Perpustakaan Mini Untuk Anak Pesisir Jadi Landasan Keterbatasannya Pendidikan
Diterbitkan Selasa, 24 Februari, 2026 by NKRIPOST

NKRIPOST PALU — Semangat literasi kini menyapa pesisir Saongu Lara, Palu, Sulawesi Tengah, melalui kehadiran Perpustakaan Mini untuk Anak Pesisir.
Sebuah inisiatif sosial yang bertujuan membuka akses bacaan bagi anak-anak di wilayah tepi laut.
Program ini hadir sebagai jawaban atas keterbatasan fasilitas pendidikan dan minimnya akses buku bacaan yang layak di daerah pesisir.
Keterbatasan bukanlah alasan untuk berhenti bermimpi.
Berangkat dari kepedulian terhadap kondisi pendidikan anak-anak pesisir, Mustika Sari, selaku Ketua Perkumpulan Nelayan Saongu Lara menginisiasi pembangunan perpustakaan mini anak pesisir sebagai ruang belajar yang layak.
Memberikan ruang yang nyaman dan terbuka bagi mereka yang selama ini memiliki akses terbatas terhadap bahan bacaan dan fasilitas pendidikan.
Anak-anak pesisir tumbuh dilingkungan yang penuh tantangan. Sebagian besar orang tua mereka berprofesi sebagai nelayan dan buruh kasar dengan penghasilan yang tidak menentu.
Kondisi ini berdampak pada minimnya akses buku bacaan, ruang belajar yang memadai, dan sarana pendukung pendidikan lainnya.
Melalui program ini, Mustika ingin menghadirkan ruang baca sederhana namun nyaman.
-Koleksi buku anak, buku pelajaran dan buku pengetahuan umum.
-Kegiatan literasi rutin seperti membaca bersama, diskusi dan kelas inspirasi.
-Pendampingan belajar bagi anak-anak pesisir.
Di wilayah pesisir seperti disekitar Tondo dan Kawasan Teluk Palu, akses terhadap bahan bacaan masih sangat terbatas.
Padahal, literasi adalah fondasi utama dalam pembangunan generasi yang tangguh dan mandiri.
“Jujur, saya sedih melihat kondisi anak-anak disini. Anak-anak banyak menghabiskan waktu bermain di pantai sampai berjam-jam,” ungkap Mustika pada Selasa, (24/02/2026).
“Setiap saya ajak ngobrol, buku apa aja yang sudah mereka koleksi, mereka baca? Namun jawabannya miris, hampir tidak punya buku bacaan,” ungkapnya.
Mustika juga mengungkapkan, untuk sedikit mengatasi masalah ini, ia mengajak anak-anak pesisir untuk bergabung di kelas belajar Bahasa Inggris yang ia inisiasi sejak tahun lalu.
Kelas ini bertujuan untuk anak-anak dan tidak dipungut biaya.
Namun kedepan, Mustika ingin menghadirkan perpustakaan mini buat mereka.
“Saya bahagia, saat ke pantai mereka tidak hanya datang untuk bermain air, tapi juga antusias membaca buku di tepi pantai. Saya percaya perubahan besar dimulai dari langkah kecil,” tuturnya.
Perpustakaan mini ini tidak hanya menjadi tempat membaca, tetapi juga menjadi ruang aman bagi anak-anak untuk berkumpul, berdiskusi, dan bermimpi tentang masa depan mereka.
Dengan semangat gotong royong, pembangunan dan pengadaan buku dilakukan melalui donasi masyarakat dan dukungan para relawan.
“Melalui buku ini, anak-anak pesisir bisa melihat dunia yang lebih luas. Kami ingin mereka tahu bahwa mimpi mereka tidak terbatas oleh garis pantai,” jelas Mustika.
BACA JUGA:
Bupati Solok Jon Firman Pandu Dorong Akreditasi Perpustakaan, Tingkatkan Budaya Literasi
Perpustakaan mini bukan hanya sekedar tempat menyimpan buku, tetapi ruang harapan. Namun keterbatasan anggaran menjadi tantangan utama dalam merealisasikan program ini.
Oleh karena itu, Mustika bersama jajarannya membuka ruang kolaborasi dan dukungan dari berbagai pihak, baik individu, komunitas, dunia usaha, maupun pemerintah.
“Setiap buku yang disumbangkan adalah satu cahaya baru bagi masa depan anak pesisir. Setiap dukungan adalah investasi bagi generasi penerus bangsa,” tutupnya.
(M. Fazar Sutiono)
