Kecerdasan Emosional Menciptakan Masyarakat Yang Sejahtera
Diterbitkan Jumat, 1 Oktober, 2021 by NKRIPOST

NKRIPOST, SUMBAR – Apakah IQ adalah takdir? Ternyata tidak sebagaimana yang lumrah kita pikirkan. Ada orang yang ber-IQ tinggi mengalami kegagalan dan orang yang ber-IQ sedang menjadi sangat sukses. Penyebabnya adalah “kecerdasan emosional”, yang mencakup kesadaran diri dan kendali dorongan hati, ketekunan, semangat dan motivasi diri, empati, serta kecakapan sosial.
Kecerdasan emosional merupakan ciri orang-orang yang menonjol dalam kehidupan nyata: mereka yang memiliki hubungan dekat yang hangat dan menjadi bintang di tempat kerja. Ini juga ciri utama karakter dan disiplin diri, altruisme, serta belas kasih. Hal ini merupakan kemampuan-kemampuan dasar yang dibutuhkan bila kita mengharapkan terciptanya masyarakat yang sejahtera.
Kerugian akibat rendahnya kecerdasan emosional dapat berkisar dari kesulitan perkawinan dan mendidik anak hingga ke buruknya kesejahteraan jasmani. Rendahnya kecerdasan emosional dapat menghambat pertimbangan intelektual dan menghancurkan karier. Barangkali kerugian terbesar diderita oleh anak-anak, yang mungkin bisa mengalami depresi, gangguan makan dan kehamilan yang tak diinginkan, agresivitas, serta kejahatan dengan kekerasan.
BACA JUGA:
Yakin Anies-Sandi Sukses di Pilpres, PKS: Kalau Sudah Takdir, Jalannya Mudah
Kabar gembiranya, kecerdasan emosional tidak ditentukan sejak lahir. Karena pelajaran-pelajaran emosional yang diperoleh seorang anak akan membentuk sirkuit otaknya. Maka, bagaimana orang tua dan sekolah seharusnya dapat memanfaatkan kesempatan emas masa kanak-kanak itu dengan sebaik-baiknya.
Berita yang sampai kepada kita setiap hari penuh dengan laporan tentang lenyapnya sopan santun dan rasa aman, menyiratkan adanya serbuan dorongan sifat jahat. Tetapi, dalam skala yang lebih besar, berita itu sekedar memberikan gambaran adanya emosi-emosi yang pelan-pelan tak terkendali dalam kehidupan kita sendiri dan dalam kehidupan orang-orang di sekitar kita.
Misal, di beberapa daerah saat dilaksanakannya rapat oleh anggota dewan (DPR/DPRD) sering muncul berita adanya perkelahian di antara anggota dewan karena perbedaan pendapat. Emosi yang tak terkendali dari masing-masing anggota dewan dilampiaskan selain dengan nada suara yang menggebu-gebu, juga sampai merusak fasilitas ruang sidang, bahkan ada juga yang sampai naik ke atas meja dan baku hantam dengan sesama anggota dewan lainnya. Pemandangan ini tak asing lagi kita dengar dan lihat di ruang sidang gedung DPR/DPRD.
Berikutnya, tertangkapnya beberapa pejabat publik oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), baik secara tangkap tangan, maupun melalui penyelidikan yang cukup panjang. Setelah dilakukan pemeriksaan di gedung KPK, mereka ke luar dengan menggunakan rompi orange, tangan diborgol, dan tertawa seolah tak terjadi masalah.
Selain itu, ada juga kasus tertangkapnya warga akibat pesta narkoba (tak sedikit juga dari kalangan publik figur), kekerasan terhadap anak (pelecehan seksual), tawuran antar warga, prostitusi, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), perceraian, tindak kriminal, hingga terorisme dan bunuh diri.
BACA JUGA:
Atlet Binaragawan Sumbar Diding Grimon Optimis Raih Medali Emas di PON XX Papua
Dasawarsa terakhir ini telah mencatat rentetan laporan semacam itu, mencerminkan meningkatnya ketidakseimbangan emosi, keputusasaan, dan rapuhnya moral di dalam keluarga kita, masyarakat, dan kehidupan kita bersama. Meluasnya penyimpangan emosional terlihat pada melonjaknya angka tingkat depresi di seluruh dunia dan pada tanda-tanda tumbuhnya gelombang agresivitas.
Berikut terdapat lima ciri-ciri orang dikatakan cerdas secara emosional :
Pertama, mampu mengenali emosi diri.
Kesadaran diri dalam mengenali perasaan sewaktu perasaan itu terjadi merupakan dasar kecerdasan emosional.
Kedua, mampu mengelola emosi.
Menangani perasaan agar perasaan dapat terungkap dengan pas adalah kecakapan yang bergantung pada kesadaran diri. Orang-orang yang buruk dalam keterampilan ini akan terus menerus bertarung melawan perasaan murung, sementara mereka yang pintar dapat bangkit kembali dengan jauh lebih cepat dari kemerosotan dan kejatuhan dalam kehidupan.
Ketiga, mampu memotivasi diri.
Menata emosi sebagai alat untuk mencapai tujuan adalah hal yang sangat penting dalam kaitan untuk memberi perhatian, untuk memotivasi diri sendiri dan untuk berkreasi. Kendali diri emosional — menahan diri terhadap kepuasan dan mengendalikan dorongan hati adalah landasan keberhasilan dalam berbagai bidang. Dan, mampu menyesuaikan diri dalam “flow” memungkinkan terwujudnya kinerja yang tinggi dalam segala bidang. Orang-orang yang memiliki keterampilan ini cenderung jauh lebih produktif dan efektif dalam hal apa pun yang mereka kerjakan.
BACA JUGA:
Keempat, mampu mengenali emosi orang lain.
Empati, kemampuan yang juga bergantung pada kesadaran diri emosional, merupakan “keterampilan bergaul”. Orang yang empatik lebih mampu menangkap sinyal-sinyal sosial yang tersembunyi yang mengisyaratkan apa-apa yang dibutuhkan atau dikendalikan orang lain. Orang-orang seperti ini cocok untuk pekerjaan-pekerjaan keperawatan, mengajar, penjualan, dan manajemen.
Kelima, mampu membina hubungan.
Seni membina hubungan, sebagian besar, merupakan keterampilan mengelola emosi orang lain. Keterampilan ini menunjang polularitas, kepemimpinan, dan keberhasilan antar pribadi. Orang-orang yang hebat dalam keterampilan ini akan sukses dalam bidang apapun yang mengandalkan pergaulan yang mulus dengan orang lain.; mereka adalah bintang-bintang pergaulan.
Tentu saja, kemampuan orang berbeda-beda dalam wilayah-wilayah ini; beberapa orang di antara kita barangkali amat terampil menangani kecemasan diri sendiri misalnya, tetapi kerepotan meredam kemarahan orang lain.
Kekurangan-kekurangan dalam keterampilan emosional dapat diperbaiki, sampai ke tingkat yang setinggi-tingginya ketika masing-masing wilayah menampilkan bentuk kebiasaan dan respon yang baik, dengan upaya yang tepat, dapat dikembangkan.
Jurnalis NKRI Post melaporkan
Narasumber : Bayu Prasetya Yudha, M.Psi.,Psikolog
