NKRIPOST

NKRIPOST – VOX POPULI PRO PATRIA

Bupati Belu Pesta Seremonial Di Fulan Fehan, BEM STISIP Fajar Timur Atambua Bilang Begini!

Listen to this article

Diterbitkan Sabtu, 27 Juni, 2026 by NKRIPOST

BEM STISIP Fajar Timur Atambua

NKRIPOST, ATAMBUA – Festival Fulan Fehan IV di Desa Dirun, Kecamatan Lamaknen, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (27/6/2026) resmi dibuka secara meriah yang menampilkan tarian kolosal bertema persahabatan Indonesia dan Timor-Leste di hamparan padang savana Fulan Fehan.

Sungguhpun demikian, hal tersebut menurut BEM STISIP Fajar Timur Atambua bukanlah yang terpenting dan utama. Di tengah krisis kebutuhan dasar yang masih dirasakan masyarakat, pemerintah Kabupaten Belu justru menggelar Festival Fulan Fehan dengan kemasan yang meriah. Bagi BEM STISIP Fajar Timur Atambua, kemeriahan itu menjadi ironi ketika masih banyak rakyat yang hidup dalam kesulitan.

Ketua BEM STISIP Fajar Timur Atambua Melfridus Kali, menilai pemerintah lebih sibuk membangun citra melalui kegiatan seremonial daripada menyelesaikan persoalan nyata yang dihadapi masyarakat setiap hari.

“Rakyat tidak bisa makan dari kemeriahan festival. Rakyat tidak bisa menyembuhkan penyakit dengan panggung hiburan. Rakyat tidak bisa menyekolahkan anak hanya dengan seremoni. Yang dibutuhkan rakyat adalah kebijakan yang berpihak pada kebutuhan mereka,” tegas Melfridus Kali kepada awak media Nkripost.co, Sabtu (27/6).

BEM STISIP Fajar Timur Atambua menegaskan bahwa mereka tidak menolak pelestarian budaya. Namun, pelestarian budaya tidak boleh dijadikan alasan untuk mengesampingkan persoalan yang lebih mendesak.

Menurut mereka, ketika masih banyak warga kesulitan memperoleh air bersih, pelayanan kesehatan belum optimal, pendidikan masih menjadi beban, dan lapangan kerja semakin sempit, maka menghabiskan anggaran untuk kegiatan seremonial menunjukkan pemerintah telah kehilangan rasa peka terhadap penderitaan rakyat.

BACA JUGA:

BEM STISIP Sorot Festival Fulan Fehan: Bupati Belu Dinilai Hamburkan Uang Rakyat untuk Panggung Seremoni, Abaikan Kebutuhan Masyarakat

BEM STISIP Fajar Timur Atambua mendesak Bupati Belu agar berhenti menjadikan kegiatan seremonial sebagai wajah utama pemerintahan dan segera membuktikan janji-janji politik yang pernah disampaikan kepada rakyat.

“Jangan jadikan festival sebagai topeng untuk menutupi kegagalan memenuhi kebutuhan dasar rakyat. Jika rakyat masih kesulitan hidup, maka setiap kemeriahan yang dibiayai uang daerah akan selalu mengundang pertanyaan: pemerintah sedang bekerja untuk rakyat, atau sekadar mempertontonkan pencitraan?,” tanya Melfridus dengan nada merenung.

“Utamakan kebutuhan rakyat, bukan kemewahan seremonial. Karena sejarah tidak mencatat seberapa meriah festival digelar, tetapi seberapa besar keberpihakan pemimpin kepada rakyatnya. ” Tutupnya.

BACA JUGA:

Mendagri Tito Karnavian Buka Festival Fulan Fehan 2026: Semoga Tahun Depan Jadi Festival Internasional

Mendagri Tito Karnavian buka Festival Fulan Fehan di Belu, ajang seni budaya bertema persahabatan ini diharapkan pererat hubungan antarnegara, Sabtu (27/6/2026). Foto: Kemendagri RI

Diberitakan sebelumnya, Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian membuka Festival Fulan Fehan IV di Desa Dirun, Kecamatan Lamaknen, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (27/6/2026). Pembukaan festival ditandai dengan pemukulan tihar, alat musik tradisional khas Belu.

