SELAMAT DATANG DI NKRI POST
TERIMA KASIH TELAH MENGUNJUNGI KAMI
SAMPAI JUMPA LAGI
oleh

Angka Kekerasan Seksual Terhadap Perempuan dan Anak di TTS Yang Semakin Meningkat, Ini Kata Pemda

Nkripost, SoE/TTS – Menanggapi terjadinya Angka Kekerasan Seksual Terhadap Perempuan dan anak di TTS pada Tahun 2020 sangat tinggi,Yayasan Sanggar Suara Perempuan (SSP) mengadakan Coffee morning bersama Forkopinda dengan mengusung tema: “Prioritaskan Perlindungan dan Keadilan Bagi Korban Kekerasan Seksual”. Kegiatan tersebut berlangsung di Beta Punk Cafe Kecamatan Kota Soe Kabupaten Timor Tengah Selatan NTT pada, Kamis (10/12/2020).

Hadir dalam Forum tersebut Bupati TTS, Ketua Pengadilan Negeri Soe, Kapolres, Dandim 1621 TTS, ketua DPRD, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan dan beberapa unsur lainnya.

Ketua Yayasan Sanggar Suara Perempuan Kabupaten TTS, Rambu Atanau-Mella dalam tuturnya pada saat Coffe Morning Bersama Forkopinda mengatakan bahwa, kekerasan seksual terhadap anak dan perempuan di Kabupaten TTS semakin memprihatinkan. Karena hampir setiap saat terjadi kekerasan, baik kekerasan dalam bentuk fisik, psikis, ekonomi maupun kekerasan seksual.

Ia juga menjelaskan bahwa dalam rilis YSSP SoE angka kekerasan terhadap perempuan dan anak di kabupaten TTS tahun 2020 meningkat 49 persen dari tahun sebelumnya. untuk kasus kekerasan seks terhadap perempuan dan anak semakin memprihatinkan di kabupaten TTS.

Dari tahun 2016 sampai tahun 2020 jumlah kasus yang didampingi YSSP terus bertambah. Tahun 2016 ada 55 kasus kekerasan seks yang didampingi, 2017 ada 66 kasus, tahun 2018 ada 68 kasus, tahun 2019 asa 68 kasus dan per November 2020 ada 70 kasus sehingga total kasus kekerasan seks yang didampingi YSSP SoE mencapai 327 kasus dari 642 kasus dampingan YSSP dalam lima tahun terakhir.

Korban kekerasan seks kebanyakan berpendidikan SMA (43 kasus), berpendidikan SD 32 kasus, SMP 24 kasus, Mahasiswa 14 kasus dan tidak sekolah 12 kasus. Sementara pelakunya paling banyak juga berpendidikan SMA (40 orang), SD 33, SLTP ada 28 orang, pelaku yang tidak bersekolah 13 orang dan berpendidikan tinggi ada 8 orang.

Sebaran kasus terbanyak terjadi di wilayah kota SoE, 22 kasus, disusul Amanuban barat 14 kasus, Molo selatan 9 kasus, Molo Utara 8 kasus, Molo barat dan Amanatun Selatan masing-masing 7 kasus, Kualin dan Kolbano masing-masing 6 kasus, Amanuban tengah dan Molo tengah masing-masing 5 kasus, Noebeba-Tobu-Kuatnana dan amanuban selatan masing-masing 4 kasus , Panite dan batu putih masing-masing 3 kasus dan kecamatan Nunkolo, Fatumnasi, Kuanfatu, Kotoko. Dan Nunbena masing-masing 2 kasus

Dalam pertemua tersebut Bupati Timor Tengah Selatan (TTS), Egusem Piether Tahun,ST,MM mengatakan bahwa,pemerintah daerah telah berkomitmen untuk menekan angka kekerasan terhadap perempuan dan anak di daerah.

Komitmen telah dilakukan melalui sejumlah program pembangunan daerah yang berkaitan dengan penanganan masalah kemiskinan, serta melalui program sejumlah Organisasi Perangkat Daerah (OPD). Kemiskinan dikatakan sangat berkaitan erat dengan kekerasan terhadap perempuan dan anak termasuk kekerasan seksual. Ucap Bupati

Lanjutanya bahwa pihaknya juga telah merencanakan untuk pengadaan tenaga psikologi dalam formasi penerimaan CPNSD tahun depan ini,dan juga menyampaikan agar ada kerjasama antara dinas P3A kabupaten TTS, YSSP dan Radio Siaran Pemerintah Daerah (RSPD) SoE untuk menyiapkan jadwal siaran khusus untuk sosialisasi terkait penanganan masalah kekerasan terhadap perempuan dan anak.jelasnya

Dalam pertemuan ini, Kapolres TTS AKBP Andre Librian S.I.K mengatakan bahwa, penyebab terjadinya kekerasan seksual karena pelaku dipengaruhi oleh minuman keras, yang mana setelah di telusuri bahwa minuman keras sudah menjadi tradisi masyarakat TTS.

Masih pantauan Wartawan Kepala Dinas pendidikan dan Kebudayaan Drs.Seperius E.Sipa M.Si. mengatakan bahwa, banyak kasus kekerasan seksual juga yang di lakukan oleh guru,sehingga ia berharpa apabila ada guru yang melakukan tindakan kekerasan seksual terhadap anak maka perlu ditindk tegas dan tidak perlu diselesaikan secara kekeluargaan.tegas Sipa

Tambanya bahwa,Jika anak sekolah atau siswa yang mengalami kekerasan seksual atau kekerasan fisik, maka siswa tersebut tetap diharuskan untuk bersekolah atau melanjutkan studinya sepanjang yang bersangkutan mau untuk bersekolah.jelasnya

Selain itu,Ketua DPRD TTS ,Marcu Buana Mbau S. E. Menjelaskan, data yang disajikan oleh Yayasan SSP bahwa yang melakukan kekerasan adalah kebanyakan orang terdekatnya korban.

Oleh karena itu ini menjadi PR buat kita semua agar dapat mengatasi para pelaku. sehinggap Ia juga berharap kepada P3A dan SSP untuk melibatkan DPRD dalam pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kabupaten Timor Tengah Selatan. Ujarnya

Rhey Natonis

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *