Setukpa Lemdiklat Polri gelar ceramah pembekalan dari Tim Direktorat Pencegahan Densus 88 Antiteror Mabes Polri bagi Siswa SIP Angkatan 51 tahun 2022
Diterbitkan Rabu, 30 Maret, 2022 by NKRIPOST
Sementara Habib Nuruzzaman, M.Ag menyampaikan tiga hal yang menjadi tantangan serius bangsa Indonesia terkait perkembangan bahaya intoleransi dan radikalisme yaitu, yang pertama kelompok yang mempertanyakan konsensus Kenegaraan / Kebangsaan atau kelompok yang ingin merubah NKRI, Pancasila dan UUD 1945. Kelompok ini terdapat tiga kelompok di Indonesia yaitu Ikhwanul Muslimin yang ingin merubah NKRI menjadi negara Islam, kemudian Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang ingin merubah NKRI menjadi Khilafah serta kelompok Jihadis yaitu NII dan Jamaah islamiah diantaranya.
Habib melanjutkan tantangan yang kedua adalah orang atau kelompok yang menganggap dirinya paling benar dan yang lain salah, yaitu kelompok Wahabi – Salafi, dan yang ketiga adalah Silent Mayority atau kelompok mayoritas diam, tidak bergeming dengan apa yang sedang dihadapi tapi cenderung medukung faham radikal tersebut. Didalam tubuh Polri hal ini tidak boleh terjadi karena akan berpengaruh pada proses penegakan hukum ditengah masyarakat dan cenderung akan membela serta membiarkan kelompoknya berbuat aksi.
Terakhir Habib menutup ceramahnya dengan dengan semboyan, kalau ada 1000 orang yang ingin mempertahankan NKRI dengan darah dan nyawanya, maka disitu pasti ada saya, Kalau ada 100 orang yang ingin mempertahankan NKRI dengan darah dan nyawa nya, maka disitu pasti ada Saya, Jikalau ada 10 orang yang ingin mempertahankan NKRI dengan darah dan nyawanya, maka disitu pasti ada saya, dan kalaupun hanya 1 orang yang ingin mempertahankan NKRI dengan darah dan nyawanya, maka pasti itu saya, itu yang harus jadi pegangan kita.
Kemudian ceramah pembekalan ditutup oleh penceramah ketiga yaitu Ustadz Sofyan Tsauri yang menceritakan pengalamannya yang mantan polisi kemudian pernah menjadi teroris dan sekarang kembali kepangkuan Indonesia, pengalamannya disampaikan sebagai pedoman bagi kita semua agar tidak terjerumus dengan faham faham radikal yang berkedok agama, berdasarkan pengalamannya dari 3000 teroris yang ditangkap semua berfaham aliran Wahabi salafi.
Ustadz Sofyan Tsauri berpesan jangan sampai terjebak dengan pendidikan, tarbiyah atau majelis majelis yang intoleran, hati – hati dalam menyekolahkan anak – anak kita, hati – hati dalam mencari guru.
Menutup ceramahnya beliau menyampaikan Alhamdulillah Indonesia sampai saat ini gagal disuriahkan, Pancasila adalah kekayaan kita, hindari konflik komunitas ditengah masyarakat karena setiap konflik atau chaos adalah peluang bagi teroris, jangan sedikitpun diberi ruang. Polri adalah benteng bangsa Indonesia.(MSLoan)
