NKRIPOST

NKRIPOST – VOX POPULI PRO PATRIA

Sidang Perdana Ketua Araksi NTT Kasus Dugaan Laporan Palsu, Jaksa Urai Fakta Hukum

Listen to this article

Diterbitkan Selasa, 14 Maret, 2023 by NKRIPOST

Sidang Perdana Ketua Araksi NTT Alfred Baun Dalam Kasus Dugaan Laporan Palsu Terhadap Sejumlah Proyek

NKRI POST KUPANG – Terdakwa Ketua Araksi NTT Alfred Baun mengikuti sidang perdana dalam kasus dugaan pembuatan laporan palsu terhadap sejumlah proyek.

Sidang perdana yang digelar di Kejaksaan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Kupang, Selasa 14 Maret 2023 dengan agenda pembacaan surat dakwaan oleh JPU.

Dalam sidang perdana tersebut dipimpin Ketua Majelis Hakim, Sarlota Suek dan didampingi dua hakim anggota lainnya.

Sementara pihak Kejari TTU diwakili oleh oleh jaksa penuntut umum Kejari TTU, Andrew Keya.

Dalam sidang tersebut, terungkap ada keterlibatan pengusaha ternama yaitu Hironimus Taolin alias Terus dan seorang wartawan faktahukumntt.com atas nama Frederikus Naiboas alias Fe.

Surat dakwaan itu, JPU mengungkapkan bahwa pada bulan Juli 2022 sampai dengan September 2022, terdakwa mendapatkan informasi dari Hironimus Taolin seorang pengusaha di Kabupaten TTU yang merupakan kenalan dekat terdakwa mengenai adanya dugaan tindak pidana korupsi dalam beberapa paket pekerjaan yang bersumber dari APBD Kabupaten TTU Tahun Anggaran 2021.

Informasi yang diterima terdakwa dari Hironimus Taolin yaitu adanya pekerjaan Jalan Nona Manis di Desa Tuamese yang bersumber dari Dana APBD Tahun 2021 yang mengalami kerusakan serta pekerjaan pembangunan embung Oenoah di Desa Nifuboke Tahun Anggaran 2021 yang tidak berfungsi.

Ketua Aliansi Rakyat Anti Korupsi Alfred Baun ,SH

BACA JUGA:

Kawal Proses Evaluasi, Forum Armet Bakar Lilin Di Batu Nisan Kantor Bupati TTU

Pemuda Di TTU Tega Telanjangi Kakek 60 Tahun Yang Lagi Mabuk, Viral Setelah Kirim Ke Ibu Kades

Duh!!! Oknum PNS Rangkap Jabatan BPD, Masyarakat Desa Kaubele Minta Pemda TTU Bertindak

Berdasarkan informasi yang diterima terdakwa dari Hironimus Taolin, pihak yang melaksanakan pekerjaan Jalan Nona Manis dan embung tersebut adalah German Salem yang merupakan kakak kandung dari Januarius Salem yang menjabat sebagai Kepala Dinas PUPR Kabupaten TTU, sedangkan yang melaksanakan pekerjaan perencanaan dan pengawasan adalah Melki Lopez yang adalah kepokanan kandung dari Januarius Salem.

Setelah mendapatkan informasi dari Hironimus Taolin, terdakwa pada sekitar bulan Juli 2022, meninjau lokasi pekerjaan Embung Nifoboke yang saat itu masih dalam masa pemeliharaan pekerjaan. Setelah itu Terdakwa menghubungi Charles Paulus Baker selaku Ketua Araksi TTU untuk melakukan investigasi lanjutan terkait dengan embung tersebut.

Atas permintaan terdakwa tersebut, masih dalam waktu antara bulan Juli 2022 sampai dengan September 2022, Charles Paulus Baker bersama-sama dengan Frederikus Naiboas selaku anggota Araksi TTU dan juga sebagai wartawan media Online faktahukumntt.com mendatangi lokasi pekerjaan embung Oenoah di Desa Nifuboke.

