SELAMAT DATANG DI NKRI POST
TERIMA KASIH TELAH MENGUNJUNGI KAMI
SAMPAI JUMPA LAGI
oleh

Beda Frekuensi Pemimpi Dan Pelaksana

BEDA FREKUENSI PEMIMPI DAN PELAKSANA

Oleh : Prof. Muhamad Kundarto

Nkripost.co, KendaL – Jateng – Bagi seorang leader, atau mereka yang sudah terbiasa menduduki pucuk pimpinan organisasi, akan terbiasa membangun mimpi jauh ke depan, seperti tertuang dalam visi dan misi. Setiap obrolan akan menjangkau 4-5 langkah ke depan, mencakup areal yang luas dan melingkupi banyak aspek. Kita sebut tipe ini “Pemimpi”.

Bagi seorang pelaksana, di dalamnya ada manajer sampai anak buah di lapis terbawah, mereka menyukai prosedur/aturan baku sebagai pegangan dalam melangkah. Mereka merasa aman dan nyaman apabila sudah melaksanakan aturan, entah ini berdampak jauh ke depan untuk pengembangan atau tidak, mereka tidak sampai ke sana.

Pemimpi dan Pelaksana memang layak dipertemukan dan disinergikan. Bagi perusahaan atau instansi, tentu ini lebih mudah, karena mereka terikat oleh aturan yang sama dan mekanisme hasil yang jelas pula. Tapi bagi organisasi sosial non profit, dimana spirit belum sama, frekuensi yang berbeda akan jadi masalah besar. Bisa jadi akan menjadi sumber kecurigaan, ketidakpercayaan dan konflik perpecahan.

Bagi pemimpi, manfaat lebih besar untuk masyarakat banyak adalah sebuah kebanggaan, walaupun untuk perut sendiri sering kelaparan. Tapi bagi pelaksana, bisa diartikan sebagai langkah penuh resiko dan tak siap menanggung kerugian. Maka menyamakan frekuensi yang berbeda ini butuh perjuangan tersendiri.

Jalan tengah perlu dicari. Pemimpi perlu menurunkan impian yang lebih realistis dan bisa diterima logika para pelaksana. Sedangkan pelaksana sendiri harus bisa memahami dan mengerti, bahwa para pemimpi memang sedang memerankan sebagai “nahkoda kapal”, sehingga para penumpang harus yakin dan mendukung bahwa semua impian itu akan membawa kemajuan bersama.

Rintisan dimulai dari yang kecil-kecil. Ibarat impian kebun besar, dimulai dari obrolan menanam pohon di pekarangan. Jika berhasil, baru bicara skala 1 hektar, dan seterusnya. Masing-masing pihak harus selalu mengedepankan prasangka baik dan paseduluran, karena itu kunci utama guyup rukun dan pengamalan semangat goting royong untuk “mukti bareng”.

Nkripost.co
Mario Sandy

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed