66 Siswa SMA Negeri Oeleu Cetak Sejarah, Ujian Akhir Diganti Karya Tulis Ilmiah
Diterbitkan Minggu, 10 Mei, 2026 by NKRIPOST

NKRI POST TTS – Sebuah terobosan pendidikan lahir dari wilayah pinggiran Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS). SMA Negeri Oeleu, Kecamatan Toianas, mencetak sejarah baru dengan meluluskan 66 peserta didik kelas XII melalui model evaluasi akhir berbasis Karya Tulis Ilmiah (KTI), menggantikan pola ujian konvensional yang selama ini diterapkan.
Momentum pengumuman kelulusan yang berlangsung pada Sabtu (9/5/2026) itu dirangkai dengan doa syukuran perpisahan dan berlangsung penuh haru. Pelukan hangat antara siswa, orang tua, dan guru mewarnai suasana setelah seluruh peserta didik Tahun Pelajaran 2025/2026 resmi dinyatakan lulus.
Namun, kelulusan tahun ini terasa berbeda. Sebanyak 66 siswa menjadi angkatan pertama di SMA Negeri Oeleu yang menyelesaikan ujian akhir melalui penyusunan karya tulis ilmiah, sebuah pendekatan yang dinilai mampu memperkuat budaya literasi sekaligus melatih kemampuan berpikir kritis peserta didik.
Kepala SMA Negeri Oeleu, Jon Freid Tamonob, S.T, mengatakan perubahan model evaluasi tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya sekolah meningkatkan kualitas pendidikan, khususnya budaya literasi baca-tulis di lingkungan sekolah.
“Melalui pola ini, anak-anak tidak hanya belajar menyelesaikan tugas akhir, tetapi juga dilatih mencari data, membaca referensi, dan menyusun gagasan secara sistematis. Kami ingin peserta didik terbiasa berpikir ilmiah dan memiliki kemampuan literasi yang lebih baik,” ujarnya seusai pengumuman kelulusan.
Menurut Jon, seluruh guru dilibatkan dalam proses pendampingan selama kurang lebih tiga bulan agar siswa mampu menyelesaikan karya ilmiah dengan baik.
“Setiap guru mendapat tanggung jawab mendampingi siswa sesuai pembagian tugas. Kami ingin memastikan mereka tidak hanya lulus, tetapi juga memperoleh pengalaman akademik yang berkesan sebelum meninggalkan sekolah,” katanya.
Ia menilai pola evaluasi berbasis KTI menjadi langkah penting di tengah perkembangan teknologi yang perlahan menggeser budaya membaca di kalangan generasi muda.
“Budaya membaca mulai berkurang. Karena itu kami mencoba membangun kembali kebiasaan membaca dan menulis melalui karya ilmiah. Harapannya, budaya literasi ini terus tumbuh di sekolah,” tambahnya.
Di balik keberhasilan tersebut, Jon mengakui tantangan menghadirkan pendidikan di wilayah 3T (Terdepan, Terluar, dan Tertinggal) tidaklah mudah. Sebagian peserta didik harus berjalan kaki hingga lima sampai tujuh kilometer untuk mencapai sekolah.
“Ketika musim hujan datang, beberapa siswa bahkan kesulitan hadir karena akses jalan dan banjir. Namun kami tetap berupaya agar pembelajaran berjalan dengan membagi tugas pendampingan kepada guru-guru yang berada di wilayah terdekat,” jelasnya.
Meski dihadapkan pada berbagai keterbatasan geografis, menurutnya hal itu tidak menyurutkan semangat para guru untuk memberikan pelayanan pendidikan terbaik.
“Kami percaya keterbatasan bukan alasan untuk berhenti berbuat yang terbaik bagi anak-anak,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua Komite SMA Negeri Oeleu, Yonohrin Mellu, meminta para lulusan agar terus bermimpi besar dan tidak membatasi masa depan hanya karena berasal dari kampung.
“Jangan pernah merasa kecil karena berasal dari daerah. Banyak orang berhasil lahir dari tempat sederhana. Yang penting terus belajar, punya semangat, dan jangan takut bermimpi besar,” pesannya.
Hal senada disampaikan Camat Toianas, Yustinus Lopsau, yang mengingatkan para siswa bahwa kelulusan bukan akhir perjalanan.
“Kelulusan ini bukan garis akhir, tetapi awal perjuangan baru. Tetap belajar, tingkatkan kemampuan, dan suatu hari nanti kembali membangun daerah ini,” katanya.
Di sisi lain, mewakili peserta didik, Relisne Lopsau mengaku pengalaman menyusun karya tulis ilmiah menjadi tantangan sekaligus pengalaman berharga bagi dirinya dan teman-teman seangkatan.
“Awalnya kami merasa sulit karena harus membaca banyak referensi dan belajar menulis secara terstruktur. Tetapi dari situ kami belajar berpikir lebih luas dan percaya diri menuangkan ide,” ungkapnya.
Sebagai simbol harapan masa depan, seluruh lulusan turut menuliskan cita-cita mereka dan menggantungkannya di Pohon Literasi sekolah. Tradisi sederhana itu menjadi penanda bahwa mimpi besar dapat tumbuh dari tempat yang sederhana, selama ada kemauan untuk belajar dan berjuang.***( DoA )
