Pengamat Nilai Kepercayaan Publik kepada Tiyo Ardianto dan Fatimah Az-Zahra Jadi Momentum Pendidikan Nasional Kembali Menanamkan Nilai Akhlak dan Keteladanan
Diterbitkan Sabtu, 27 Juni, 2026 by NKRIPOST

NKRIPOST JAKARTA – Meningkatnya kepercayaan publik terhadap Tiyo Ardianto dan Fatimah Az-Zahra tidak semata-mata mencerminkan popularitas dua figur di ruang publik. Fenomena tersebut dinilai menjadi isyarat bahwa masyarakat Indonesia semakin merindukan hadirnya sosok sosok yang mampu memberikan keteladanan, nilai moral, dan inspirasi di tengah berbagai tantangan kehidupan modern. Di sisi lain, kondisi ini juga menjadi pengingat bahwa pendidikan nasional perlu kembali menempatkan pembentukan akhlak dan karakter sebagai fondasi utama.
Pandangan tersebut disampaikan oleh Dr. Iswadi, M.Pd, Pengamat Pendidikan, yang menilai bahwa fenomena ini layak dibaca sebagai refleksi sosial sekaligus momentum untuk memperkuat kembali orientasi pendidikan nasional. Menurutnya, ketika masyarakat memberikan kepercayaan besar kepada figur-figur yang dianggap mampu menyampaikan pesan dengan santun, sederhana, dan menyentuh nilai nilai kemanusiaan, maka dunia pendidikan harus melakukan evaluasi secara menyeluruh.
“Kepercayaan masyarakat tidak lahir hanya karena kepandaian berbicara atau popularitas di media sosial. Dalam perspektif nilai-nilai agama, kepercayaan tumbuh dari akhlak, kejujuran, amanah, dan konsistensi antara ucapan dan perbuatan. Nilai-nilai inilah yang sesungguhnya harus menjadi ruh pendidikan kita,” ujar Dr. Iswadi dalam keterangannya, Sabtu (27/6/2026).
Menurutnya, pendidikan dalam pandangan Islam tidak pernah hanya bertujuan mencetak manusia yang cerdas secara intelektual, tetapi juga membentuk insan yang beriman, berakhlak mulia, serta bermanfaat bagi sesama. Ia mengingatkan bahwa Rasulullah SAW diutus bukan semata untuk mengajarkan ilmu, melainkan untuk menyempurnakan akhlak manusia.
Karena itu, kata Dr. Iswadi, fenomena meningkatnya kepercayaan masyarakat kepada figur tertentu hendaknya dipahami sebagai kerinduan publik terhadap hadirnya teladan yang mampu menghidupkan nilai nilai kejujuran, kesederhanaan, kepedulian, dan integritas dalam kehidupan sehari hari.
Ia menilai bahwa selama beberapa dekade, sistem pendidikan nasional cenderung lebih menitikberatkan pada capaian akademik dan penguasaan materi pelajaran. Nilai rapor, kelulusan, dan prestasi kompetitif sering kali menjadi ukuran utama keberhasilan pendidikan. Sementara itu, pendidikan karakter, pembiasaan akhlak, penguatan adab, dan keteladanan belum mendapatkan porsi yang memadai.
“Akibatnya, kita berhasil melahirkan banyak orang yang pintar, tetapi belum tentu memiliki kepekaan sosial, empati, kejujuran, dan tanggung jawab moral yang kuat. Padahal bangsa ini membutuhkan generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berakhlak mulia,”katanya.
Dr. Iswadi menegaskan bahwa perkembangan teknologi digital semakin memperkuat pentingnya pendidikan karakter. Di tengah derasnya arus informasi, masyarakat membutuhkan kemampuan untuk membedakan antara kebenaran dan kepentingan, antara ilmu yang membawa manfaat dan informasi yang menyesatkan.
