NKRIPOST

NKRIPOST – VOX POPULI PRO PATRIA

Mete NTT Mulai Dilirik Jadi Bahan Bakar Penerbangan Berkelanjutan

Listen to this article

Diterbitkan Senin, 15 Juni, 2026 by NKRIPOST

Ilustrasi Mete NTT

NKRIPOST NTT – Komoditas mete selama ini lebih dikenal sebagai camilan. Namun, kini mete mulai dilirik sebagai sumber energi masa depan. Cahyo Wisnu Rubiyanto, S.P., M.App.Sc., Ph.D, dosen Agribisnis Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), tengah mengembangkan perkebunan mete di Nusa Tenggara Timur (NTT). Lahan seluas 3.000 hektare ini akan menjadi penyedia bahan baku (feedstock) biofuel penerbangan.

Cahyo memaparkan proyek ini dalam seminar internasional UMY Summer School 2026 di Yogyakarta, Sabtu (13/6/2026). Proyek ini berjalan melalui kemitraan dengan perusahaan asal Jepang.

Menurut Cahyo, mete di NTT adalah komoditas strategis. Nilainya jauh lebih tinggi daripada sekadar produk pangan. Mete berpotensi menjadi bahan baku Sustainable Aviation Fuel (SAF) atau bahan bakar penerbangan berkelanjutan. Saat ini, industri aviasi global sedang fokus pada SAF untuk mengurangi emisi karbon.

“Kami saat ini sedang mengembangkan perkebunan mete hingga mencapai 3.000 hektare,” ujar Cahyo dikutip dari UMY.ac.

Dalam pendanaan dan pengembangan proyek, UMY menggandeng Nishihara Soji Holdings. Perusahaan tersebut berbasis di Jepang dan menjadi pilar utama proyek ini.

Pengembangan komoditas mete tidak hanya mengejar keuntungan ekonomi. Proyek ini juga bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal melalui pengelolaan kebun yang berkelanjutan.

Pentingnya Modal Sosial dalam Pembangunan

Cahyo menggunakan pendekatan Sustainable Livelihood Approach (SLA) untuk proyek ini. Pendekatan ini menjelaskan faktor keberhasilan proyek dan kolaborasi internasional.

Ada lima jenis modal yang menjadi fondasi penghidupan berkelanjutan:

  • Modal manusia (human capital)
  • Modal alam (natural capital)
  • Modal sosial (social capital)
  • Modal finansial (financial capital)
  • Modal fisik (physical capital)

Dari kelima modal tersebut, modal sosial sering kali menjadi faktor penentu. Sayangnya, modal ini justru kerap diabaikan.

“Sebelum membangun modal sosial, kita harus membangun diri sendiri terlebih dahulu,” jelas Cahyo.

“Kita harus memiliki modal manusia berupa pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman. Tanpa modal itu, kita akan sulit membangun kepercayaan dengan pihak lain.” Lanjutnya.

Keberhasilan kolaborasi internasional tidak hanya bergantung pada dana atau teknologi. Kunci utamanya adalah kemampuan membangun hubungan yang berlandaskan kepercayaan. Modal finansial tidak akan berjalan optimal tanpa modal sosial.

BACA JUGA:

Provinsi NTT Sebagai Penyumbang Kemakmuran Negara

Rumus “Five C” untuk Pasar Internasional
Selain mengembangkan proyek mete di NTT, Cahyo juga aktif sebagai konsultan bagi Nikko, perusahaan cokelat asal Jepang. Ia membantu pengembangan biji kakao Indonesia untuk pasar internasional. Selain itu, ia pernah menjadi dosen tamu di Tokyo University of Agriculture.

Berdasarkan pengalaman tersebut, Cahyo merumuskan prinsip Five C dalam kolaborasi internasional:

  • Curiosity (rasa ingin tahu)
  • Communication (komunikasi)
  • Consistency (konsistensi)
  • Contribution (kontribusi)
  • Collaboration (kolaborasi)

Bagi Cahyo, keberhasilan global tidak lagi ditentukan oleh indeks prestasi akademik semata. Kemampuan teknis juga bukan satu-satunya penentu.

“Yang benar-benar dibutuhkan saat ini adalah jaringan global dan komunikasi lintas budaya,” pungkasnya. (Sumber: UMY.AC.ID)

VIDEO REKOMENDASI:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

REDAKSI: JL. KH. MAS MANSYUR NO. 122 B, KEL. KARET TENGSIN, KEC. TANAH ABANG KOTA JAKARTA PUSAT - WA: 0856 9118 1460  
EMAIL: [email protected]
NKRIPOSTCO ©Copyright 2024 | All Right Reserved