NKRIPOST

NKRIPOST – VOX POPULI PRO PATRIA

Menghadirkan Rasa “Sadar Sampah” di Hati Masyarakat

Listen to this article

Diterbitkan Rabu, 11 Februari, 2026 by NKRIPOST

Menghadirkan Rasa “Sadar Sampah” di Hati Masyarakat
Oleh. :  Nazwirman Koto

NKRI POST – Gerakan bersih lingkungan yang kini digaungkan secara nasional sejatinya bukan sekadar agenda rutin atau respons atas instruksi pusat. Ia adalah panggilan moral. Ketika Presiden Republik Indonesia mencanangkan Indonesia bersih, pesan yang hendak ditegaskan sesungguhnya sederhana: kebersihan adalah fondasi peradaban.

Di Kabupaten Solok, semangat itu sesungguhnya telah lebih dulu tumbuh melalui program unggulan “Solok Bersih” yang diinisiasi pasangan Bupati Jon Firman Pandu dan Wakil Bupati Candra.

Turunnya kepala daerah, Forkopimda, dan ratusan ASN ke lapangan, seperti dalam kegiatan korvey di Alahan Panjang, adalah simbol komitmen. Namun simbol saja tidak cukup.

Keberhasilan gerakan bersih tidak ditentukan oleh seberapa banyak pejabat turun ke jalan, melainkan oleh seberapa dalam kesadaran itu hidup di hati masyarakat.

Sampah adalah Cermin Perilaku

Sampah yang berserakan di pinggir jalan, di pasar, hingga ke aliran sungai bukan semata persoalan teknis pengangkutan. Ia adalah cermin perilaku kolektif. Hampir seluruh sampah itu berasal dari rumah tangga—dari dapur, dari kemasan belanja harian, dari kebiasaan kecil yang dianggap remeh.
Artinya, solusi utama bukan hanya menambah armada atau memperbanyak tempat sampah. Solusinya adalah perubahan pola pikir.

Kesadaran bahwa membuang sampah sembarangan sama dengan merusak ruang hidup sendiri harus ditanamkan secara terus-menerus. Edukasi tidak boleh berhenti pada spanduk dan imbauan. Ia harus masuk ke ruang keluarga, ke meja makan, ke sekolah, dan ke mimbar-mimbar pengajian.

Kolaborasi Tiga Pilar

Di ranah Minangkabau, perubahan sosial selalu efektif ketika tiga unsur bergerak seiring: pemerintah, ulama, dan tokoh adat.
Pemerintah memiliki kewenangan dan fasilitas. Ulama memiliki kekuatan moral dan pengaruh spiritual. Tokoh adat memiliki legitimasi sosial dan kedekatan kultural. Bila ketiganya berjalan “seayun selangkah”, pesan sadar sampah tidak lagi terdengar sebagai instruksi formal, melainkan sebagai kewajiban moral dan bagian dari adat yang dijunjung tinggi.

Bayangkan jika setiap khutbah Jumat menyisipkan pesan menjaga kebersihan sebagai bagian dari iman. Jika setiap musyawarah nagari menjadikan pengelolaan sampah sebagai agenda tetap. Jika setiap pemimpin memberi teladan nyata dari lingkungan rumah dan kantor masing-masing. Dampaknya akan jauh lebih kuat dibanding sekadar gerakan insidental.

Peran Strategis Pemerintah Nagari

Pemerintah nagari berada di garda terdepan. Di level inilah kebijakan bertemu langsung dengan masyarakat. Nagari dapat menginisiasi bank sampah, jadwal gotong royong rutin, hingga regulasi sederhana tentang pengelolaan sampah rumah tangga.
Lebih dari itu, nagari dapat membangun budaya malu terhadap perilaku membuang sampah sembarangan. Bukan dengan pendekatan represif semata, tetapi melalui pendekatan sosial dan persuasif.

Gerakan bersih akan menjadi kuat jika ia tumbuh sebagai budaya, bukan kewajiban sesaat.

Dari Korvey Menuju Karakter

Korvey dan aksi bersih massal adalah langkah awal yang baik. Namun ia harus menjadi pintu masuk menuju pembentukan karakter. Tujuan akhirnya bukan sekadar lingkungan yang tampak bersih hari ini, tetapi generasi yang memiliki kesadaran hidup sehat sepanjang hayat.

Lingkungan bersih bukan hanya soal estetika. Ia berkaitan langsung dengan kesehatan masyarakat, pengurangan penyakit berbasis lingkungan, kualitas air, bahkan daya tarik pariwisata daerah. Dalam konteks Kabupaten Solok yang kaya potensi alam, kebersihan adalah investasi masa depan.

Menghadirkan Kesadaran dari Rumah Tangga

Perubahan terbesar selalu dimulai dari rumah tangga. Jika setiap keluarga membiasakan memilah sampah, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, dan menjaga kebersihan halaman, maka beban pemerintah akan jauh berkurang.

Kesadaran kolektif lahir dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten.
Gerakan “Sadar Sampah, Sadar Bersih” harus menjadi gerakan hati. Bukan karena diawasi, bukan karena takut sanksi, tetapi karena memahami bahwa bumi ini adalah ruang hidup bersama yang harus dijaga.
Pada akhirnya, kebersihan bukan sekadar program pemerintah. Ia adalah ukuran kedewasaan masyarakat. Dan ketika seluruh unsur baik pemerintah, ulama, tokoh adat, serta keluarga, bergerak bersama, maka Solok Bersih bukan lagi slogan, melainkan identitas.
Kini saatnya menjadikan hidup bersih dan sehat sebagai budaya, bukan sekadar kegiatan.***

BACA JUGA:

Launching Gerakan Pilah Sampah, Dirut RSUD Cibinong : Sampahmu Jadi Tanggungjawabmu

VIDEO REKOMENDASI:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

REDAKSI: JL. MINANGKABAU TIMUR NO. 19 A, KEL. PS. MANGGIS, KEC. SETIABUDI KOTA JAKARTA SELATAN - WA: 0856 9118 1460  
EMAIL: [email protected]
NKRIPOSTCO ©Copyright 2024 | All Right Reserved