NKRI POST

BERITA SEPUTAR NKRI

SELAMAT DATANG DI NKRI POST
TERIMA KASIH TELAH MENGUNJUNGI KAMI
SAMPAI JUMPA LAGI

Yasaba Foundation, Pusat Rehabilitasi LGBT dan Konseling Umat di Kota Padang Sumatera Barat

BAGIKAN :
Masjid Al-Hakim

NKRIPOST, PADANG – Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender atau yang biasa disebut LGBT, saat ini benar-benar menjadi wabah global yang mengkhawatirkan masyarakat. Dunia dibuat terperangah setelah Amerika Serikat secara resmi mengesahkan perkawinan sesama jenis pada pertengahan tahun 2015, tepatnya Sabtu 27 Juni 2015.

Saat itu Wakil Presiden Amerika Serikat Joe Biden yang sekarang ini menjabat sebagai Presiden Amerika ke-46 secara terbuka mengakui peran tokoh-tokoh Yahudi dalam mengubah persepsi bangsa Amerika tentang LGBT. Maka jadilah Amerika Serikat sebagai negara ke-21 yang secara resmi mengesahkan perkawinan sesama jenis.

Indonesia sebagai negara muslim terbesar tidak lepas dari tantangan global berupa LGBT ini. Pada tahun 2006 di Yogyakarta secara resmi dideklarasikan piagam Hak Asasi Manusia bertajuk The Yogyakarta Principles oleh tokoh-tokoh Hak Asasi Manusia dunia. Isi dari piagam tersebut menyerukan diakhirinya diskriminasi atas dasar gender dan orientasi seksual. Piagam ini telah menjadi pedoman bagi gerakan aktivis LGBT seluruh dunia sebagai kampanye legalisasi LGBT di Indonesia.

Atas dasar Hak Asasi Manusia (sekular) pun terus bergema ke mana-mana dan dukungan negara dari lembaga donor asing dilakukan secara terang-terangan.

Terlebih lagi adanya tokoh lesbian internasional, Irshad Manji yang sempat dihadirkan di Indonesia untuk mempromosikan pemikiran LGBT ini. Kaum LGBT didorong secara terbuka untuk mempertontonkan diri tanpa rasa malu lagi.

Melihat peristiwa yang sangat memprihatinkan ini, pada tahun 2019, mantan Wakil Gubernur Sumatera Barat periode (2015-2020) pernah mengatakan bahwa jumlah LGBT di Sumatera Barat saat itu merupakan yang terbanyak di Indonesia.

Berdasarkan data hasil tim konselor penelitian perkembangan penyakit Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan Acquired Immuno Deficiency Syndrome (AIDS), angka LGBT di Sumbar tercatat 18.000 orang. Sumbar berada pada tingkat pertama kasus LGBT.

Pada tahun 2021 tepatnya tanggal 26 April 2021, berdirilah sebuah yayasan sebagai pusat rehabilitasi LGBT dan konseling umat di Kota Padang Sumatera Barat yang beralamat di Jalan Samudera, Kelurahan Berok Nipah, Kota Padang, Sumatera Barat.

Yayasan ini dinamai Yayasan Amal Saleh Anak Bangsa (Yasaba Foundation) yang diprakarsai oleh Etriyel MYH, Iskandar, Masrul Basyar dan Solsafat.

Adapun visinya adalah pembinaan umat yang terdampak LGBT dan deviasi seksual lainnya. Sedangkan misinya adalah layanan kuratif kasus LGBT dengan metode konseling dan pembinaan aqidah umat.

Registrasi bisa dilakukan via WhatsApp hari Senin s/d Sabtu pukul 10.00 – 16.00 Wib.

Tempat dan waktu konseling disesuaikan dengan perjanjian dan bersifat rahasia.

Adapun tim rehabilitasi dan konseling di Yasaba ini antara lain terdiri dari dokter spesialis, psikolog, dan ustadz/ah.

Berdirinya Yasaba di kota Padang ternyata juga mendapatkan perhatian dari mantan Walikota Padang yang saat ini menjabat sebagai gubernur Sumatera Barat, Buya Mahyeldi yang akrab dipanggil warga.

Berdasarkan informasi yang didapat NKRI Post Padang bersama salah satu pendiri sekaligus sekretaris Yasaba bapak Masrul Basyar mengatakan bahwa,” Kami bertemu pertama kali dengan pak Mahyeldi sewaktu masih menjabat Walikota Padang di rumah dinas beliau pada tanggal 2 Februari 2021 yaitu satu bulan sebelum dilantik jadi gubernur Sumbar. Buya Mahyeldi sangat gembira dan berjanji membantu kegiatan Yasaba”.

Sementara itu, Dr. Adian seorang penulis yang telah meraih gelar doktor dalam bidang peradapan Islam di Internasional Institute of Islami Though and Civilization Malaysia (ISTAC-IIUM) dalam bukunya LGBT di Indonesia Perkembangan dan Solusinya menjelaskan tentang makna dari adil dan beradab yang termasuk dalam Pancasila, yaitu sila kedua. Sebab, sila kedua yang berbunyi,” Kemanusiaan yang adil dan beradab”, banyak disalah gunakan oleh para pegiat LGBT. Dengan menyuarakan Indonesia tanpa diskriminasi. Mereka menginginkan adanya keadilan agar hak setiap orang dihormati, termasuk hak menjadi pegiat LGBT.

Dr. Adian menjelaskan tentang peristiwa dalam usaha legalisasi perkawinan LGBT di Indonesia pada 2006, yaitu berkumpulnya pakar-pakar Hak Asasi Manusia di kita Yogyakarta yang menghasilkan sebuah piagam Hak Asasi Manusia bertajuk ” The Yogyakarta Principle”. Piagam inilah yang kemudian dijadikan dalil oleh para pegiat LGBT. Sehingga mereka merasa memiliki kebebasan dan menerjang segala yang menghalanginya termasuk agama Islam. Pada akhirnya mereka meliberalisasi tafsir Al Quran yang dianggap telah menghalangi dan mendiskriminasikan LGBT.

Berbagai kalangan aktivis LGBT semakin gencar menyuarakan kebebasan LGBT. Mereka menganggap LGBT merupakan perilaku yang normal, sehingga tanpa rasa malu mereka mempertontonkan perbuatan yang hakikatnya merupakan perbuatan mungkar.

Istilah LGBT mulai muncul kurang lebih tahun 1990-an dan awalnya digunakan untuk menggantikan istilah ‘komunitas gay’ yang ada saat itu.

Sejak ditemukan istilah LGBT maka komunitas ini tidak hanya mewakili gay saja, tetapi juga lesbian, biseksual, dan juga transgender.

Menurut pengertiannya sendiri, gay adalah sebutan untuk pria dengan oroentasi seks pada sesama jenis. Lesbian adalah sebutan untuk wanita yang memiliki orientasi seks terhadap wanita. Biseksual adalah sebutan untuk individu yang orientasi seksnya bisa pada pria dan bisa juga pada wanita. Sedangkan transgender adalah istilah untuk individu yang identitas gendernya berbeda dengan jenis kelaminnya ketika lahir.

LGBT memiliki lambangnya sendiri yaitu pelangi. Lambang ini dipilih karena identik dengan pergerakan zaman baru.

NKRI Post Padang melaporkan.

Diterbitkan Pada Agustus 28, 2021 by NKRI POST

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Open chat
Untuk Informasi Silahkan Hubungi Kami
Untuk Informasi Seputar NKRIpost Bisa Hubungi Kami
%d blogger menyukai ini: