Camat Laenmanen Akui Khilaf Minta Maaf ke Guru PJOK di Mediasi Pemkab Malaka, Dapat Teguran Keras
Diterbitkan Senin, 7 September, 2026 by NKRIPOST

NKRIPOST BETUN – Pemerintah Kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur (NTT) mengambil langkah cepat menyelesaikan secara damai persoalan antara Camat Laenmanen Ferdy Maan dan Guru PJOK SMP Kristen Besikama, Dominikus Nahak Klau alias Deky Klau, yang videonya sempat viral di media sosial.
Mediasi mempertemukan kedua belah pihak berlangsung di Ruang Kerja Wakil Bupati Malaka, Senin (7/9/2026). Pertemuan ini mengakhiri polemik yang bermula dari pertengkaran di Rumah Makan Bunda Kanduang, Betun, Rabu (2/9/2026) sekitar pukul 16.00 WITA.
Peristiwa bermula saat Deky Klau datang ke warung untuk mengecek dompet kakaknya yang diduga tertinggal. Dengan izin pemilik, ia bermaksud melihat rekaman CCTV.
“Dari depan pintu saya sudah katup tangan dan bilang permisi. Kakak saya kehilangan dompet, bolehkah minta tolong buka rekaman CCTV,” ujar Deky dalam keterangan yang viral, Kamis (4/9).
Saat ia dan rekannya melihat CCTV, Camat Ferdy Maan datang dan mempersoalkan. Cekcok pun terjadi di tengah ramainya pengunjung.
Deky mengaku mendapat 4 ucapan yang ia nilai penghinaan: dihina profesi sebagai “guru bodoh”, dihina ekonomi “miskin”, dihina HP “kredit”, hingga ancaman “kecil begini saya pukul lu mati”. Ia juga merekam kejadian sebagai bukti.
Ferdy Maan memberikan klarifikasi. Ia mengaku datang untuk memesan makan dan menyarankan agar pembukaan memori CCTV diserahkan ke polisi agar sesuai prosedur. “Saya pikir persoalan itu sudah selesai, kami sudah bicara dan selesai di tempat. Tetapi ada rekaman yang ternyata diviralkan,” ungkapnya.
BACA JUGA:
Camat Laenmanen Ferdy Maan Bertengkar dengan Guru di Warung, Video 4 Menit Viral di Medsos
Proses mediasi dihadiri Wakil Bupati Malaka Henri Melki Simu, Sekda Malaka Ferdinandus Un Muti, Ketua PGRI Kabupaten Malaka Jonathan Seran Suri, serta kedua pihak yang bersengketa.
Dalam pertemuan itu, Camat Laenmanen menyampaikan permohonan maaf secara langsung di hadapan pimpinan daerah dan organisasi profesi guru.
“Camat akui kekhilafan dan minta maaf,” jelas Jhon Seran Suri
Selain permintaan maaf, Pemkab Malaka juga memberikan teguran keras kepada Camat Laenmanen sebagai bagian dari penyelesaian.
Dominikus membenarkan permintaan maaf tersebut. “Ia sudah. Dia sudah minta maaf langsung di saya di depan Pak Wakil Bupati, Pak Sekda dan Ketua PGRI dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi di lain hari,” ungkapnya.
Bagi Dominikus, permintaan maaf dan komitmen itu menjadi dasar mengakhiri persoalan secara damai. “Saya pilih jalur damai karena damai itu indah,” pungkasnya.
Ketua PGRI Kabupaten Malaka Jonathan Seran Suri menilai langkah Pemkab melakukan mediasi merupakan keputusan yang cepat dan tepat.
Bagi PGRI, penyelesaian secara damai menjadi momentum penting untuk menjaga hubungan baik dan memastikan persoalan yang melibatkan tenaga pendidik dan pejabat tidak berlarut-larut.
BACA JUGA:
Polemik Video Viral di Rumah Makan Bunda Kanduang: Guru Laporkan Perlakuan Camat Laenmanen
Sebelumnya, PGRI Malaka sempat mendesak Pemda memanggil Camat Laenmanen. “Kalau memang benar segera pecat dari camat,” tegas Jon Seran Suri, Kamis (3/9).
Namun setelah mediasi, PGRI menyampaikan apresiasi kepada Pemkab Malaka. “Profesi guru jangan disudutkan oleh siapapun dengan jabatan apapun, apalagi di muka umum,” ujarnya.
Wakil Bupati Malaka Henri Melki Simu menegaskan, Pemda tidak mentolerir tindakan pejabat yang mencoreng nama baik pelayanan publik. Namun penyelesaian kekeluargaan dipilih agar tidak mengganggu tugas pemerintahan dan pendidikan.
Hingga mediasi selesai, Pemkab Malaka menyatakan kasus ini ditutup secara damai. Kedua belah pihak sepakat tidak akan memperpanjang persoalan.
Kasus ini sebelumnya memicu reaksi warganet yang menyoroti etika pejabat publik terhadap masyarakat dan profesi guru.*
