamda.
Jika membaca pada perjalanan karir dan perjuangan untuk membantu masyarakat, Ferizal dan Dedi adalah pasangan yang memiliki ritme dinamis yang konstan. Menjabat atau tidak menjabat, bukan sesuatu yang bisa mendorong atau menghambat dalam aksi sosial kemasyarakatan mereka.

Dari kesemaan tujuan, membangun visi untuk misi terbaik bagi Lima Puluh Kota ke depan. Gerak dinamis untuk menghentikan suara derita masyarakat, membujuk tangis susah dengan pembujuknya, membimbing masyarakat menuju keadilan sosial bagi seluruh rakyat, hasil dari adat musyawarah mufakat, begitulah bentuk dari rasa persatuan, sikap hidup sesusah sesenang, sehina semalu, bentuk dari rasa tertinggi manusia yakni memanusiakan manusia dalam pewujudan kemanusiaan yang adil dan beradap, sebagai bukti dari manusia yang berketuhanan yang maha esa. dari Pasangan ini, mampu nengkat kewibawaan pemerintah daerah, dengan pengalaman dan rekam jejak FERI + DEDI juga akan mampu menata kondisi saat ini untuk menatap masa depan yang lebih baik, atas pengalaman dan kecakapan keduanya, ketiga kekuatan pasangan ini, juga segi jaringan baik kepusat, propinsi maupun internasional telah terbukti selama ini, keempat mereka berdua merupakan orang orang yang terbuka untuk komunikasi dan bisa berkomunikasi dengan baik.

Lamda juga memiliki nilai juang yang di terjemahkan dalam bentuk :
L : Lima Puluh Kota
A : Adil
M : Makmur
D : Disiplin
A : Amanah
merupakan harapan 50 Kota Masa depan
Selanjutnya, jika di bentukan kepada huruf hijaiyah, lam alif atau lam jalalalah, adalah huruf yang memiliki arti menafikan atau meniadakan yang sesuatu, dan mengadakan yang satu, terdapat dalam kalimat syahadat laa ilaha ila Allaah.

Bertepatan dengan keinginan tulus untuk membangun Kabupaten Lima Puluh Kota dan masyarakatnya yang memiliki dinamika politik begitu tinggi, Ferizal Ridwan dan Dedi Henidal mencalonkan diri lewat pencalonan perseorangan atau independen. Mengingat lam alif adalah menafikan atau menidakkan sesuatu dan mengadakan yang satu, maka menafikan Partai Politik untuk maju, merupakan pilihan yang diambil sebagai sikap politik elegan.
Disamping Alif Lam, juga berarti satu kesatuan, yang dikenal pasangan Dwi tunggal, maka semangat saling mengisi, konsisten dan saling menjaga juga menjawab kekuatiran sebagain orang akan prilaku pecah kongsi dalam menjalankan roda pemerintahan kedepan 50 kota Masa Depan semoga tidak berlaku dipasangan ini,

itu diyakini tidak hanya karena pengalaman masa lalu, namun pasangan ini bukanlah kawin paksa, alias dipasangkan oleh kepentingan politik sesaat dan bukan pula oleh transaksional politik, namun oleh silaturahim yang berjalan selama ini.

Semoga dari tulisan penjelasan singkat tentang Lamda, dapat menjadi pencerahan bagi kita, serta menjadikan kita selalu dinamis dalam bergerak dan konstan atau tetap. Tetap dinamis.

Salam
FR450K 2024

BACA JUGA :

Ferizal Ridwan Dan Dedi Henidal Searahkan Syarat Dukungan Bacalon Kepala Daerah Jalur Ke KPU Lima Puluh Kota

Profil Basilio Dias Araujo, Pejuang Integrasi Timor Timur Maju Calon Wakiĺ Bupati Belu NTT

Buya Feri Mantan Wakil Bupati Limapuluh Kota Alami Kecelakaan, Beberapa Bagian Tulang Retak

VIDEO REKOMENDASI:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

REDAKSI: JL. KH. MAS MANSYUR NO. 122 B, KEL. KARET TENGSIN, KEC. TANAH ABANG KOTA JAKARTA PUSAT - WA: 0856 9118 1460  
EMAIL: [email protected]
NKRIPOSTCO ©Copyright 2024 | All Right Reserved