Pada saat Charles Paulus Baker dan Frederikus Naiboas turun ke lokasi, Charles Paulus Baker dan Frederikus Naiboas bertemu pihak kontraktor pelaksana yaitu CV. Gratia yang sementara melakukan pekerjaan pemeliharaan yaitu dengan cara mengeruk dasar embung termasuk air dan lumpur untuk dipadatkan kembali sehingga pada saat itu Charles Paulus Baker dan Frederikus Naiboas mendapati kondisi embung dalam keadaan kering.

Selanjutnya Charles Paulus Baker meminta kepada staf CV. Gratia yang berada dilokasi untuk memanggil Mardanus Tefa selaku Direktur CV. Gratia agar datang ke lokasi untuk melakukan wawancara. Pada saat Mardanus Tefa datang ke lokasi dan diwawancarai, Mardanus Tefa saat itu menyampaikan pekerjaan tersebut masih dalam masa pemeliharaan.

Mardanus Tefa juga menyampaikan kepada Charles Paulus Baker bahwa debit air belum maksimal karena kondisi tanah embung belum kedap air dan
curah hujan yang masih rendah sementara masyarakat meminta agar embung tersebut bisa dapat berfungsi segera dan oleh karenanya kontraktor pelaksana melakukan pengerukan ulang dan pemadatan kembali serta akan melakukan pekerjaan tambahan yang diperlukan yaitu pekerjaan pemasangan geomembran dan pemasangan pipa sepanjang satu kilo meter yang tidak terdapat dan tidak dibiayai dalam kontrak dengan biaya tambahan yang dikeluarkan oleh Mardanus Tefa selaku Direktur CV. Gratia sebesar Rp. 127.774.440.

Bahwa setelah melakukan peninjauan lapangan tersebut, Charles Paulus Baker melalui Frederikus Naiboas meminta Mardanus Tefa untuk bertemu dengan Charles Paulus Baker di rumahnya dan pada saat pertemuan tersebut, Charles Paulus Baker menyampaikan kepada Mardanus Tefa bahwa untuk pekerjaan Embung ini Charles Paulus Baker dapat mengatur agar tidak dilaporkan ke Aparat Penegak Hukum asalkan Mardanus Tefa dapat memberikan uang sebesar Rp. 10.000.000, kepada Charles Paulus Baker untuk kemudian akan diberikan kepada terdakwa sebagai biaya bagi terdakwa dalam melakukan koordinasi dengan Aparat Penegak Hukum agar terhadap pekerjaan Embung Oenoah tersebut tidak diproses secara hukum.

Hal tersebut disampaikan Charles Baker dengan mengatakan kepada Mardanus Tefa dengan kalimat:

“biar bos di kupang tidak lapor harus kasih sejumlah uang kepada Bos di Kupang karena Bos di Kupang ini sering makan malam dengan orang Kejaksaan dan orang Polda sebab makan malam tersebut tidak ada yang gratis dan itu paling minim sepuluh ribu”

Kemudian karena merasa tertekan dan diancam Mardanus Tefa menjawab: “Baik saya usahakan tapi kasih saya waktu satu minggu”dan dijawab Charles Baker “Kalau bisa hari jumat sudah ada”.

Karena setelah pertemuan tersebut Mardanus Tefa belum menyerahkan uang sebagaimana diminta oleh Charles Baker maka dengan maksud untuk menekan Mardanus Tefa agar dapat segera menyerahkan uang yang diminta, Charles Baker bersama dengan Frederikus Naiboas membuat pemberitaan terkait adanya dugaan tindak pidana korupsi pada pekerjaan pembangunan Embung Oenoah yaitu dengan judul pemberitaan Proyek Embung Nifuboke TTU Amburadul, ARAKSI siap laporkan Kontraktor. Pemberitaan tersebut dilakukan pada tanggal 4 Agustus 2022 melalui media online faktahukumntt.com dengan penulis berita Frederikus Naiboas.

Setelah adanya pemberitaan tersebut, Charles Baker menghubungi Mardanus Tefa dan meminta Mardanus Tefa bertemu dengan dirinya di rumahnya yang terletak di Jalan Jambu, RT/RW : 014/001, Kelurahan Aplasi, Kota Kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah Utara.