Mendagri mengaku terpukau dengan penyelenggaraan Festival Fulan Fehan yang menampilkan tarian kolosal bertema persahabatan Indonesia dan Timor-Leste di hamparan padang savana Fulan Fehan.

“Dengan mengucapkan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, dan mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim, Festival Fulan Fehan yang keempat tahun 2026, saya nyatakan resmi dibuka,” katanya.

Mendagri mengatakan, ini merupakan pengalaman pertamanya menyaksikan Festival Fulan Fehan. Selama ini, ia kerap menyaksikan pertunjukan kolosal di berbagai daerah dengan latar panggung buatan manusia, seperti di stadion-stadion di Jakarta, Bandung, dan Surabaya. Berbeda dengan itu, Festival Fulan Fehan memanfaatkan bentang alam sebagai panggung pertunjukan.

“Di satu tempat yang bukan dibangun oleh manusia. Di tempat padang rumput savana yang indah ini, berbukit-bukit, di sekitarnya ada Gunung Lakaan yang indah, udara yang indah, bukan buatan manusia, tapi Tuhan Yang Maha Kuasa,” terangnya.

Ia menuturkan, keindahan alam tersebut merupakan anugerah Tuhan bagi masyarakat Belu, NTT, dan Indonesia. Festival Fulan Fehan juga menampilkan tarian khas empat suku yang bersatu mengusung tema Dance for Friendship. Menurutnya, tema tersebut sejalan dengan pesan Presiden Prabowo Subianto bahwa persahabatan jauh lebih berharga daripada permusuhan.

“One thousand friends are not enough. One enemy is already too many. Empat suku bergabung menjadi satu, berdansa bersama-sama, menjadi sahabat-sahabat, persahabatan yang baik,” ungkapnya.

Mendagri menambahkan, kehadiran peserta dan tamu dari Timor-Leste serta Australia semakin memperkuat semangat persahabatan lintas negara yang dibangun melalui seni dan budaya. Menurutnya, festival ini menjadi ruang untuk mempererat hubungan Indonesia dengan negara-negara tetangga.

“Melalui festival ini, saya bangga menjadi bagian dan bisa menyaksikan, saksi sejarah di Belu, NTT, dengan seni dan budayanya. Baik tenun yang sudah ribuan tahun, tarian yang beragam, bahasa yang berbeda, tapi tetap dalam satu bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia,” tandasnya.

BACA JUGA:

Luar Biasa Al Disney Gambarkan Kota Atambua, Hasilnya Sangat Menakjubkan!

Ia berharap Festival Fulan Fehan tidak hanya menjadi hiburan yang membahagiakan masyarakat, tetapi juga meninggalkan kesan mendalam bagi para pengunjung. Ia optimistis penyelenggaraan festival pada tahun-tahun mendatang akan semakin meriah.

“Semoga tahun depan atau di tahun berikutnya, Festival Fulan Fehan akan menjadi festival internasional,” pungkasnya.

Acara ini turut dihadiri Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya Sugiarto; Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena; Bupati Belu Willybrodus Lay; Ketua Umum TP PKK Tri Tito Karnavian; Wakil Kepala Staf Kepresidenan Republik Timor-Leste Graziela Fatima Liu Soares; Sekretaris Negara Bidang Seni dan Kebudayaan Republik Timor-Leste Jorge Cristovao; serta Wali Kota Darwin, Australia, Peter Styles. *** (Lau Kaza)

VIDEO REKOMENDASI:

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

REDAKSI: JL. KH. MAS MANSYUR NO. 122 B, KEL. KARET TENGSIN, KEC. TANAH ABANG KOTA JAKARTA PUSAT - WA: 0856 9118 1460  
EMAIL: [email protected]
NKRIPOSTCO ©Copyright 2026 | All Right Reserved