Menurutnya, kecakapan digital harus berjalan seiring dengan pembinaan spiritual. Tanpa landasan moral yang kokoh, kemajuan teknologi justru berpotensi melahirkan penyalahgunaan informasi, polarisasi sosial, hingga lunturnya etika dalam kehidupan bermasyarakat.
BACA JUGA:
Dr. Iswadi Ungkap Lima Isu Sentral yang Mendominasi Diskursus Tantangan Pendidikan Indonesia
Ia menjelaskan bahwa Islam telah memberikan landasan yang sangat kuat mengenai pentingnya ilmu pengetahuan yang disertai akhlak. Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang melahirkan kebijaksanaan, mendekatkan manusia kepada Allah SWT, serta memberikan manfaat bagi kehidupan orang lain.
“Keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari banyaknya gelar atau tingginya nilai akademik, tetapi juga dari lahirnya manusia yang amanah, rendah hati, menghormati sesama, serta mampu menjadi rahmat bagi lingkungannya,” ujarnya.
Dr. Iswadi juga mengajak para guru dan dosen untuk menghidupkan kembali budaya keteladanan di lingkungan pendidikan. Menurutnya, peserta didik belajar bukan hanya dari materi yang disampaikan di ruang kelas, tetapi juga dari sikap, perilaku, dan integritas para pendidik dalam kehidupan sehari hari.
“Guru adalah pewaris tugas para nabi dalam mendidik umat. Karena itu, keteladanan merupakan metode pendidikan yang paling efektif. Peserta didik akan lebih mudah meneladani apa yang mereka lihat daripada sekadar mendengar nasihat,” katanya.
Selain itu, ia menekankan pentingnya keterlibatan keluarga sebagai madrasah pertama bagi anak-anak. Orang tua, menurutnya, memiliki peran yang sangat besar dalam membentuk karakter, kebiasaan ibadah, kejujuran, disiplin, dan rasa tanggung jawab sejak usia dini.
Ia menilai bahwa keberhasilan pendidikan tidak mungkin hanya dibebankan kepada sekolah. Sinergi antara keluarga, lembaga pendidikan, pemerintah, tokoh agama, dan masyarakat merupakan kunci dalam membangun generasi yang unggul secara intelektual sekaligus kuat secara spiritual.
Dr. Iswadi berharap fenomena meningkatnya kepercayaan masyarakat kepada Tiyo Ardianto dan Fatimah Az-Zahra tidak dipahami sebagai persoalan individu semata, tetapi sebagai cermin bahwa masyarakat sedang merindukan hadirnya figur figur yang mampu menghadirkan nilai, keteladanan, dan harapan.
“Bangsa ini sesungguhnya sedang merindukan pemimpin, pendidik, dan tokoh masyarakat yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki akhlakul karimah. Itulah sebabnya siapa pun yang mampu menunjukkan integritas, kepedulian, dan ketulusan akan memperoleh tempat di hati masyarakat,” ujarnya.
Lebih jauh, ia mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk menjadikan pendidikan sebagai sarana membangun peradaban yang berlandaskan nilai nilai keimanan, ilmu pengetahuan, dan akhlak mulia.
Menurutnya, pendidikan harus kembali kepada hakikatnya, yakni membentuk manusia seutuhnya (insan kamil), yang memiliki keseimbangan antara kecerdasan intelektual, emosional, sosial, dan spiritual.
“Jika pendidikan mampu mengembalikan akhlak sebagai inti pembelajaran, maka kita tidak hanya akan melahirkan generasi yang unggul dalam ilmu pengetahuan, tetapi juga generasi yang membawa keberkahan bagi bangsa dan menjadi teladan bagi masyarakat. Kepercayaan publik sejatinya bukan diraih melalui pencitraan, melainkan melalui akhlak yang baik, kejujuran yang konsisten, dan pengabdian yang tulus kepada sesama. Itulah nilai-nilai yang harus kembali menjadi napas pendidikan Indonesia,” tutup Dr. Iswadi, M.Pd.***