Ketua Araksi NTT, Alfret Baun.SH

BACA JUGA:

DPD GMNI NTT Desak Kapolres TTU Segera Usut Tuntas Aksi Premanisme Terhadap Kadernya

Sejumlah Bangunan Di Perempatan Terminal Kefamenanu Ludes Terbakar 

Hery Tikneon: Bupati TTU Harus Segera Copot Kepala BKD PSDM

Mardanus Tefa yang merasa tidak nyaman dengan adanya pemberitaan tersebut, selanjutnya menghubungi Frederikus Naiboas untuk bersama-sama dengan dirinya bertemu dengan Charles Baker dan sebelum Mardanus Tefa dan Frederikus Naiboas bertemu Charles Baker, Mardanus Tefa meminta kepada Frederikus Naiboas untuk dapat menghapus berita tersebut dan atas permintaan Mardanus Tefa tersebut, Frederikus Naiboas menyanggupinya dengan mendapatkan bayaran sebesar Rp. 500.000 dari Mardanus Tefa.

Mardanus Tefa bersama dengan Frederikus Naiboas kemudian mendatangi dan bertemu dengan Charles Baker di rumahnya, dan pada saat pertemuan tersebut, Mardanus Tefa menyerahkan uang sebesar Rp. 12.000.000, kepada Charles Baker.

Mengenai informasi yang diterima terdakwa dari Hironimus Taolin berkaitan dengan dugaan tindak pidana korupsi dalam pekerjaan Jalan Nona Manis di Desa Tuamese, Kecamatan Biboki Anleu, Kabupaten TTU yang bersumber dari APBD Kabupaten TTU Tahun Anggaran 2021, terdakwa maupun anggota ARAKSI lainnya sama sekali tidak pernah melakukan pengecekan dilapangan.

Terdakwa mendapatkan informasi tersebut semata – mata hanya berdasarkan informasi dan foto-foto pekerjaan jalan yang disebut Hironimus Taolin sebagai pekerjaan Jalan Nona Manis yang dikirimkan Hironimus Taolin kepada terdakwa melalui aplikasi WhatsApp (WA).

Dijelaskan JPU, Perbuatan Terdakwa yang memberitahukan atau mengadukan terjadinya suatu tindak pidana korupsi tanpa didasari oleh data-data dan bukti yang mendukung baik kepada Aparat Penegak Hukum maupun melalui pemberitaan di media online.

Tindakan tersebut juga dengan maksud untuk menakut-nakuti, mengancam dan melakukan pemerasan terhadap pihak-pihak terkait bertentangan dengan semangat dan nilai-nilai yang berhubungan dengan peran serta masyarakat dalam pemberantasan tindak pidana korupsi.

Tindakan itu sebagaimana yang diatur dalam Pasal 41 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi dan Peraturan Pemerintah Nomor: 71 Tahun 2000 tentang Tata Cara Peran Serta Masyarakat dan Pemberian Penghargaan dalam Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Perbuatan Terdakwa tersebut juga bertentangan dengan visi, misi, tujuan dan maksud pendirian Lembaga ARAKSI dalam Akta Pendirian maupun Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga ARAKSI.

Selain itu, perbuatan Terdakwa menodai perjuangan pemberantasan tindak pidana korupsi yang dilakukan oleh orang-perorangan atau kelompok orang sebagai wujud dari peran serta masyarakat dalam pemberantasan tindak pidana korupsi serta dapat menjadi preseden buruk bagi tiap-tiap upaya orang-perorangan atau kelompok orang yang secara jujur, obyektif dan profesional melaporkan terjadinya suatu tindak pidana korupsi. ( * M@u *).

VIDEO REKOMENDASI:

https://youtube.com/shorts/FHFJYMReHO8?feature=share

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

REDAKSI: JL. RAYA PENGGILINGAN NOMOR 21 CAKUNG JAKARTA TIMUR DKI JAKARTA TLP. (021) 2246 9861 WA: 0852 1744 4076 - 0856 9118 1460  
EMAIL: [email protected]
NKRIPOSTCO ©Copyright 2024 | All Right Reserved