Rumah Adat 34 Provinsi di Indonesia, Lengkap Foto dan Penjelasan
Diterbitkan Selasa, 16 Maret, 2021 by NKRIPOST
Sumatera Barat: Rumah Gadang
Rumah Gadang disebut juga rumah adat bagonjong atau Rumah Baanjuang. Hal ini lantaran bagian atapnya berbentuk runcing menjulang (bergonjong). Terbuat dari ijuk serta memiliki bentuk menyerupai tanduk kerbau sehingga melambangkan kemenangan suku Minang dalam perlombaan adu kerbau di Pulau Jawa.
Rumah adat Sao Ata Mosa Lakitana yang berasal dari Nusa Tenggara Timur. Rumah adat asli Timor mempunyai bentuk seperti bulat telur dan tanpa tiang. Di dalam rumah adat ini terdapat suatu tempat suci untuk arwah nenek moyang yang pada saat-saat tertentu selalu diberi sesaji.

Sebagai salah satu negara pluralitas, tak heran bila Indonesia memiliki kekayaan budaya dan kesenian yang melimpah. Bahkan, setiap provinsi memiliki daya tarik dan keunikan tersendiri, salah satunya terlihat dari rumah adat. Apa saja rumah adat dari 34 provinsi di Indonesia? Yuk, simak selengkapnya!
Aceh: Rumoh Aceh, Rumah Krong Bade

Rumah adat Aceh berbentuk persegi panjang dan memanjang dari timur ke barat. Rumah ini memiliki tangga di depan rumah yang berfungsi untuk masuk kedalam rumah. Tinggi tangga tersebut sekitar 2,5 – 3 m dari permukaan tanah. Pada umumnya, anak tangga rumah krong bade berjumlah ganjil sekitar 7-9 anak tangga.
Sumatera Utara: Rumah Balai Batak Toba/Rumah Bolon

Rumah ini terbagi atas dua bagian yaitu jabu parsakitan dan jabu bolon. Jabu parsakitan adalah tempat penyimpanan barang yang juga sering dipakai sebagai tempat untuk membicarakan hal-hal terkait dengan adat. Sementara itu, Jabu bolon adalah rumah keluarga besar. Rumah ini tidak memiliki sekat atau kamar sehingga keluarga tinggal dan tidur bersama.
Sumatera Barat: Rumah Gadang

Rumah Gadang disebut juga rumah adat bagonjong atau Rumah Baanjuang. Hal ini lantaran bagian atapnya berbentuk runcing menjulang (bergonjong). Terbuat dari ijuk serta memiliki bentuk menyerupai tanduk kerbau sehingga melambangkan kemenangan suku Minang dalam perlombaan adu kerbau di Pulau Jawa.
Riau: Balai Salaso Jatuh/Rumah Adat Selaso Jatuh Kembar

Istilah Selaso Jatuh Kembar memiliki makna yang berarti rumah dengan dua selasar. Masyarakat Riau juga menyebut rumah adat ini dengan sebutan Balai Selaso Jatuh. Sesuai dengan namanya, Rumah Adat Riau ini bukanlah sebuah tempat tinggal melainkan sebuah balai yang digunakan untuk kegiatan musyawarah adat.
Kepulauan Riau: Rumah Melayu Atap Limas Potong

Rumah dengan atap limas potong merupakan rumah panggung yang memanjang ke arah belakang. Dinding rumah ini dibuat dengan papan kayu yang disusun secara vertikal dengan atap yang terbuat dari seng berwarna merah. Atap rumah ini memiliki lima bumbungan.
Jambi: Rumah Panggung

Secara garis besar, Provinsi Jambi memiliki 3 jenis rumah adat yaitu Rumah Adat Kajang Leko, Rumah Batu Pangeran Wirokusumo, dan Rumah Adat Merangin. Rumah Adat Kajang Leko merupakan jenis Rumah Adat Jambi yang paling populer diantara yang lainnya. Rumah adat ini menjadi ikon budaya Jambi seiring dengan diresmikannya replika Rumah Adat Kajang Leko di Taman Mini Indonesia Indah pada tahun 1970.
Bengkulu: Rumah Bubungan Lima

