Krisis Energi Akibat Perang Iran Dorong Asia Balik Lagi ke Batu Bara
Diterbitkan Rabu, 1 April, 2026 by NKRIPOST

NKRIPOST JAKARTA – Krisis energi akibat perang AS-Israel melawan Iran mendorong banyak negara Asia kembali menggunakan batu bara. Saat pasokan gas alam cair atau LNG terganggu, pemerintah memilih sumber energi yang paling cepat dan paling murah, meski dampaknya paling kotor bagi lingkungan.
The Guardian dikutip Rabu, 1 April melaporkan, dari Bangladesh sampai Korea Selatan, negara-negara Asia sedang menutup kekurangan energi impor yang selama ini banyak datang dari Timur Tengah. Korea Selatan menunda penutupan pembangkit listrik tenaga batu bara dan mencabut batas produksi listrik dari batu bara. Thailand menaikkan output pembangkit batu bara terbesar di negaranya. Filipina, yang sudah menetapkan “darurat energi nasional”, juga bersiap meningkatkan operasi pembangkit berbahan bakar batu bara.
Di Asia Selatan, India meminta pembangkit batu bara beroperasi pada kapasitas penuh dan menunda penghentian terencana. Bangladesh juga menaikkan pembangkitan listrik dari batu bara sekaligus impor batu bara pada Maret.
Persoalannya di LNG. Banyak negara Asia bergantung pada gas ini untuk listrik dan industri, termasuk pupuk. Namun pasokan LNG terganggu setelah Selat Hormuz praktis tertutup, padahal seperlima pengiriman LNG dunia melewati jalur itu. Serangan ke fasilitas ekspor LNG utama di Qatar juga disebut akan memperparah kelangkaan.
BACA JUGA:
Pengendara Wajib Tahu!! BPH Migas Terbitkan Surat Pembatasan Pembelian Pertalite dan Solar
Direktur pelaksana energi dan sumber daya Eurasia Group, Henning Gloystein, seperti dilansir dari The Guardian, mengatakan hampir 30 miliar meter kubik LNG hilang dari rantai pasok global, dan lebih dari 80 persen yang lenyap berada di kawasan Indo-Pasifik. “Pasar global dalam empat pekan berubah dari kondisi kelebihan pasokan yang cukup sehat menjadi defisit yang sangat parah,” katanya. Menurutnya, kondisi itu bukan cuma memicu lonjakan harga, tetapi juga kekurangan bahan bakar yang nyata.
Pilihan kembali ke batu bara memicu kritik keras dari ahli iklim. Pauline Heinrichs dari King’s College London, masih dari The Guardian, mengatakan dampak batu bara terhadap iklim dan kesehatan sudah terbukti merusak selama puluhan tahun. Menurutnya, krisis ini justru harus menjadi titik balik untuk mempercepat energi terbarukan, bukan menghidupkan lagi ketergantungan pada bahan bakar fosil.
Nada serupa disampaikan Dinita Setyawati, analis senior energi untuk Asia di Ember yang berbasis di Jakarta. “Tidak berkelanjutan jika terus bergantung pada batu bara,” katanya dikutip dari The Guardian. Menurut Dinita, energi terbarukan domestik adalah jalan untuk memperkuat keamanan energi dan daya tahan negara.
Di tengah tekanan itu, negara-negara Asia juga mulai menghemat konsumsi energi. Filipina dan Sri Lanka menerapkan pekan kerja empat hari untuk banyak pegawai pemerintah. Vietnam mendorong kerja dari rumah. Bangladesh memajukan libur Idulfitri dan menambah pemadaman terencana. Pakistan memindahkan sekolah ke pembelajaran daring.***voi
