NKRIPOST

NKRIPOST – VOX POPULI PRO PATRIA

‘TIM Telah Mati’: Seniman Segel Hotel Artotel di Taman Ismail Marzuki, Desak Audit Jakpro hingga Megawati Turun Tangan

Listen to this article

Diterbitkan Sabtu, 8 Agustus, 2026 by NKRIPOST

Ilustrasi

NKRIPOST JAKARTA – Gelombang penolakan terhadap komersialisasi Taman Ismail Marzuki (TIM) memuncak. Puluhan seniman yang tergabung dalam Jumat Aksi Seni (JAS) menyegel akses menuju Paviliun Raden Saleh Artotel Curated di lantai 8-12 Gedung Ali Sadikin, TIM, Cikini, Jakarta Pusat, Jumat (7/8/2026).

Penyegelan dilakukan dengan memasang garis polisi sepanjang 10 meter di pintu masuk hotel. Aksi ini menjadi simbol protes keras para seniman terhadap keberadaan hotel di kawasan yang sejak awal didirikan sebagai pusat budaya.

Ketegangan sempat terjadi saat petugas keamanan internal berupaya menghalangi massa. Namun segel simbolis tetap terpasang.

TIM Kehilangan Jiwanya
Koordinator Lapangan JAS, Ridho, menegaskan keberadaan Artotel adalah pengkhianatan terhadap amanat pendiri TIM, Bang Ali Sadikin.

“Keberadaan Artotel tidak sesuai amanat Bang Ali. TIM dibangun sebagai rumah seniman, bukan tempat bisnis,” tegas Ridho.

Menurutnya, di bawah pengelolaan PT Jakarta Propertindo (Jakpro), TIM makin kehilangan identitas. Gedung Ali Sadikin yang awalnya dirancang sebagai wisma untuk seniman dan budayawan dari daerah kini berubah fungsi menjadi hotel komersial. Kesepakatan itu disebut diabaikan dalam proses pembangunan yang juga melibatkan Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) dan Akademi Jakarta (AJ).

“Penyegelan ini akan terus kami lakukan sampai tuntutan kami dipenuhi. TIM harus kembali menjadi rumah seniman, bukan dikuasai kepentingan komersial,” ujarnya.

Desak Audit Total ke Pemprov DKI
Sekretaris Masyarakat Pekerja Seni Indonesia (MPSI), David Karo-karo, mendesak Pemprov DKI Jakarta segera melakukan audit menyeluruh terhadap pengelolaan TIM.

“Audit tidak hanya untuk Jakpro, tetapi juga DKJ dan Akademi Jakarta yang terlibat dalam kebijakan kawasan. Kami desak Pemprov DKI mengusut siapa yang memberi izin hotel masuk ke ruang kesenian,” kata David.

Hasil audit, lanjutnya, harus menjadi dasar mengembalikan fungsi utama TIM sebagai pusat seni dan budaya.

Seniman yang tergabung dalam Jumat Aksi Seni (JAS) menyegel akses menuju Paviliun Raden Saleh Artotel Curated di lantai 8-12 Gedung Ali Sadikin, TIM, Cikini, Jakarta Pusat, Jumat (7/8/2026).
Seniman yang tergabung dalam Jumat Aksi Seni (JAS) menyegel akses menuju Paviliun Raden Saleh Artotel Curated di lantai 8-12 Gedung Ali Sadikin, TIM, Cikini, Jakarta Pusat, Jumat (7/8/2026).

BACA JUGA:

Segel Hotel di TIM, Seniman Desak Audit Jakpro, DKJ, dan Akademi Jakarta

Gelombang Penolakan dari 2020 hingga 2026
Aksi JAS ini bukan yang pertama. Penolakan terhadap komersialisasi TIM sudah bergulir sejak proses revitalisasi dimulai 2019.

Februari 2020, Forum Seniman Peduli TIM menggelar “Silent Action” tiap Jumat di trotoar TIM. Mereka memprotes perobohan Galeri Cipta I dan Graha Bhakti Budaya oleh alat berat. Perwakilan seniman Tatan Daniel saat itu kecewa karena seniman besar seperti Almarhum Nano Riantiarno dan Putu Wijaya tidak pernah diajak diskusi.

