NKRIPOST

NKRIPOST – VOX POPULI PRO PATRIA

Tradisi Jembul Tulakan Jepara, Peninggalan Ratu Kalinyamat

Listen to this article

Diterbitkan Senin, 20 Juni, 2022 by NKRIPOST

Sedekah Bumi Desa Tulakan Donorojo

NKRIPOST.CO, JEPARA – Setelah dua tahun absen karena Pandemi Covid-19, Tradisi Jembul Tulakan kembali digelar. Kemeriahan pun tak terelakan karena kerinduan warga untuk menggelar tradisi ini.

Sejak pagi, sekitar rumah petinggi Desa Tulakan, Budi Sutrisno sudah dipadati pengunjung. Alunan gamelan dan langgam-langgam Jawa disajikan dari atas panggung. Sebagian pengunjung turut mengikuti irama dengan bergoyang-goyang kecil.

Lautan manusia, masyarakat Desa Tulakan, Kecamatan Donorojo, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah dan sekitarnya memeriahkan tradisi Jembul Tulakan, Senin (20/6/2022).

Dari kejauhan tampak iring-iringan massa dengan berpakaian adat Jawa. Mereka membawa hasil bumi. Seperti aneka olahan ketela dan beras. Seserahan khas masyarakat desa itu dibawa dengan berbagai cara. Ada yang dipikul orang per orang. Paling banyak, seserahan itu ditaruh di jembul.

Jembul sendiri adalah gunungan yang terbuat dari bambu yang disirat tipis lalu dibentuk menyerupai rambut. Pada siratan bambu itu, diberi sobekan kain-kain kecil.

Ada empat kelompok yang membawa jembul. Masing-masing kelompok membawa dua jembul. Satu jembul laki-laki dan satunya lagi perempuan. Bentuk jembul laki-laki lebih besar dibanding perempuan.

Para lelaki yang memikul jembul mengarak dari ujung utara sampai di depan panggung utama. Di sepanjang jalan sekitar 300 meter, mereka memainkan jembul yang mereka pikul. Sesekali, jembul diarahkan ke penonton hingga menimbulkan keriuhan.

Setidaknya butuh waktu 15 menit agar jembul sampai di depan panggung. Sebab, tak jarang, jika sudah dekat dengan panggung, jembul ditarik lagi menjauh dari panggung. ”Dua tahun sudah kita tidak menggelar tradisi Jembul Tulakan ini. Alhamdulillah sekarang bisa berjalan,” kata Budi

Budi menyebut, setiap tahun, tradisi ini digelar pada Senin Pahing, Zulkaidah (bulan ke-11 tahun Hijriah, red). Ini dilaksanakan bersamaan dengan sedekah bumi Desa Tulakan. Tradisi ini selalu menyedot banyak masyarakat dari dalam dan luar desa. Seperti hari ini saja, lebih dari 2.000 orang hadir antusias menyaksikan gelaran seni tradisional itu.

Petinggi Desa Tulakan, Budi Sutrisno mengatakan tradisi Jembul Tulakan bermuara pada jalan hidup Ratu Kalinyamat, penguasa Jepara era penjajahan Portugis. Warisan budaya itu tak hanya menjadi identitas warga setempat. Namun, juga jadi kebanggaan Bumi Kartini. Tradisi Jembul Tulakan ternyata tak lepas dari kehidupan sang Ratu Jepara, Ratu Kalinyamat.

Budaya Tradisi Jembul Tulakan, Jepara.

BACA JUGA:

Tradisi Perang Obor di Desa Tegalsambi, Tahunan, Jepara

Warga Sintong Temukan Mayat Perempuan Di Kebun Karet, Kepala Sudah Jadi Tengkorak

Di Jepara, Jamu Tradisional Menjadi Solusi Pengobatan Mengatasi PMK

Diceritakan, pada masa lampau, Ratu Kalinyamat memiliki dendam dengan Arya Penangsang. Dendam itu berawal dari terbunuhnya Sultan Hadlirin, suami Ratu Kalinyamat di tangan Arya Penangsang. Setelah itu, Ratu Kalinyamat membuat sumpah dengan bertapa wuda. Dalam hal ini, tapa wuda atau telanjang tidak dimaknai telanjang dalam arti sebenarnya. Melainkan, Ratu Kalinyamat ‘menelanjangi’ dirinya dari sifat keduniawian dan kemewahan sebagai ratu.

”Ora pisan-pisan ingsun jengkar saka tapa ingsun, yen durung bisa nganggo kesed jambule Arya Penangsang (Tidak sekali-kali saya turun dari pertamaan, jika belum bisa membersihkan kaki dengan jambul atau rambut Arya Penangsang, red),” ucap Budi menirukan sumpah Ratu Kalinyamat yang dipercayai masyarakat Desa Tulakan dan sekitarnya.

Pada akhirnya, kerabat Ratu Kalinyamat itu berhasil mengalahkan Arya Penangsang. Rambut dan darah Arya Penangsang dibawa kepada Ratu Kalinyamat di pertapaan bernama Sonder itu.

Tak hanya kesed dengan rambut atau jambul Arya Penangsang, Ratu Kalinyamat juga keramas dengan darah sosok yang membunuh suaminya itu. ”Setelah keberhasilan itu, akhirnya Ratu Kalinyamat menghentikan tapa wudanya,” jelas Budi.

Lalu, jambul tersebut diarak ke permukiman masyarakat setempat. Dari tragedi itulah, akhirnya masyarakat Desa Tulakan menggelar tradisi Jembul Tulakan. ”Semoga kita tetap bisa melestarikan warisan budaya ini. Tahun depan semoga bisa digelar lebih meriah lagi,” ujar Budi.(Purnomo. Red).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

REDAKSI: JL. MINANGKABAU TIMUR NO. 19 A, KEL. PS. MANGGIS, KEC. SETIABUDI KOTA JAKARTA SELATAN - WA: 0856 9118 1460  
EMAIL: [email protected]
NKRIPOSTCO ©Copyright 2024 | All Right Reserved