Dr. Iswadi: Kombinasi TPA dan Penilaian Portofolio, Pendekatan Paling Ideal dan Adil Dalam Menilai Peserta Didik
Diterbitkan Senin, 9 Februari, 2026 by NKRIPOST

Dr. Iswadi menegaskan bahwa kombinasi Tes Potensi Akademik (TPA) dan penilaian portofolio merupakan pendekatan paling ideal dan adil dalam menilai peserta didik
NKRIPOST JAKARTA – Akademisi Universitas Esa Unggul Dr. Iswadi, M.Pd mengungkapkan bahwa kombinasi Tes Potensi Akademik (TPA) dan penilaian portofolio merupakan pendekatan paling ideal dalam menilai peserta didik, terutama di tengah tuntutan pendidikan modern yang semakin kompleks.
Menurutnya, dunia pendidikan tidak lagi cukup jika hanya mengandalkan satu instrumen penilaian, sebab kemampuan peserta didik bersifat multidimensional dan tidak bisa direduksi menjadi angka semata.
Dalam pandangan Dr. Iswadi, TPA memiliki peran penting sebagai alat ukur kemampuan kognitif dasar peserta didik, seperti penalaran logis, kemampuan verbal, numerik, dan pemecahan masalah. Tes ini memberikan gambaran tentang potensi intelektual yang relatif stabil dan dapat dibandingkan secara objektif antarindividu. Oleh karena itu, TPA sangat relevan digunakan dalam konteks seleksi, pemetaan kemampuan awal, maupun pengambilan keputusan pendidikan yang membutuhkan standar baku dan efisiensi waktu.
Namun, ia menegaskan bahwa TPA hanya menjawab sebagian kecil dari pertanyaan besar tentang “siapa dan bagaimana sebenarnya peserta didik itu.”
Lebih jauh, Dr. Iswadi menjelaskan bahwa kelemahan utama TPA terletak pada ketidakmampuannya menangkap proses belajar dan keunikan individu. Banyak peserta didik yang memiliki potensi besar dalam bidang seni, kepemimpinan, olahraga, riset, atau keterampilan praktis, tetapi tidak selalu tercermin dalam hasil tes tertulis. Selain itu, faktor psikologis seperti kecemasan saat ujian dan latar belakang sosial juga dapat memengaruhi performa peserta didik dalam TPA. Jika hasil TPA dijadikan satu-satunya dasar penilaian, maka risiko ketidakadilan dalam pendidikan menjadi cukup besar.
Di sinilah, menurut Dr. Iswadi, penilaian portofolio memainkan peran pelengkap yang sangat krusial. Portofolio memungkinkan pendidik untuk melihat karya nyata peserta didik, proses belajar yang dilalui, serta perkembangan kompetensi dari waktu ke waktu. Melalui portofolio, peserta didik dapat menunjukkan hasil proyek, laporan penelitian, karya tulis, prestasi lomba, hingga refleksi pribadi atas pembelajaran yang mereka jalani. Penilaian ini tidak hanya menilai hasil akhir, tetapi juga menghargai usaha, konsistensi, dan kemajuan individu.
Dr. Iswadi menekankan bahwa portofolio juga selaras dengan prinsip pembelajaran berpusat pada peserta didik. Dengan menyusun portofolio, peserta didik dilatih untuk mengenali kekuatan dan kelemahan dirinya, bertanggung jawab atas proses belajarnya, serta mengembangkan kemampuan reflektif. Hal ini sangat penting untuk membentuk pembelajar sepanjang hayat, bukan sekadar pencari nilai. Namun demikian, ia juga mengakui bahwa penilaian portofolio memiliki tantangan, terutama terkait subjektivitas dan kebutuhan waktu yang lebih panjang dalam proses evaluasi.
Oleh karena itu, Dr. Iswadi menilai bahwa menggabungkan TPA dan portofolio adalah solusi paling seimbang dan adil TPA memberikan kerangka objektif dan terstandar untuk menilai potensi akademik, sementara portofolio memberikan kedalaman makna dengan menampilkan konteks, proses, dan keunikan peserta didik. Kombinasi ini memungkinkan pendidik dan pengambil kebijakan pendidikan untuk melihat peserta didik secara utuh, baik dari sisi kognitif, afektif, maupun psikomotorik.
Dalam praktiknya, Dr. Iswadi menyarankan agar TPA digunakan sebagai alat pemetaan awal atau salah satu komponen seleksi, bukan sebagai penentu tunggal. Sementara itu, portofolio dapat digunakan untuk memperkuat hasil TPA, terutama dalam mengidentifikasi bakat khusus, kreativitas, dan karakter peserta didik. Dengan pendekatan ini, keputusan pendidikan baik dalam penerimaan peserta didik baru, penentuan program pengayaan, maupun pemberian beasiswa akan lebih akurat dan manusiawi.
Menurut Dr. Iswadi, kombinasi TPA dan portofolio juga sejalan dengan arah kebijakan pendidikan yang menekankan asesmen autentik dan pengembangan kompetensi abad ke-21. Dunia kerja dan kehidupan sosial saat ini menuntut individu yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga mampu berpikir kritis, berkolaborasi, berkreasi, dan beradaptasi. Semua kompetensi tersebut tidak mungkin diukur secara komprehensif hanya melalui tes tertulis.
Dr. Iswadi menegaskan bahwa pendidikan yang baik adalah pendidikan yang adil dan memerdekakan peserta didik. Dengan mengombinasikan TPA dan portofolio, sistem penilaian tidak lagi menempatkan peserta didik dalam kotak-kotak sempit, melainkan memberi ruang bagi setiap individu untuk menunjukkan potensi terbaiknya. Inilah sebabnya ia meyakini bahwa pendekatan kombinatif tersebut bukan hanya ideal, tetapi juga menjadi kebutuhan mendesak dalam membangun pendidikan yang inklusif, bermakna, dan berorientasi pada masa depan.