Sumatera ini sebenarnya memiliki beberapa macam rumah adat, seperti Bubungan Lima, Kubung Beranak, Umeak Potong Jang, Patah Sembilan, dan sebagainya. Pada bagian atas rumah terdapat atap yang terbuat dari ijuk atau bahan alami lainnya. Bagian tengah bangunan ini terdiri dari kosen atau kerangka rumah yang terbuat dari kayu balam. umah Bubungan Lima memiliki lantai yang terbuat dari papan yang telah diserut dengan halus, pelupuh atau juga bilah bambu.
Sumatera Selatan: Rumah Limas

Rumah Limas memiliki bentuk limasan yang merupakan perpaduan budaya Jawa dan Melayu. Rumah ini sebagian besar dibangun dari kayu ulin dan didirikan dengan tiang penyangga di bawahnya. Sebagian besar material rumah Limas terbuat dari kayu unggulan yang pemilihannya disesuaikan dengan karakter kayu dan kepercayaan masyarakat di Sumatera Selatan.
Bangka Belitung: Rumah Rakit dan Rumah Limas

Rumah Rakit merupakan rumah yang didirikan berada di atas perairan dengan bentuk seperti rakit. Mengingat Bangka Belitung terbatasi oleh perairan baik sungai maupun lautan maka banyak masyarakat Bangka yang membuat rumah diatas air sebagai tempat tinggal dan tempat bisnis ekonomi. Arsitektur rumah rakit ini masih dipengaruhi unsur budaya Melayu Bubung Panjang dan juga terdapat unsur Tionghoa.
Lampung: Rumah Nuwo Sesat

Rumah ini memiliki fungsi utama sebagai tempat pertemuan adat para purwatin atau penyeimbang adat untuk bermusyawarah. Selain itu, Nuwo Sesat juga memiliki bentuk menyerupai rumah panggung, namun berbahan kayu-kayu alami yang berbentuk anyaman ilalang unik khas Lampung pada sisi atapnya.
Jawa Barat: Rumah Kasepuhan

Rumah ini merupakan bentuk yang disempurnakan dari rumah adat sebelumnya, yaitu Keraton Pakungwati. Rumah Kasepuh merupakan peninggalan dari kerajaan Islam di Jawa Barat, khususnya dari Cirebon.
Banten: Rumah Adat Baduy

Secara umum rumah adat Baduy memilki gaya bangunan seperti rumah panggung. Bahan yang bisa digunakan untuk bangunan rumah adat Baduy adalah bambu. Rumah adat Badui merupakan simbol kesederhanaan dari masyarakatnya. Adapun keutamaan yang ingin didapat dari bangunan rumah ini adalah fungsi perlindungan dan kenyamanan.
DKI Jakarta: Rumah Kebaya dan Rumah Gudang

Disebut sebagai rumah kebaya karena bentuk atapnya yang menyerupai pelana. Jika dilipat dan dilihat dari samping maka lipatan-lipatan tersebut terlihat seperti lipatan kebaya. Ciri khas dari rumah ini adalah teras luas yang berguna untuk menjamu tamu dan menjadi tempat bersantai keluarga. Bagian depan rumah bersifat semi publik, sementara bagian belakang bersifat pribadi.
Jawa Tengah: Rumah Joglo

Di Jawa Tengah sebenarnya terdapat 4 jenis rumah adat, yaitu Panggangpe, bentuk Kampung, Limasan, dan Joglo. Joglo adalah bangunan rumah tradisional yang paling dikenal luas, kemudian disusul oleh Limasan. Rumah Joglo adalah bangunan berbentuk persegi dengan 4 tiang pokok di bagian tengah yang dinamakan Saka Guru dan terbuat dari kayu. Untuk menopang tiang menggunakan blandar bersusun yang dinamakan Tumpang Sari.
D.I. Yogyakarta: Rumah Joglo

rumah adat Joglo hanya dibagi ke dalam dua bagian besar, yaitu rumah induk dan rumah tambahan. Di dalam rumah induk dibagi lagi atas delapan bagian, sedangkan untuk rumah tambahan hanya berisi pelengkap rumah induk. Di dalam rumah induk terdapat pendopo, pringitan, teras, rumah dalam, senthong kiwa, senthong tengah, senthong tengen, dan gandhok.
Jawa Timur: Rumah Joglo

