Bupati Solok Epyadi Asda Hadiri Peluncuran Dan Bedah Buku Musliar Kasim
Diterbitkan Sabtu, 3 Desember, 2022 by NKRIPOST
Biografi Musliar Kasim
Oleh: Munzir Busniah
Dosen Faperta Unand.
Dikutip kadek Jawapos
Misliar Kasim adalah profesor agronomi di Fakultas Pertanian (Faperta) Universitas Andalas (Unand). Tidak hanya sebagai pakar pertanian, namun kiprahnya jauh melewati bidang ilmunya hingga pernah diberi amanah sebagai Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.
Perjalanan panjangnya tersebut telah ditulis dalam bentuk biografi dengan judul “Musliar Kasim, Keutuhan Pendidikan, Keterampilan dan Sikap” oleh Fajar Rusvan, Sri Iliryati Putri dan Ria Candra Pola yang diterbitkan oleh JC Institute.
Tentu dengan membaca buku tersebut kita dapatkan banyak hikmah, motivasi dan inspirasi dari perjalanan hidup Prof Musliar Kasim dengan narasi keutuhan pengetahuan, keterampilan dan sikap dalam menggapai kesuksesan.
Lahir pada 29 April 1958 di Padangganting Tanahdatar, Prof Musliar memperoleh gelar insinyur pertanian tahun 1983 di Fakultas Pertanian Unand. Musliar muda menjadi dosen di almamaternya tersebut. Gelar doktor diraihnya di UPLB Filipina tahun 1992 dan menjadi Profesor Ilmu Pertanian tahun 2004.
Tahun 2005 sampai 2011 Prof Musliar diberi amanah sebagai rektor Unand, dan dari tahun 2011 sampai 2014 mengemban amanah sebagai Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.
Setelah menyelesaikan tugas sebabagi Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, sampai saat ini kembali mengabdi menjadi dosen di almamaternya Faperta Unand. Di samping itu, sejak tahun 2016 sampai saat ini juga diberi amanah untuk menjabat Rektor Universitas Baiturrahmah Padan.
Dalam bidang keilmuan, Prof Musliar adalah profesor di bidang agronomi, khususnya banyak melakukan kajian tentang budidaya padi sawah dengan system rice intensification (SRI). SRI adalah intensifikasi padi sawah dengan metode berbeda dibandingkan dengan cara konvensional dalam hal teknik dan waktu pindah bibit, pengelolaan air, serta pengelolaan gulma.
Dari segi agronomi, metode SRI memiliki potensi jauh lebih besar dari cara bercocok tanam padi secara konvensional. Meskipun sejauh ini masih terdapat berbagai kendala sosial dalam aplikasinya sehingga masih belum banyak diadopsi.
Tulisan ini sekelumit menukilkan tentang Prof Musliar dalam hal memanifestasikan “keutuhan pengetahuan, keterampilan dan sikap”. Narasi tersebut yang telah menghantarkan kesuksesan bagi Prof Musliar. Tentu pula kita harus dapat memetik manfaat dari narasi “keutuhan pengetahuan, keterampilan dan sikap”.
Setelah kembali ke kampus pada akhir tahun 2014 atau awal 2015 dari jabatan Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Prof Musliar tidak hanya sekadar pulang ke Faperta Unand untuk mengajarkan ilmu pertanian, tetapi juga mengaplikasikan prinsip yang dianutnya tersebut.
Yaitu memanifestasikan “keutuhan pengetahuan, keterampilan dan sikap”. Setelah kembali menjadi dosen, Prof Musliar tidak hanya berada di ruang-ruang kelas untuk mendidik mahasiswanya, tetapi juga langsung turun ke sawah untuk mendampingi mahasiswanya.
Boleh dikatakan sejak kembali ke kampus, hari-hari Prof Musliar kembali banyak dihabiskan untuk “”berlumpur” di tengah sawah bersama mahasiswanya dalam melakukan praktik budidaya tanaman padi dengan metode SRI.
Pengetahuan (knowledge) hanya sebatas “to know” terhadap sesuatu yang didapatkan dari pancaindera (mata, hidung, telinga dan sebagainya). Keterampilan (skill) merupakan kapasitas seseorang untuk melakukan beragam tugas dalam suatu pekerjaan.
Atau keterampilan adalah kemampuan untuk melakukan sesuatu dengan baik, cepat dan tepat, tentu berdasarkan pengetahuan yang dimilikinya. Sikap (attitude) adalah cara seseorang berbuat sesuatu melalui ucapan dan bahasa tubuh.
Ketiga komponen tersebut (pengetahuan, keterampilan dan sikap) harus menjadi sebuah kesatuan yang utuh dilakukan untuk meraih kesuksesan, seperti yang telah dipraktekkan Prof Musliar, meskipun hanya dalam kegiatan rutin.
Demikianlah Prof Musliar telah mempraktikkan prinsip tersebut dalam kesehariannya sebagai seorang dosen ke mahasiswanya akan perlunya sebuah “keutuhan pengetahuan, keterampilan dan sikap”.
Tidak cukup hanya pengetahuan saja, namun perlu disertai dengan keterampilan dan sikap. Atau dengan gamblang dapat dinyatakan bahwa untuk meraih sukses tidak cukup hanya ijazah sarjana saja tetapi sangat perlu dilengkapi dengan keterampilan dan sikap yang baik.
Tentu saja harapan Prof Musliar adalah bagaimana mahasiswanya dapat pula menjadi “Musliar Kasim muda” untuk memulai merintis jalan-jalan kesuksesan di masa depan sehingga dapat melanjutkan perjuangannya.
Tentu tulisan pendek ini adalah sebuah kepingan puzzle kecil yang telah dilakukan Prof Musliar dengan narasi “keutuhan pengetahuan, keterampilan dan sikap” sebagai dosen Faperta Unand.
Sangat banyak kepingan puzzle lainnya bahkan dengan ukuran yang jauh lebih besar dan lebih bermakna yang telah dilakukannya baik sebagai Rektor Unand maupun sebagai Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia dengan narasi “keutuhan pengetahuan, keterampilan dan sikap” tersebut.
Terima kasih kita ucapkan kepada Prof Musliar yang telah bersedia mendokumentasikan perjalanan hidupnya dalam bentuk biografi dengan narasi “keutuhan pengetahuan, keterampilan dan sikap”.
Banyak hikmah yang dapat kita petik dari sini untuk meraih kesuksesan hidup. Terima kasih pula kepada para penulis dan penerbit yang telah menjadikan perjalanan Prof Musliar menjadi “abadi” dalam bentuk biografi. Selamat pula untuk Faperta Unand yang sedang merayakan hari jadinya yang ke-68.
Kita doakan semoga Prof Musliar tetap sehat, sehingga dapat berbagi semangat dalam narasi “keutuhan pengetahuan, keterampilan dan sikap”. Juga, semoga dari rahim Faperta Unand akan banyak lahir “Musliar Kasim muda” untuk kejayaan bangsa. Aamiinn ya Robb. (*)