Aktor senior almarhum Yayu Unru juga saat itu ikut resah: “Kalau TIM sudah dikomersialkan, bagaimana kita mau berkarya? Nantinya TIM hanya mementaskan karya-karya yang laku di pasaran.”

Protes berlanjut 25-26 Juli 2026 melalui Front Penggerak Seni Taman Ismail Marzuki (FPSTIM) dengan aksi “Unjuk Rasa, Unjuk Karya”. Massa membawa keranda bertuliskan “Taman Ismail Marzuki Telah Mati”, papan nisan “RIP JakPro, RIP DKJ, RIP AJ”, dan poster “Seni atau JakPro”, “TIM Pusat Kesenian, Bukan Pusat Kuliner”.

Diskusi publik “Mengurai Benang Kusut Tata Kelola TIM” juga digelar untuk menyusun manifesto dan petisi.

Megawati Ikut Bersuara
Penolakan ini bahkan disuarakan Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri. Ia menilai wajah baru TIM terlalu borjuis dan menjauh dari semangat awal. Megawati meminta Gubernur DKI Pramono Anung menata ulang TIM agar kembali berpihak pada seniman.

Bagi para seniman, menjaga TIM bukan sekadar mempertahankan bangunan. “Ini soal menjaga sejarah, ruang penciptaan, dan keberlangsungan ekosistem seni Indonesia,” kata Mila Nabila, Koordinator FPSTIM.

TAMAN ISMAIL MARZUKI (TIM)
“Rumah Seniman Jakarta Sejak 1968”

1. Sejarah Singkat
Taman Ismail Marzuki berdiri di atas lahan ± 7,2 hektar di Cikini, Jakarta Pusat.

Awalnya area ini adalah Taman Raden Saleh dan Kebun Binatang Jakarta yang sekarang pindah ke Ragunan.

Pada 10 November 1968, TIM diresmikan langsung oleh Gubernur DKI Jakarta saat itu, Ali Sadikin. Beliau mengubah kawasan ini menjadi pusat kesenian pertama di Indonesia agar para seniman Jakarta punya ruang berkarya.

Nama Ismail Marzuki dipilih untuk menghormati maestro musik Betawi yang menciptakan 200+ lagu perjuangan, seperti:
Halo-Halo Bandung, Berkibarlah Benderaku, Nyiur Melambai, Sepasang Mata Bola.

2. Tugas & Pengelolaan
Saat ini TIM dikelola oleh Unit Pengelola Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki.

Dasar hukum terbarunya:
Peraturan Gubernur DKI Jakarta Nomor 57 Tahun 2022 tentang Organisasi dan Tata Kerja Perangkat Daerah.
Sebelumnya diatur di:
– Pergub No. 327 Tahun 2016
– Pergub No. 149 Tahun 2019

Tugas utamanya: membantu Dinas Kebudayaan DKI Jakarta dalam mengelola TIM, Planetarium, dan Observatorium.

3. Status Terbaru
Sejak Keputusan Gubernur Nomor 415 Tahun 2023, Unit Pengelola TIM resmi menjadi PPK BLUD = Pusat Pengelola Keuangan Badan Layanan Umum Daerah.
Artinya: TIM punya fleksibilitas lebih dalam mengelola keuangan dan layanan publik, tapi tetap di bawah Pemprov DKI.

Hingga berita ini diturunkan belum ada keterangan resmi dari Jakarta Propertindo (Jakpro), Gubernur DKI atau pihak yang terkait, redaksi media ini terbuka seluas-luasnya untuk hak jawab dan hak koreksi sesuai UU Pers. ***

VIDEO REKOMENDASI:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

REDAKSI: JL. KH. MAS MANSYUR NO. 122 B, KEL. KARET TENGSIN, KEC. TANAH ABANG KOTA JAKARTA PUSAT - WA: 0856 9118 1460  
EMAIL: [email protected]
NKRIPOSTCO ©Copyright 2026 | All Right Reserved