Satu Tahun JFP–Candra Pimpin Solok: Membangun dari Pinggiran, Menata dari Dasar
Diterbitkan Jumat, 20 Februari, 2026 by NKRIPOST

Satu Tahun Kepemimpinan JFP–Candra: Membangun dari Pinggiran, Menata dari Dasar
Oleh : Nazwirman
NKRI POST – Tanggal 20 Februari 2026 cukup satu tahun kepemimpinan Jon Firman Pandu dan Candra di Kabupaten Solok. Di tengah ruang fiskal daerah yang terbatas dan kebutuhan publik yang terus meningkat, duet ini memilih pendekatan yang relatif terukur: membangun dari nagari, menata dari dalam birokrasi.
Kabupaten Solok, dengan bentang geografis yang menantang dan karakter agraris yang kuat, bukan wilayah yang mudah dikelola. Infrastruktur dasar, akses layanan publik, hingga ketahanan bencana menjadi pekerjaan rumah yang menahun. Tahun pertama ini memperlihatkan upaya konsolidasi—belum lompatan besar, tetapi fondasi yang mulai dirapikan.
Infrastruktur sebagai Titik Berangkat
Peresmian Paket IJD Alahan Panjang–Taratak Galundi pada awal 2026 menjadi simbol percepatan konektivitas antarwilayah. Di daerah dengan kontur jalan berkelok dan rawan longsor, peningkatan kualitas jalan berarti membuka akses ekonomi, memperpendek waktu tempuh hasil pertanian ke pasar, sekaligus menurunkan biaya distribusi.
Koordinasi dengan pemerintah pusat untuk proyek strategis, termasuk Jalan Air Dingin, menunjukkan bahwa pendekatan kolaboratif menjadi pilihan.
Rehabilitasi embung dan jaringan irigasi pun menegaskan bahwa pembangunan fisik tidak dilepaskan dari kepentingan sektor pertanian sebagai urat nadi ekonomi Kabupaten Solok.
Menariknya, infrastruktur digital kini ditempatkan setara dengan jalan dan jembatan. Pembangunan menara BTS di nagari terpencil mencerminkan kesadaran bahwa konektivitas internet adalah prasyarat pemerataan.
Digitalisasi dan Desentralisasi Layanan
Enam tower BTS telah berdiri di beberapa nagari seperti di Nagari Katialo, Pasilihan, Garabak Data, dan Sumiso, dengan target bebas blankspot pada 2026.
Target bebas blank spot pada 2026 bukan sekadar ambisi administratif, melainkan fondasi transformasi layanan publik. Administrasi kependudukan yang kini dapat diakses di tingkat kecamatan—tanpa harus ke pusat kabupaten—menunjukkan pergeseran dari sentralisasi menuju desentralisasi pelayanan.
Integrasi layanan di Mall Pelayanan Publik dan kanal aduan “Lapor Pak JFP” memperlihatkan upaya membangun tata kelola yang lebih terbuka. Namun, digitalisasi tidak boleh berhenti pada infrastruktur. Reformasi kultur birokrasi—berbasis data dan kinerja—akan menjadi penentu keberlanjutan.
BACA JUGA:
Bupati Solok Jon Firman Pandu Dorong Akreditasi Perpustakaan, Tingkatkan Budaya Literasi
Pendidikan dan Pembangunan Manusia
Kebijakan sekolah enam hari kembali diberlakukan dengan dalih peningkatan mutu dan disiplin. Program Sekolah Rakyat menyasar keluarga miskin ekstrem, mencoba memutus rantai kemiskinan melalui pendidikan berasrama gratis. Kerja sama dengan perguruan tinggi untuk menghadirkan kampus jauh menjadi strategi jangka panjang: meningkatkan kualitas SDM tanpa memaksa urbanisasi.
Di sektor kesehatan, intervensi hulu melalui program gizi dan perluasan cakupan JKN menunjukkan keberpihakan pada layanan dasar. Dukungan pada tenaga kesehatan dan fasilitas primer menjadi indikator bahwa pembangunan manusia tidak hanya bersifat retorika.
Meski demikian, pembangunan manusia adalah maraton. Tantangannya terletak pada kualitas implementasi dan kesinambungan anggaran.
Pertanian dan Stabilitas Harga
Sebagai daerah agraris, Solok bertumpu pada inovasi pertanian. Program Basawah Pokok Murah berbasis organik diklaim meningkatkan produktivitas, sementara bantuan irigasi bagi kelompok tani memperluas skala produksi. Komoditas kopi, jagung, dan kakao didorong menuju hilirisasi.
Di sisi lain, stabilitas harga dijaga melalui Gerakan Pangan Murah dan koordinasi TPID. Kebijakan ini penting untuk menjaga daya beli masyarakat, terutama saat tekanan inflasi meningkat.
Namun, keberlanjutan ekonomi daerah tetap bergantung pada penguatan rantai nilai. Event pariwisata dan promosi budaya perlu diikuti pengembangan produk lokal yang kompetitif dan akses pembiayaan yang inklusif.
Ketangguhan Bencana dan Stabilitas Fiskal
Dalam ujian bencana hidrometeorologi, capaian zero korban jiwa menjadi catatan penting. Respons cepat, termasuk pembangunan jembatan bailey dan pembukaan akses darurat, menunjukkan koordinasi lintas lembaga berjalan efektif. Dokumen rehabilitasi dan rekonstruksi yang cepat disusun menandakan kesiapan administratif.
Di sektor fiskal, peningkatan PAD dan pengelolaan anggaran tanpa defisit memberi ruang manuver bagi program prioritas. Stabilitas ini penting untuk menjaga kepercayaan publik dan kesinambungan pembangunan.
Ujian Keberlanjutan
Satu tahun belum cukup untuk menilai keberhasilan secara menyeluruh. Namun, garis kebijakan yang diambil terlihat konsisten: memperbaiki tata kelola, memperkuat fondasi manusia, dan membangun dari nagari sebagai basis ekonomi.
Tantangan berikutnya adalah konsistensi. Pembangunan memerlukan pengawasan ketat, evaluasi berbasis data, serta keberanian melakukan koreksi bila kebijakan tidak efektif. Pada akhirnya, ukuran keberhasilan bukanlah jumlah program atau besarnya anggaran, melainkan perubahan nyata dalam kualitas hidup warga.
Kabupaten Solok hari ini sedang menata dirinya, pelan, tetapi terarah. Jika fondasi ini dijaga dan diperkuat, bukan mustahil Solok akan tumbuh bukan hanya sebagai daerah agraris yang produktif, tetapi juga sebagai wilayah yang tangguh, inklusif, dan berdaya saing.
Di situlah ujian tahun-tahun berikutnya bagi kepemimpinan Jon Firman Pandu–Candra: memastikan bahwa setiap kebijakan benar-benar berakar di nagari dan berbuah di rumah-rumah warga.***
