Kesaksian Yusril : Katanya Soeharto Punya Harta 7 Keturunan, Justru Di Akhir Hidupnya Hidup Melarat, Begini Kisahnya
Diterbitkan Sabtu, 30 September, 2023 by NKRIPOST

NKRIPOST, JAKARTA – Soeharto memegang jabatan sebagai Presiden Republik Indonesia selama 32 tahun.
Ia pun disebut-sebut memiliki banyak harta. Konon, harta itu tak akan habis dipakai tujuh turunan. Presiden ke-dua Indonesia ini diduga mendapatkan kekayaan fantastis dari praktik korupsi selama berkuasa. Bahkan, Soeharto memang pernah ditetapkan sebagai tersangka dugaan korupsi tujuh yayasan yang dipimpinnya. Ada pula dugaan bahwa Soeharto menyimpan sejumlah kekayaannya di luar negeri, yakni di bank-bank Swis.
Namun, tidak semua orang percaya dengan hal ini. Yusril Ihza Mahendra yang pernah menjadi penulis pidato Soeharto yak mempercayai hal ini.
Yusril mengatakan bahwa harta yang diduga disimpan Soeharto di bank-bank Swiss itu sudah pernah dilacak.
Akan tetapi, tidak ditemukan apa-apa dari pelacakan yang telah dilakukan beberapa kali tersebut.
Selain itu, Yusril juga bersaksi bahwa Soeharto adalah sosok yang kehidupannya sangat sederhana.
Bahkan, menjelang wafat, Soeharto pernah mengaku kehabisan uang hingga tak mampu memperbaiki atap rumahnya yang bocor.
“Jadi, saya sendiri mengalami ketika hari-hari terakhir menjelang Pak Harto meninggal. Beberapa bulan sebelum meninggal itu, saya sudah jadi Mensesneg pada waktu itu,” kata Yusril, sebagaimana dikutip dari kanal YouTube Pinter Politik TV pada Sabtu, 30 September 2023.
Saat itu, Yusril dipanggil oleh Soeharto ke rumahnya. Soeharto bertanya mengapa ia belum diberi rumah.
Pasalnya, ketika itu ada peraturan bahwa mantan Presiden dan Wakil Presiden akan diberikan sejumlah fasilitas, seperti rumah, mobil, sopir, dan pengawal.
BACA JUGA:
Simak! 5 Dosa Besar Soeharto Pada Soekarno, Salah Satunya Menghabisi para Soekarnois
“Dibilang ‘Ril, saya dengar semua sudah dikasih, Gus Dur sudah, Megawati sudah, saya kok belum?’ katanya. Jadi saya bilang, ‘Pak Harto emang perlu rumah?’,” kenang Yusril.
Soeharto menjawab bahwa ia ingin membeli sebuah rumah di Jalan Teuku Umar. Ia ingin menjadikan rumah itu sebagai Klinik Jantung sesuai permintaan mendiang istrinya, Tien Soeharto.
“Ditunjukkan rumahnya itu. Dan saya bilang, ‘Ya saya sudah dengar rumah itu dan kami sudah pelajari, cuman rumah itu Rp75 miliar harganya. Sedangkan ini jatah rumahnya itu cuman Rp20 miliar,” kata Yusril.
Perbincangan mereka pun tak menemukan solusi. Pasalnya, Soeharto tetap menginginkan rumah Rp75 miliar tersebut. Sementara alokasi rumah untuk mantan presiden hanyalah Rp20 miliar.
Beberapa minggu setelah pertemuan itu, Yusril kembali dipanggil oleh Soeharto melalui ajudannya.
Kepada Yusril, Soeharto mengaku membutuhkan uang. Ketika ditanya untuk apa, ia menjawab untuk memperbaiki atap rumah yang bocor.
“Memang betul. Jadi saya masuk tuh biasa lewat pintu yang saya biasa masuklah, lewat belakang. Sudah banyak tergenang air, karena hujan waktu itu,” kata Yusril.Beliau bilang, ‘Saya mau betulin rumah ini, saya nggak punya uang lagi’,” sambungnya.
Mendengar keluhan Soeharto, Yusril lantas menghubungi Sri Mulyani yang ketika itu menjabat sebagai Menteri Keuangan di kabinet Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).Yusril meminta agar uang untuk jatah rumah Soeharto dicairkan. SBY sebagai presiden ketika itu pun menyetujui.
Sri Mulyani pun juga setuju jatah Soeharto dikeluarkan. Namun, ia sempat mempersoalkan terkait pajak.
“Waktu itu pun Ibu Sri Mulyani masih persoalkan lagi. Dia bilang, ‘Ini Rp20 miliar, Bang Yusril. Tapi ini kena pajak apa nggak nih?’ Saya bilang, ‘Masa gini-ginian aja dipajakin?’ gitu,” ungkap Yusril.
Oleh karena itu, uang yang akhirnya diserahkan kepada Soeharto ketika itu hanyalah Rp13 miliar dari Rp20 miliar.
Menurut Yusril, sisanya yang sebesar Rp7 miliar masih dipertanyakan apakah akan dikenakan pajak atau tidak.
“Nah, setelah saya tidak jadi Mensesneg lagi, saya nggak tahu apa itu sudah dipotong atau tidak. Sri Mulyani kan masih jadi Menteri Keuangan sampai sekarang,” katanya.
Yusril pun meragukan tudingan bahwa Soeharto melakukan korupsi hingga menumpuk harta dan disimpan di luar negeri.
“Jadi itu ceritanya. Jadi, kalau Pak Hartonya sendiri itu, saya kira nggak mungkinlah. Orang kiri kanannya ya, keluarganya mungkin iya. Tapi Pak Hartonya sendiri itu orang hidup begitu sederhana,” ujarnya. …*(hops)
