Dari Hulu ke Hilir: Guntur Bisowarno Ajak Ilmu Pengetahuan Turun Jadi Aksi Jaga Bumi
Diterbitkan Jumat, 14 Agustus, 2026 by NKRIPOST

NKRIPOST JATIM – Ketika ilmu pengetahuan, sains, dan spiritualitas turun dari Hulu ke Hilir, pengetahuan tidak lagi berhenti sebagai gagasan di atas kertas. Ia menjadi pegangan untuk membangun peradaban. Menuntun akal pikiran manusia memahami kehidupan, alam, dan tanggung jawabnya terhadap masa depan.
Pesan itu disampaikan Guntur Bisowarno dalam refleksi “Alarm Ekologis” yang digagas dari kawasan Hulu HULUNISASI Gunung Bromo Tengger Semeru, Jumat (14/8/2026).
Alarm Ekologis: Ajakan Kembali ke Hubungan Manusia dan Alam
Di tengah perubahan lingkungan, Guntur menyebut muncul “alarm ekologis” yang harus didengarkan.
Alarm itu bukan sekadar peringatan tentang kerusakan hutan, terancamnya mata air, banjir, longsor, atau kekeringan. Lebih dari itu, ia adalah ajakan untuk melihat ulang hubungan antara manusia, alam, ilmu, spiritualitas, dan kebudayaan.
“Sebab, ketika pengetahuan dari Hulu bertemu dengan kesadaran dan tindakan di Hilir, ilmu tidak lagi hanya menjadi bahan pemikiran. Ia dapat menjadi laku, menjadi pegangan, dan menjadi bagian dari upaya menjaga keberlangsungan kehidupan serta peradaban manusia,” ujarnya.
Gagasan HULU HULUNISASI lahir dari Bromo Tengger Semeru. Perspektif ini menempatkan persoalan lingkungan bukan hanya sebagai persoalan biofisik, melainkan juga persoalan manusia, nilai, kebudayaan, etika, dan kesadaran.
Dalam perspektif Humaniora, alam tidak seharusnya dipandang hanya sebagai objek pemanfaatan.
“Alam merupakan bagian penting dari kehidupan manusia sekaligus fondasi yang memungkinkan lahirnya kebudayaan, kehidupan sosial, ekonomi, serta peradaban,” kata Guntur.
Karena itu ia menekankan: “Bumi tidak membutuhkan lebih banyak teori semata, melainkan membutuhkan kebudayaan yang mampu bertindak.”
Pengetahuan harus menemukan jalannya menuju tindakan. Tindakan itu harus dimulai dari Hilir.
Guntur mencontohkan hilirisasi gagasan itu di Desa Ngadirejo, Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan.
Melalui program JATIM MELAJU dan Satgas Peduli Mata Air, gagasan Humaniora diterjemahkan jadi aksi nyata. Salah satu ruang geraknya adalah Bamboo Spirit Nusantara dengan tradisi Saresehan Roso Orep Sejati.
Di sana ada semangat penanaman, penjagaan mata air, penguatan komunitas, dan membangun kesadaran bahwa menjaga lingkungan = menjaga kehidupan.
“Gerakan tersebut menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan dari perguruan tinggi dapat berjalan bersama ilmu laku yang tumbuh di tengah masyarakat. Keduanya tidak harus dipertentangkan, tetapi dapat saling melengkapi,” paparnya.
Guntur juga menyorot pendekatan Okta Heliks. Jika Penta Heliks melibatkan akademisi, bisnis, pemerintah, komunitas, dan media, maka Okta Heliks menambahkan 3 unsur:
1. Spiritual Kebijaksanaan
2. Adat Leluhur
3. Alam sebagai Subyek
Dalam kerangka ini, Dewan Pertimbangan Sains Spiritual Kerakyatan ditempatkan sebagai perajut. Perannya mempertemukan pengetahuan, kebijaksanaan, pengalaman masyarakat, dan tindakan nyata.
BACA JUGA:
Guntur Bisowarno: Di Balik Kisah Drupadi Tersimpan Pesan tentang Martabat Perempuan dan Kebangkitan dari Luka
Bagi Guntur, persoalan ekologis adalah persoalan moral. Keputusan hari ini akan diwariskan ke generasi mendatang.
“Apabila generasi sekarang mewariskan sungai yang tercemar, hutan yang rusak, mata air yang mengering, maka itu cermin keputusan kebudayaan kita. Sebaliknya, jika kita menjaga mata air, memulihkan hutan, melindungi ruang terbuka, kita sedang menciptakan warisan kebudayaan baru,” tegasnya.
Ia mengingatkan, menjaga mata air bukan sekadar menjaga air. Menjaga hutan bukan sekadar menjaga pohon. Semua itu adalah upaya menjaga keberlangsungan kehidupan.
Tanggung jawab itu tidak hanya di pundak pemerintah. Perguruan tinggi, komunitas, tokoh budaya, pelaku usaha, media, dan generasi muda punya ruang masing-masing untuk bergerak.
“Ketika ilmu pengetahuan dari Hulu bertemu dengan tindakan nyata di Hilir, dan pengalaman dari Hilir kembali jadi bahan refleksi di Hulu, maka Humaniora tidak lagi di menara gading,” pungkas Guntur.
Dari Bromo Tengger Semeru hingga Desa Ngadirejo, Tutur, Pasuruan, pesannya jelas:
“Bumi tidak hanya membutuhkan manusia yang mengetahui, tetapi manusia yang mau menjaga, merawat, bertindak, dan mewariskan kehidupan.” (FAJAR)
