Semangat Membaca di Pelosok: Kisah Inspiratif Taman Baca Masyarakat Cendana Baus
Diterbitkan Jumat, 18 Juli, 2025 by NKRIPOST

NKRIPOST TTS – Di sebuah desa kecil di Kabupaten Timor Tengah Selatan, Taman Baca Masyarakat (TBM) Cendana Baus berhasil membuktikan bahwa semangat membaca tidak mengenal batas geografis. Berkat dukungan nyata dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia dan Forum Taman Baca Masyarakat, TBM ini kini menjadi oase literasi yang menyemai benih pengetahuan bagi masyarakat Desa Baus. Artikel ini mengangkat perjalanan, harapan, dan filosofi di balik semangat bersama meningkatkan minat baca di wilayah yang seringkali terpinggirkan.
Dalam hiruk pikuk perkembangan teknologi dan kemajuan kota besar, seringkali kita lupa bahwa masih banyak sudut negeri yang merindukan kehangatan buku dan cerita. Taman Baca Masyarakat Cendana Baus adalah salah satunya — sebuah taman baca sederhana yang berlokasi di Desa Baus, Kecamatan Boking, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), yang menari di antara gelombang desa dan lansekap alam.
Tak mudah bagi sebuah komunitas kecil untuk menjaga api kecintaan terhadap buku tetap menyala. Namun, datangnya bantuan dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PNRI) berupa 1 rak buku dan 1500 buku bacaan bukan hanya mengisi ruang baca dengan fisik, melainkan juga membakar semangat masyarakat untuk terus membaca dan belajar.
Bagi Seprianus A. E Tamonob, sang pengelola TBM Cendana Baus, bantuan tersebut adalah “simbol dukungan dan perhatian literasi” yang amat berharga.
Sentuhan bantuan seperti ini tak sekadar mempermudah akses buku, tetapi membuka cakrawala baru bagi masyarakat di pelosok. Bayangkan, sebuah alasan sederhana untuk bertemu, berdiskusi, dan meluangkan waktu bersama buku dapat mengubah cara pandang serta memberi harapan baru. Menurut data UNESCO, literasi merupakan fondasi utama pembangunan berkelanjutan. Jadi, investasi terhadap literasi, sekecil apa pun, sejatinya adalah investasi untuk masa depan bangsa.
Sepri, dengan latar belakang pendidikan S.Pd., menyampaikan rasa terima kasihnya dan optimisme yang besar. “Saya merasa sangat terbantu dan termotivasi untuk terus berkontribusi,” ujarnya. Ini bukan hanya soal buku yang tersedia, tapi tentang sinergi — kerjasama antara PNRI, Forum Taman Baca Masyarakat Kabupaten TTS, dan masyarakat lokal yang merangkai mimpi-mimpi besar untuk masa depan desa mereka.
Tebak apa? Semangat Sepri dan timnya bukan hanya menjadi kisah inspiratif di ranah lokal, tapi juga menggugah siapa saja yang membaca berita ini untuk merenung—bagaimana kontribusi kecil kita terhadap literasi bisa menjadi pendorong perubahan yang dahsyat? Bukankah gerakan literasi sejatinya adalah gerakan tanpa batas, yang menjembatani kesenjangan antara kota dan desa, antara kemapanan dan keterbatasan?
Begitu pula dengan kata penutup Sepri: “Saya berkomitmen untuk menjaga serta merawat fasilitas ini dengan baik.” Komitmen ini mengingatkan kita bahwa semangat literasi harus dirawat tidak hanya lewat donasi semata, tapi lewat ketulusan hati dan pelibatan aktif masyarakat.
Kisah TBM Cendana Baus adalah pengingat manis bahwa setiap halaman yang dibuka adalah pintu menuju dunia yang lebih luas. Di tengah kedalaman alam Nusa Tenggara Timur, lahirlah sebuah harapan bahwa buku dan pengetahuan bisa menjadi jembatan ke masa depan yang lebih cerah.
Pada akhirnya, apakah Anda sudah membuka buku hari ini? Jika belum, mungkin kisah Desa Baus ini bisa menjadi motivasi sederhana untuk memulai. Karena dalam setiap kata yang terbaca, tersimpan sebuah dunia baru yang menunggu untuk dijelajahi.***(DoA)