Rumah Joglo mempunyai keunikannya sendiri yang membuatnya berbeda dengan rumah adat lainnya. Keunikannya yaitu bahan yang digunakan untuk membuat rumah joglo didominasi kayu jati. Rumah joglo sendiri memiliki beberapa jenis, seperti joglo sinom, joglo pangrawit, hingga joglo hageng.
Kalimantan Barat: Rumah Panjang

Rumah panjang dari Kalimantan Barat mempunyai tinggi 5 sampai 8 meter dan panjang sekitar 180 meter, serta lebar 6 meter. Rumah panjang memiliki sekita 50 ruangan yang dihuni oleh banyak keluarga, termasuk keluarga inti.
Kalimantan Tengah: Rumah Betang

Rumah Betang menyerupai panggung dengan ditopang kayu yang mencapai rata-rata 5 meter. Panjang Rumah Betang dapat mencapai 100-150 meter dan memiliki lebar mencapai sekitar 50 meter. Adapun model rumah yang menyerupai rumah panggung dimaksudkan untuk menghindari banjir.
Kalimantan Utara: Rumah Baloy

Rumah adat ini berbahan dasarkayu ulin. Rumah Baloy dibangun menghadap ke utara, sedangkan pintu utamanya menghadap ke selatan. Di dalam Rumah Baloy terdapat empat ruang utama, yaitu ambir kiri, ambir tengah, ambir kanan, dan lamin dalom.
Kalimantan Timur: Rumah Lamin

Rumah Lamin resmi dinyatakan sebagai rumah adat Kalimantan Timur pada tahun 1967 oleh pemerintah karena memiliki gaya arsitektur yang unik dan khas. Salah satu ciri khas dari rumah adat ini adalah ukuran bangunannya yang luas dengan panjang mencapai 300 meter, lebar 15 meter dan tinggi 3 meter. Sementara pada bagian atapnya dilengkapi dengan hiasan kepala naga yang terbuat dari kayu.
Kalimantan Selatan: Rumah Bubungan Tinggi

Menggunakan konsep rumah panggung, berbahan dasar kayu ulin. Kayu ulin sendiri memang dipercaya memiliki kekuatan yang tidak diragukan. Bahkan banyak yang mengatakan jika terkena air maka akan semakin kuat. Bagian atap rumah ini memiliki tinggi dan sudut kemiringan berkisar 45 derajat.
Bali: Gapura Candi Bentar

Ada dua bagian dalam rumah adat Bali meliputi Gapura Candi Bentar dan rumah sebagai hunian. Gapura Candi Bentar ini merupakan rumah adatnya. Terdapat aturan khusus mengenai pembangunan rumah adat tradisional Bali seperti arah, letak bangunan, dimensi pekarangan, struktur bangunan, serta konstruksi yang harus dibuat sesuai dengan ketentuan agama.
Sulawesi Utara: Rumah Walewangko

Rumah Adat Sulawesi Utara ini berasal dari Suku Minahasa yaitu salah satu suku terbesar yang mendominasi wilayah Provinsi Sulawesi Utara. Sama seperti rumah adat lain di Indonesia, Rumah Adat Walewangko juga memiliki gaya arsitektur, dekorasi, fungsi, dan nilai filosofi yang erat kaitannya dengan ada istiadat suku setempat.
Gorontalo: Rumah Adat Dulohupa

Dilansir dari Kemendikbud, rumah adat ini berbentuk rumah panggung yang badannya terbuat dari papan dan struktur atap bernuansa daerah Gorontalo. Selain itu rumah adat Dulohupa juga dilengkapi pilar-pilar kayu sebagai hiasan serta lambang dari rumah adat Gorontalo dan memiliki dua tangga yang berada di bagian kiri dan kanan rumah adat yang menjadi simbol tangga adat atau disebut Tolitihu.
Sulawesi Tengah: Souraja/Rumah Raja/Rumah Besar/Rumah Tambi

Rumah Souraja mmiliki tiga ruangan. Pertama adalah ruang depan (Lonta Karawana) yang berfungsi sebagai ruang tamu. Selanjutnya ruang tengah (Lonta Tata Ugana) yang biasa dijadikan tempat untuk menerima tamu yang masih ada hubungan keluarga. Terakhir adalah ruang belakang (Lonta Rorana).
Sulawesi Barat: Rumah Adat Boyang

