NKRIPOST

NKRIPOST – VOX POPULI PRO PATRIA

Kapusbimdik H. Susari: Kemenag Siapkan Beasiswa Untuk 40 Orang Mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Khonghucu

Listen to this article

Diterbitkan Minggu, 21 Januari, 2024 by NKRIPOST

Dengan demikian menurutnya persoalan moderasi beragama itu sejatinya sudah ada sejak lama dan menjadi bagian dari kehidupan bangsa Indonesia.

“Karena pada hakekatnya modernisasi beragama itu sudah terjadi diantara kita, sudah berlangsung diantara kita sudah menjadi bagian yang tak terlepas dari kehidupan kita,” imbuhnya.

BACA JUGA:

Wamenag Syaiful Buka Seminar Moderasi Beragama Lintas Agama MAKIN Jakarta Barat, Begini Pesannya!

Wamenag Syaiful Rahmat Dasuki Hadiri Pendidikan Politik Bamus Betawi, Ketua Bamus H. Oding Singgung Pilkada DKI Jakarta

MAKIN Jakarta Barat Gelar Seminar Moderasi Beragama Lintas Agama, Liem Liliany Lontoh: Walau Diujung Lautan Kita Tetap Bersaudara

Menyinggung soal pemilu dan pilpres tahun ini 2024, Wamenag yang merupakan politisi PPP (Ketua DPW PPP DKI Jakarta) mengingatkan masyarakat agar tidak terpengaruh oleh para pelaku politik yang menggunakan agama sebagai alat meraih kekuasaan.

“Di tengah -tengah kehidupan kita saat ini , apalagi ini memasuki tahun politik beberapa Minggu kedepan kita merayakan pesta demokrasi yang namanya pemilu, yang namanya pesta harus kita lalui dengan riang gembira, yang namanya pesta harus kita sambut dengan suka cita maka kita berharap kementerian agama meminta kepada semua pelaku-pelaku politik, semua kontestan -kontestan politik untuk tidak menggunakan politik identitas agama untuk meraih elektoral kekuasaan”, tegasnya.

Wamenag Syaiful sebagai orang asli Betawi sangat merasakan betul dampak dari politik identitas tersebut yang terjadi di Jakarta.

“Karena ini dampaknya begitu merusak diantara kita 2019 kita merasakan bagaimana politik identitas ini dihembuskan sehingga masyarakat kita terbelah sangat dalam sampai hari ini saya masih merasakan. Di Cipete, di Mampang, di buncit, itu masih terasa bagaimana pembelahan sosial itu terasa akibat dari politik identitas ini ada Khotib yang kehilangan jadwal khutbahnya karena beda pilihan politik tahun 2019. Ada guru, kiayi yang dipecat oleh umatnya ngajar taklim karena beda pilihan politik ada ustadzah yang tidak diundang lagi muludan dan isra mi’raj dan seterusnya karena ustadzahnya beda pilihan politik, ada orang nyebut sodaranya dengan kampret dan cebong”, kenangnya.

“Ini kan menistakan kemanusiaan sementara Tuhan menganggap manusia adalah makhluk yang paling mulia tapi kita menistakan diantara kita karena apa, karena beda pilihan politik saja. Setelah pemilihan politik mereka yang berkontestasi selesai, mereka bisa berangkulan bahkan mereka bisa duduk bareng tapi kita yang dibawah sampai hari ini masih ada umat yang tidak mau datang ke rumah ibadah karena beda pilihan politik dengan pengurus rumah ibadah, kalau di masjid beda pilihan dengan DKM nya. Karena kalau dia ke masjid di-bully”, tambahnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

REDAKSI: JL. MINANGKABAU TIMUR NO. 19 A, KEL. PS. MANGGIS, KEC. SETIABUDI KOTA JAKARTA SELATAN - WA: 0856 9118 1460  
EMAIL: [email protected]
NKRIPOSTCO ©Copyright 2024 | All Right Reserved