Kehilangan Ibu, Ditinggal Ayah: Kisah Pilu Cinta 11 Tahun Yatim Piatu, Tinggal di Rumah Bambu Bocor, Jalan Kaki ke Sekolah Demi Ubah Nasib
Diterbitkan Selasa, 11 Agustus, 2026 by NKRIPOST

NKRIPOST MANGGARAI TIMUR – Di balik dinding bambu yang lapuk, lantai tanah dingin, dan atap seng berkarat yang bocor setiap hujan, tersimpan keteguhan seorang anak bernama Marselina Lovelia Kurniati Rindu.
Ia biasa disapa Cinta. Usianya baru 11 tahun, kini duduk di Kelas 1 SMP Negeri 1 Elar, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Namun hidup telah memaksanya mengenal kehilangan dan kerasnya perjuangan jauh lebih cepat dari anak seusianya.
1. YATIM PIATU, TINGGAL BERSAMA NENEK LANSIA
Sejak usia sekitar 1 tahun, Cinta kehilangan ibunya. Sang ayah kemudian pergi tanpa tanggung jawab. Sejak itu, Cinta hanya diasuh kakek dan neneknya, Sebas Tonggo dan Katarina Labe.
Namun pada 2024, sang kakek meninggal dunia. Kini, Cinta hanya tinggal berdua dengan neneknya yang sudah lanjut usia di Kampung Compang, RT 015/RW 007, Desa Rana Gapang, Kecamatan Elar.
Rumah mereka sederhana, ukuran sekitar 7×6 meter. Dinding dari bambu dan papan berlubang, lantai masih tanah, atap seng berkarat bercampur bambu.
“Rumah kami bocor di mana-mana. Saat hujan, kami kedinginan dan basah. Kami hidup sangat sederhana, bahkan sulit dikatakan layak,” ujar Katarina sambil menahan tangis dikutip Nusantara Inside.
BACA JUGA:
Dua Anak Yatim Piatu Lovell dan JovellMencari Keadilan Ke Mahkamah Agung dan PM, Gugat Paman-Bibi Rampas Rumah Warisan di Cijantung
2. JALAN KAKI, TAS LUSUH, TAPI PRESTASI TAK PERNAH PADAM
Keterbatasan tidak memadamkan semangat Cinta untuk sekolah. Saat SD di SDI Compang Ngeles, ia selalu meraih peringkat 1. Kini di SMP, ia tetap rajin dan aktif.
Setiap pagi Cinta berjalan kaki ke sekolah. Pulang sekolah, ia kembali berjalan kaki. Dengan seragam sederhana, sandal yang sudah tak layak, dan tas lusuh berisi buku, ia tetap melangkah.
“Cinta anak yang sangat rajin, sopan, dan selalu aktif di sekolah. Meski kurang mampu, ia tidak pernah absen berprestasi,” kata salah satu mantan gurunya.
Sepulang sekolah, Cinta membantu nenek bekerja rumah. Nenek Katarina mencari nafkah serabutan di ladang dengan penghasilan tak menentu untuk makan, buku, dan seragam Cinta.
3. BANTUAN ADA, TAPI BELUM CUKUP
Keluarga ini terdaftar sebagai penerima Program Keluarga Harapan (PKH). Cinta juga menerima Program Indonesia Pintar (PIP). Namun menurut Katarina, bantuan itu belum cukup.
Anak laki-laki Katarina yang merupakan paman Cinta kini masih merantau. Jadi dalam keseharian, hanya Cinta dan neneknya yang bertahan di rumah kecil itu.
4. CITA-CITA SEDERHANA: SEKOLAH DAN BALAS BUDI UNTUK NENEK
Di tengah keterbatasan, Cinta punya harapan besar.
“Saya ingin tetap bersekolah, kelak ingin menjadi orang yang sukses. Saya ingin membalas kasih sayang Nenek,” ujar Cinta.
Bagi Cinta, sekolah bukan sekadar tempat belajar. Sekolah adalah jalan keluar dari kemiskinan.
“Dia tidak meminta kehidupan mewah. Cinta dan neneknya hanya berharap dapat menjalani kehidupan yang lebih layak, terutama memiliki tempat tinggal yang aman ketika hujan turun dan kebutuhan pendidikan Cinta tetap terpenuhi,” lanjut Katarina.
BACA JUGA:
Kami Yatim Piatu Lovell dan Jovell Minta MA Kembalikan Rumah Warisan yang Diduga Dirampas Paman dan Bibi
AJAKAN: ULURAN TANGAN UNTUK CINTA DAN NENEK
Kisah Cinta adalah bukti bahwa kemiskinan tidak bisa mengalahkan semangat belajar. Bagi yang ingin membantu:
Bank BRI
No. Rek: 764401019860529
Atas nama: Katarina Labe
Kontak: 081345134110 / 081239389828
Setiap bantuan, sekecil apa pun, akan sangat berarti untuk kebutuhan sehari-hari, pendidikan Cinta, dan perbaikan rumah agar lebih layak.
Di tengah kemeriahan peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI, masih ada anak bangsa seperti Cinta yang sedang berjuang mempertahankan mimpinya di balik gubuk bambu.
Yang ia butuhkan bukan belas kasihan, melainkan kesempatan untuk terus sekolah dan tumbuh.***
