Dr. Iswadi: Guru Harus Jadi Inspirator, Bukan Sekadar Pengejar Target Ujian
Diterbitkan Kamis, 6 Agustus, 2026 by NKRIPOST

NKRIPOST JAKARTA – Di tengah derasnya arus perubahan global, kemajuan teknologi, dan tuntutan kompetensi abad ke-21, sistem pendidikan Indonesia dinilai masih terjebak pada orientasi nilai akademik.
Kondisi ini mendorong akademisi dan pemerhati pendidikan, Dr. Iswadi, M.Pd., untuk menyuarakan “Revolusi Pendidikan Membebaskan” sebagai arah baru transformasi pendidikan nasional. Pernyataan itu disampaikan Dr. Iswadi di Jakarta, Kamis (6/8/2026).
Menurut Dr. Iswadi, pendidikan tidak boleh berhenti pada pencapaian angka di rapor atau keberhasilan siswa lulus ujian. Pendidikan sejatinya adalah proses memerdekakan manusia dari kebodohan, ketakutan, dan keterbelakangan.
“Pendidikan harus membebaskan manusia dari kebodohan, ketakutan, dan keterbelakangan. Sekolah bukan sekadar tempat menghafal materi, melainkan ruang untuk melahirkan pemikiran, kreativitas, dan karakter yang akan menjadi bekal peserta didik dalam menghadapi kehidupan,” ujar Dr. Iswadi.
Ia menilai salah satu tantangan terbesar saat ini adalah masih kuatnya budaya pembelajaran yang berpusat pada guru. Peserta didik sering hanya menjadi penerima informasi tanpa diberi ruang bertanya, berdiskusi, dan berpikir kritis.
Padahal, dunia saat ini butuh SDM yang adaptif, kreatif, dan mampu bekerja sama di lingkungan kompleks.
Karena itu, Dr. Iswadi mendorong perubahan paradigma menuju pembelajaran yang menempatkan peserta didik sebagai subjek utama.
Konsep _Pendidikan Membebaskan_ bukan berarti menghilangkan disiplin, melainkan memberi ruang seluas-luasnya untuk mengembangkan potensi, bakat, dan minat melalui pembelajaran yang aktif, dialogis, kolaboratif, dan berbasis pemecahan masalah.
“Keberhasilan pendidikan tidak dapat diukur hanya melalui capaian akademik. Indikator sesungguhnya adalah kemampuan berpikir kritis, berkomunikasi efektif, berkolaborasi, berinovasi, serta memiliki karakter kuat sebagai warga negara yang bertanggung jawab,” katanya.
“Bangsa yang maju tidak hanya memiliki masyarakat yang cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki integritas, empati, tanggung jawab, dan semangat belajar sepanjang hayat,” lanjutnya.
BACA JUGA:
Kopinus Usul Ke Presiden Prabowo: Pertimbangkan Dr. Iswadi Masuk Kabinet Merah Putih
Dalam pandangannya, revolusi pendidikan harus dimulai dari peningkatan kualitas guru. Guru tidak lagi cukup sebagai penyampai materi, tetapi harus menjadi fasilitator, mentor, dan inspirator.
“Guru adalah aktor utama perubahan pendidikan. Ketika guru diberi ruang untuk berkembang dan terus meningkatkan kompetensinya, maka kualitas pembelajaran juga akan meningkat secara signifikan,” jelasnya.
Ia mendorong pemerintah memperkuat pelatihan guru yang relevan dengan zaman, literasi digital, pemanfaatan AI, serta penguatan kapasitas pedagogik. Menurutnya, investasi pada guru berdampak jauh lebih besar dibanding sekadar ganti kurikulum.
Dr. Iswadi juga menekankan pentingnya budaya belajar baru. Sekolah harus menjadi ruang yang aman, inklusif, menyenangkan, dan menghargai keberagaman.
Terkait perkembangan Artificial Intelligence (AI), ia mengingatkan teknologi harus dimanfaatkan untuk memperluas akses dan pemerataan pendidikan. Namun, orientasi utama tetap pembentukan karakter.
“Teknologi hanyalah alat. Yang paling penting adalah bagaimana pendidikan tetap mampu membentuk manusia yang memiliki karakter, etika, dan tanggung jawab. Kecanggihan teknologi tidak boleh menggeser nilai-nilai kemanusiaan,” tegasnya.
BACA JUGA:
Dr. Iswadi: Survei Kepuasan Prabowo Adalah Cermin, Ini 5 Langkah Untuk Naikkan Kepercayaan Publik
Lebih jauh, Dr. Iswadi mengajak pemerintah, perguruan tinggi, sekolah, dunia usaha, ormas, hingga keluarga membangun kolaborasi. Transformasi pendidikan tidak bisa dibebankan pada satu pihak.
Ia juga mendorong perguruan tinggi menjadi pusat inovasi dan riset kebijakan pendidikan. “Perguruan tinggi memiliki tanggung jawab moral untuk menghasilkan inovasi dan solusi. Riset harus memberikan manfaat nyata, bukan hanya berhenti sebagai dokumen akademik,” ujarnya.
Dr. Iswadi optimistis Indonesia bisa membangun sistem pendidikan berdaya saing global jika seluruh elemen memiliki visi sama. Baginya, _Pendidikan Membebaskan_ akan melahirkan generasi yang unggul akademik, berani berpikir kritis, dan menjadi agen perubahan.
“Perjuangan mewujudkan Pendidikan Membebaskan bukan sekadar menawarkan konsep baru, melainkan gerakan bersama untuk menyelamatkan masa depan bangsa. Kualitas suatu negara sangat ditentukan oleh kualitas sistem pendidikannya,” pungkasnya.**
