Prabowo Kenalkan Susanah, Pengupas Bawang di Bogor dengan Upah Rp700 Ribu per Kg, Ini 8 Tamu Istimewa Presiden Di Pidato Kenegaraan!
Diterbitkan Sabtu, 15 Agustus, 2026 by NKRIPOST

NKRIPOST, JAKARTA – Presiden Prabowo Subianto memperkenalkan 8 “tamu istimewa” saat menyampaikan Pidato Kenegaraan dalam Sidang Tahunan MPR dan Sidang Bersama DPR-DPD di Kompleks Parlemen, Jakarta, Jumat (15/8/2026).
Kedelapan warga ini dipilih karena merasakan langsung manfaat program-program andalan pemerintahan Prabowo, mulai dari Makan Bergizi Gratis (MBG), Sekolah Rakyat, PKH, hingga KPR Subsidi FLPP.
“Mereka adalah wajah Indonesia yang sesungguhnya. Mereka bekerja keras, berjuang, dan kini merasakan kehadiran negara,” kata Prabowo.
1. Susanah, Pengupas Bawang dari Bogor Upah Rp700 Ribu/Kg
Susanah warga Kabupaten Bogor bekerja sebagai buruh harian mengupas bawang.
“Hadir bersama kita Ibu Susanah dari Kabupaten Bogor. Ia bekerja sebagai buruh harian mengupas bawang dengan upah sekitar Rp700 ribu per kilogram. Program Keluarga Harapan dan Program Sembako membantu menjaga pendidikan anak-anaknya,” ujar Prabowo.
Dengan bantuan PKH dan Sembako, Susanah bisa memastikan anak-anaknya tetap sekolah meski penghasilannya tidak menentu.

BACA JUGA:
Yang Selamatkan Kita Saat Krisis Adalah UMKM: Prabowo Genjot 30 Ribu Koperasi Desa 2026
2. Joko Purnomo, Petani Ngawi Panen 3 Kali Setahun
Joko Purnomo, Ketua Kelompok Tani dari Desa Purwosari, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. Sudah 20 tahun bertani.
“Dengan air, teknologi dan pupuk yang telah disediakan oleh pemerintah, ia sekarang mampu panen tiga kali setahun. Dengan produktivitas sampai 9 ton padi per hektare,” kata Prabowo.
Joko merasakan langsung manfaat kebijakan penurunan harga pupuk bersubsidi.
3. Kristina Beno, Siswi Merauke Penerima MBG
Kristina Beno, siswi kelas 6 SD dari Merauke, Papua Selatan. Ia hadir pertama kali ke Gedung MPR.
“MBG telah membantu Christina menjadi lebih bugar, lebih fokus, dan lebih rajin hadir di sekolah. Bagi Kristina dan puluhan juta penerima MBG setiap hari sekolah, satu piring makanan adalah tenaga untuk belajar, protein untuk tumbuh badan yang sehat,” ungkap Prabowo.
4. Muhammad Risky Pratama, Siswa Sekolah Rakyat Usia 12 Tahun
Muhammad Risky Pratama, 12 tahun. Dulu sempat putus sekolah dan mengayuh sepeda puluhan kilometer sambil jualan 30 kg ikan.
“Waktu masuk Sekolah Rakyat, ia belum lancar membaca dan belum bisa menghitung dengan baik. Hari ini Rizki kembali ke sekolah. Ia mendapatkan kembali haknya untuk belajar dan menata cita-cita,” jelas Prabowo.
“Tidak ada investasi yang lebih berharga daripada mengembalikan masa depan seorang anak,” tambahnya.
5. Citra Nur Ramadhani, Juara Karate dari Pangkep
Citra Nur Ramadhani, 10 tahun, dari Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan, Sulawesi Selatan. Hampir putus sekolah karena bantu ibunya jualan kacang. Ayahnya wafat, ibunya penyandang disabilitas.
“Sekolah Rakyat memberi Citra kesempatan untuk belajar tanpa meninggalkan keluarganya menghadapi perjuangan sendiri. Citra pun kemarin berhasil menjadi juara karate tingkat kabupaten,” tutur Prabowo.
Prabowo sempat bercanda: “Citra, umurmu berapa? 10 tahun? Ya nanti 10 tahun lagilah kau boleh pacaran. Citra, kau boleh pacaran setelah sabuk hitam karatemu ya”.