Rumah adat boyang berbentuk rumah panggung dan ditopang oleh beberapa tiang berukuran besar dengan tinggi sekitar 2 meter. Tiang-tiang tersebut akan digunakan untuk menopang lantai sekaligus atapnya. Penggunaan tiang pada rumah adat ini tidak ditancapkan ke tanah melainkan hanya ditumpangkan pada sebuah batu datar yang berguna untuk mencegah kayu agar tidak cepat lapuk.
Sulawesi Selatan: Rumah Adat Tongkonan

Tongkonan adalah rumah adat orang Toraja, yang merupakan tempat tinggal, kekuasaan adat, dan perkembangan kehidupan sosial budaya orang Toraja. Arsitektur tongkonan dikenal dengan bentuknya yang khas melalui struktur bawah, tengah dan atas yang memiliki keindahan estetika truktur dan konstruksinya.
Sulawesi Tenggara: Rumah Adat Buton/Rumah Adat Banua Tada

Rumah adat dari Sulawesi Tenggara ini mempunyai 3 jenis yang dibedakan berdasarkan strata sosial pemiliknya. Kamali (Malige), rumah Banua tada ini digunakan sebagai tempat untuk keluara sultan. Tare Pata Pale, rumah ini digunakan untuk penjabat istana. Memiliki 4 tiang dan atap yang bersusun serta di bagian kanan kirinya terdapat 2 jendela. Tare Talu Pale, rumah Banua Tada ini dikhususnya untuk masyarakat biasa dengan tiang tiga dan atap yang simetris.
NTB: Rumah Dalam Loka

Rumah Adat Dalam Loka adalah kediaman raja-raja yang berassal dari Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Rumah Adat Dalam Loka sumbawa ini juga hanya memiliki satu pintu akses yang besar untuk masuk dan keluar.
NTT: Rumah Musalaki

Untuk gaya arsitekturnya, Rumah Adat Musalaki terbagi menjadi dua bagian utama yaitu struktur bagian bawah dan atas. Di atas lantai Rumah Adat Musalaki terdapat empat buah tiang kolom atau disebut dengan wisu dalam bahasa Suku Ende Lio. Pada bagian tengah rumah juga terdapat satu tiang yang disebut dengan leke raja dengan panjang 1,2 m.
Maluku: Rumah Baileo

Rumah adat ini tidak dilengkapi dengan dinding dan berbentuk rumah panggung. Terdapat 9 tiang penyangga dalam rumah ini yang juga dilengkapi dengan batu pamali. Apa itu batu pamali? Itu merupakan batu pamali yang digunakan sebagai tempat sesaji untuk para roh leluhur.
Maluku Utara: Rumah Sasadu

Rumah Sasadu adalah sebuah desain rumah adat asli masyarakat suku Sahu yang telah ada sejak zaman dahulu di Halmahera. Desain rumah ini menggambarkan tentang falsafah hidup orang Sahu dalam bermasyarakat. Terdapat beberapa ciri khas dan keunikan, baik pada desain arsitektur maupun pada kandungan nilai-nilai filosofis dalam desain rumah adat Maluku Utara ini.
Papua Barat: Mod aki aksa

Dari 34 provinsi, rumah adat khas suku Arfak, Papua Barat bernama Mod Aki Aksa atau Igkojei menjadi salah satu ynag terunik. Atap rumah ini terbuat dari rumput ilalang dan lantainya dari anyaman rotan. Dindingnya terbuat dari kayu yang disusun horizontal-vertikal dan saling mengikat. Rumah ini memilikitinggi rata-rata sekitar 4-5 meter dan luas kurang lebih 8×6 meter.
Papua: Honai

Honai memiliki bagian penutup atas berbentuk kerucut yang ditutupi oleh ilalang kering atau jerami. Ada pula rumah honai yang tampak memiliki atap seperti ½ batok kelapa. Atap ini dibuat tidak terlalu tinggi karena lagi-lagi bertujuan untuk menghangatkan bagian dalam rumah.Aktivitas lain seperti makan, menyimpan makanan, dan lainnya dilakukan di bangunan berbeda.(hops)

