Hardiknas 2025, Bupati Mas Rio: Tidak Ada Lagi Pengelompokan Siswa Situbondo
Diterbitkan Jumat, 2 Mei, 2025 by NKRIPOST

NKRIPOST SITUBONDO – Bupati Situbondo, Yusuf Rio Wahyu Prayogo atau yang akrab disapa Mas Rio tampil sebagai Inspektur Upacara dalam peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2025 yang berlangsung khidmat dan penuh makna.
Dalam wawancaranya Bupati Kabupaten Situbondo, Yusuf Rio Wahyu Prayogo yang mengenakan pakaian nuansa batik dalam Peringatan Hari Pendidikan Nasional di Alun-alun pada Upacara Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) tahun 2025, Bupati Situbondo Mas Rio berpesan agar tidak ada lagi pengelompokan atau memberikan atribusi kepada siswa berdasarkan kecerdasan dan perilakunya, Jumat (2/4/2025) di Alun-alun Situbondo.
Dengan hal tersebut sesuai dengan tema Hardiknas 2025 mengusung yakni Partisipasi Semesta, Wujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua.
“Tidak ada lagi pengajar memberikan atribusi atau mengelompokkan siswa berdasarkan dia cerdas, dia tidak cerdas, dia baik, dia nakal. Sebab hal itu akan berakibat pada psikologi siswa di mana seseorang merasa tidak mampu atau kurang berharga dibandingkan dengan orang lain, dalam istilah psikologi disebut Inferiority complex atau kompleks inferioritas,” ujar Mas Rio dihadapan media.
Selain itu juga, Mas Rio mengungkapkan tema Hardiknas tahun 2025 ini menjadi salah satu konsen atau perhatian serius oleh Bapak Pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara, maksud partisipasi semesta wujudkan pendidikan bermutu untuk semua tidak ada lain yakni pendidikan yang inklusif.”imbuhnya.
“Dalam dunia Pendidikan yang tidak pernah memandang bulu dari mana kamu berasal. Seperti apa dirimu, engkau kaya atau miskin, engkau Madura, Jawa, Batak, Sunda atau yang lainnya. Semua harus sama, maka saya ingin menekankan bahwa atribusi atau stigmatisasi yang sering dihadirkan oleh guru kepada murid-muridnya saya mohon dengan sangat di Situbondo paling tidak sudah tidak ada lagi,” tegasnya.
Dan setiap murid, kata Mas Rio memiliki potensi masing-masing yang terkadang pendidik bahkan orang tua tidak mengetahui, sehingga memaksakan murid atau anak untuk mampu pandai dalam segala bidang, hal semacam ini malah dapat mengungkung potensi anak atau murid.
“Apa potensi terbaik dari siswa atau pelajar itu sendiri, bagi mereka yang sangat mengidam-idamkan atau bisa mendefinisikan dirinya bahwa mereka adalah seorang atlet. Maka jangan dipaksa untuk belajar pelajaran reguler lainnya. Kasih kesempatan mereka untuk berkembang. Bagi mereka yang punya jiwa yang sangat tinggi tentu tidak akan bisa ditiru atau diminati oleh pelajar yang pandai matematika, yang pandai fisika atau pelajaran reguler lainnya. Sebab kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi 1020 tahun mendatang,” jelas Mas Rio.
Bupati Mas Rio bermohon dengan sangat pada guru-guru, kepada instansi sekolah Kepala Dinas Pendidikan dan seluruh karyawannya untuk tidak memberikan atribusi atau pengelompokan anak nakal anak pintar anak biasa-biasa saja semua punya masa depan yang sama-sama cerah semua siswa atau anak didiknya.
“Harus memberikan kesempatan, kasih mereka kemauan untuk mencintai diri sendiri. Dalam bahasa psikologi namanya self love, jangan pernah ditakut-takuti bahwa ketika Anda bukan peringkat 1,2 dan 3, maka masa depan adik-adik kita akan suram. Saya katakan Big No, beri mereka kesempatan. Percayalah masa depan mereka akan jauh lebih cerah dibanding kita saat ini sekarang,” pungkasnya. Bupati Rio. ( Yudha)
