Dari Gerilyawan hingga Negarawan, Kay Rala Xanana Gusmao Raih Doktor Kehormatan Unhas
Diterbitkan Senin, 7 September, 2026 by NKRIPOST

NKRIPOST MAKASSAR – Perdana Menteri Timor Leste, Kay Rala Xanana Gusmao menerima anugerah Gelar Doktor Kehormatan (Doctor Honoris Causa) dari Universitas Hasanuddin (Unhas). Penganugerahan berlangsung di Gedung Prof. Dr. A.P. Pettarani, Kampus Unhas Tamalanrea, Makassar, Sabtu (5/9/2026).
Gelar kehormatan ini diberikan atas kontribusi Xanana yang dinilai signifikan dalam membawa Timor Leste melewati masa konflik menuju perdamaian, pembangunan, serta penguatan diplomasi dan ekonomi berkelanjutan.
Dinilai Berjasa bagi Kawasan dan Dunia
Dalam pembacaan riwayat hidup, Dr. (HC) Luthfi Rauf, MA selaku Co-Promotor menyebut Xanana sebagai tokoh yang memiliki pengabdian penting, tidak hanya bagi Timor Leste, tetapi juga bagi kawasan Asia Tenggara dan masyarakat internasional.
“Peran beliau dalam memperjuangkan hak menentukan nasib sendiri, membangun demokrasi, menjaga perdamaian, hingga mengelola sumber daya maritim menjadi inspirasi bagi banyak bangsa,” ujar Luthfi.
Rektor Unhas menyampaikan, penganugerahan ini merupakan bentuk apresiasi kampus terhadap pemimpin dunia yang memiliki pemikiran, karya, dan pengabdian luar biasa di bidang kemanusiaan, kepemimpinan, dan pembangunan.
BACA JUGA:
Jokowi Jamu Xanana Gusmao Di Solo, Bahas Lapangan Kerja Dan Ekonomi RI-Timor Leste
Perjalanan dari Gerilyawan hingga Negarawan
Kay Rala Xanana Gusmao lahir di Manatuto, Timor Leste, 20 Juni 1946. Kiprahnya tumbuh bersama sejarah perjuangan bangsa Timor Leste.
Pada dekade 1970-an, ia aktif dalam gerakan politik yang berkembang menjadi Fretilin. Pada 1981, Xanana terpilih sebagai pemimpin perlawanan sekaligus Commander in Chief Falintil.
Setelah 17 tahun memimpin perjuangan gerilya, Xanana ditangkap pada 1992 dan menjalani masa tahanan di Indonesia. Dari dalam penjara, ia mempelajari bahasa Indonesia, bahasa Inggris, dan hukum. Ia juga menulis dan melukis. Pada 1998, ia kembali dikukuhkan sebagai pemimpin perlawanan.
Xanana dibebaskan pada 7 September 1999, setelah referendum yang didukung PBB membuka jalan kemerdekaan Timor Leste.
Pada 14 April 2002, ia terpilih sebagai Presiden Republik Demokratik Timor Leste dan dilantik 20 Mei 2002 sebagai presiden pertama. Usai menjabat hingga 2007, ia kembali dipercaya sebagai Perdana Menteri merangkap Menteri Pertahanan dan Keamanan. Ia kembali terpilih sebagai PM pada 2012.
Peran Strategis: Batas Maritim hingga Ekonomi Biru
Rekam jejak Xanana juga menonjol dalam diplomasi dan penyelesaian persoalan antarnegara.
Pada 2016, Pemerintah Timor Leste menunjuknya sebagai Chief Negotiator for Council for the Final Delimitation of Maritime Boundaries. Dalam kapasitas itu, Xanana memimpin delegasi Timor Leste berunding dengan Australia melalui mekanisme _Compulsory Conciliation_ berdasarkan UNCLOS.
Perundingan tersebut menghasilkan Maritime Boundary Treaty antara Timor Leste dan Australia yang diratifikasi pada 30 Agustus 2019.
Selain dengan Australia, Xanana juga terus terlibat dalam upaya penyelesaian persoalan batas darat dan maritim antara Timor Leste dan Republik Indonesia.
Sejak 2019, ia dipercaya sebagai Special Representative for the Blue Economy. Peran ini menandai pergeseran orientasi pengabdiannya dari perjuangan kemerdekaan menuju agenda pembangunan berkelanjutan, pengelolaan sumber daya maritim, dan masa depan ekonomi Timor Leste.
Pada 1 Juli 2023, Xanana kembali dipercaya memimpin pemerintahan sebagai Perdana Menteri The IX Constitutional Government of Timor Leste.
Dalam kepemimpinannya, Xanana fokus pada konsolidasi perdamaian, persatuan nasional, penguatan demokrasi, pembangunan ekonomi, dan penguatan institusi negara.
Salah satu kontribusi strategisnya adalah memimpin penyusunan Timor Leste Strategic Development Plan 2011–2030 sebagai kerangka pembangunan jangka panjang.
BACA JUGA:
Presiden Prabowo Subianto Sambut Xanana Gusmao Di Istana Negara
Makna bagi Hubungan RI – Timor Leste
Penganugerahan doktor kehormatan kepada Xanana menjadi simbol kuat hubungan Indonesia dan Timor Leste yang kini telah memasuki babak kerja sama damai.
Unhas berharap gelar ini dapat memperkuat kerja sama akademik, riset kemaritiman, dan diplomasi antara kedua negara tetangga.
Usai menerima anugerah, Xanana menyampaikan orasi ilmiah bertema kepemimpinan, rekonsiliasi, dan pembangunan ekonomi biru di negara pasca konflik.**