BACA JUGA:
Berdiri di Kaki Sendiri: Prabowo Tegaskan Pertumbuhan Harus Berujung Kesejahteraan Rakyat
6. Thelma Humena, Rumahnya Direnovasi Lewat BSPS
Thelma Humena dari Kota Manado. Rumahnya dulu rapuh, dinding dan atap rusak.
“Melalui Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya atau BSPS, keluarganya dapat memperbaiki rumah itu,” kata Prabowo.
7. Andre Kawaru, Pedagang Kelinci Punya Rumah Lewat FLPP
Andre Kawaru dari Samarinda. Bertahun-tahun jualan kelinci dari pasar malam ke pasar malam dan tinggal di kontrakan.
“Melalui KPR Subsidi FLPP, Pak Andre kini memiliki rumah sendiri. Bagi keluarga Pak Andre dan jutaan rakyat Indonesia, rumah bukan sekadar aset. Rumah adalah ketenangan, martabat, dan masa depan,” ucap Prabowo.
8. Margarelitha Rohi, Penerima Bansos ATENSI dari Kupang
Margarelitha Rohi dari Kupang, Nusa Tenggara Timur. Sejak kecil hidup sulit dan tidak pernah mengenyam pendidikan. Usia 38 tahun masih berdagang dan merawat tantenya yang 80 tahun.
“Bantuan Sosial ATENSI berupa beras dan minyak menjadi penopang keluarganya,” pungkas Prabowo.
Kehadiran 8 warga ini menjadi simbol bahwa program prioritas pemerintah sudah menyentuh langsung ke masyarakat:
PKH + Sembako, Pupuk Murah, MBG, Sekolah Rakyat, BSPS, FLPP, dan Bansos ATENSI.
Prabowo menegaskan negara harus hadir untuk yang paling membutuhkan.
“Ini bukan sekadar bantuan. Ini investasi sumber daya manusia untuk Indonesia Emas 2045,” tuturnya.
BACA JUGA:
Berdiri di Kaki Sendiri: Prabowo Tegaskan Pertumbuhan Harus Berujung Kesejahteraan Rakyat
Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi mengungkap alasan Presiden Prabowo Subianto membawa delapan “tamu spesial” ke Sidang Tahunan MPR dan Sidang Bersama DPR-DPD di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (15/8/2026).
Menurut Prasetyo, kehadiran 8 warga dari berbagai daerah itu untuk membuktikan secara nyata bahwa program-program prioritas pemerintah benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Usai mengikuti geladi bersih Upacara HUT ke-81 RI di Istana Merdeka, Sabtu (15/8/2026), Prasetyo menjelaskan maksud di balik kehadiran para tamu tersebut.
“Kenapa dihadirkan? Itu untuk membuktikan bahwa apa yang kita kerjakan, program yang kita kerjakan, memang betul-betul memberikan dampak yang memang signifikan,” kata Prasetyo kepada wartawan.
Kedelapan tamu itu merupakan penerima manfaat dari berbagai program unggulan, mulai dari Sekolah Rakyat, Makan Bergizi Gratis (MBG), PKH, Program Sembako, Bansos ATENSI, BSPS, hingga KPR Subsidi FLPP.
Contoh Nyata: Swasembada Pangan dan Joko Purnomo dari Ngawi
Prasetyo mencontohkan keberhasilan program swasembada pangan. Pemerintah membenahi distribusi pupuk, irigasi, dan teknologi pertanian sehingga produktivitas petani naik.
Salah satu buktinya adalah Joko Purnomo, Ketua Kelompok Tani dari Desa Purwosari, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, yang turut hadir di Senayan.
“Awalnya hanya bisa panen satu kali. Sekarang sudah bisa menjadi dua kali atau bahkan menjadi tiga kali,” tutur Prasetyo.
Dengan produktivitas mencapai 9 ton per hektare, Joko menjadi representasi petani yang diuntungkan kebijakan pupuk murah. Peningkatan inilah yang disebut Prasetyo sebagai faktor utama Indonesia berhasil meraih swasembada beras.
Lebih dari itu, Prasetyo menyebut kehadiran 8 tamu juga merupakan bentuk apresiasi Prabowo kepada rakyat yang telah memanfaatkan program dengan baik.
“Itu bagian dari Bapak Presiden mengucapkan terima kasih kepada seluruh petani di seluruh Indonesia. Karena tanpa petani memiliki iklim yang baik, benih yang baik, pupuk yang tersedia murah, air irigasi yang mengalir, itu tidak akan mungkin tercapai swasembada pangan kita. Jadi konteksnya lebih ke situ,” ujar Prasetyo..**
